
"Saya rasa di balik masalah antara Tuan dan nyonya Debora pasti ada sesuatu yang baik. Buktinya sekarang Anda bertemu dengan nona Zuri dan nyonya Abigail."
"Aku juga berpikir begitu, Mike. Apapun yang terjadi ke depannya aku harus menjalin hubungan dengan Zuri dan Abigail. Aku harus masuk dalam kehidupan mereka."
"Seandainya tuan Billy tahu nyonya Abigail mantan kekasih Tuan, bagaimana?"
Ekspresiku berubah. "Itu dia yang aku pikirkan, Mike. Billy pasti akan sedih jika tahu mama dari kekasihnya pernah menjalin hubungan asmara denganku. Apalagi sebentar lagi status pernikahanku akan berubah. Billy pasti akan mengalah demi aku."
Mike diam tak bicara.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Mike. Aku akan bicara dengan Abigail nanti soal itu. Aku dan Abigail akan merahasiakan hubungan asmara kami dari Billy maupun Zuri. Hanya itu satu-satunya cara agar hubungan kami semua tetap terjalin. Billy dan Zuri tetap berpacaran, sedangkan aku bisa mendekati Abigail."
Kulirik jam tangan sudah sore. Aku pun segera menyudahi pekerjaan kemudian pulang. Aku harus bersiap-siap untuk nanti malam. Abigail orang yang tepat waktu. Jadi, aku tidak akan membuatnya menunggu. Terlebih sudah dua puluhan tahun aku tidak melihatnya setelah kejadian malam itu. Aku tak sabar lagi ingin bertemu dengannya.
***
Seperti yang sudah aku katakan kepada Zuri sebelumnya, bahwa Zuri harus mengarahkan Abigail ke restoran Bebbi. Restoran Bebbi adalah tempat paling terkenal di kota ini dan paling besar. Menu makanan yang sangat enak dan suasana yang terbuka membuat restoran itu sangat mewah.
Abigail tidak pernah mau setiap kali aku mengajaknya ke restoran Bebbi saat kami masih berpacaran dulu. Aku bisa membayangkan bagaimana reaksi Abigail jika tahu Zuri membawanya ke restoran itu. Abigail pasti akan marah tak henti-hentinya.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel mengejutkanku. Saat ini aku baru saja tiba di parkiran restoran Bebbi. Kulihat nama Zuri sebagai pemanggil. "Halo, Sayang?"
"Pa, aku sudah mengantarkan mama di restoran Bebbi, Pa. Mama sudah masuk lima menit yang lalu. Sebaiknya Papa segera masuk sebelum mama pulang."
Aku menahan tawa. "Pulang, kenapa?"
"Mama tidak suka restoran itu, Pa. Aku lupa bilang ke Papa, kalau mamaku tidak suka restoran mewah. Tadi saja mama marah-marah padaku. Kata mama lain kali bilang sama bosmu jangan seenaknya memilih tempat makan."
Sudah kuduga itu akan terjadi. Aku tertawa. "Papa minta maaf. Ya sudah, papa masuk dulu biar mamamu tidak menunggu lama."
"Oke, Pa. Semoga sukses, ya."
Baru saja ingin membalas Zuri langsung memutuskan panggilannya. "Dasar anak-anak."
Tak mau wanita pujaanku menunggu aku segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Pakaian yang kupakai adalah kemeja hitam dan celana jins. Aku yakin, Abigail pasti akan mengenakan terusan hitam yang sederhana tapi elegan.
"Selamat malam, Pak. Bisa saya bantu?" sapa pelayan begitu aku memasuki restoran.
"Malam. Aku sudah memesan tempat atas nama Abigail Oliver."
"Oh, iya. Mari silahkan ikut saya."
__ADS_1
Aku mengekor di belakang pelayan lekaki itu. "Maaf, bisa Anda tunjukkan saja tempatnya di mana? Aku tidak ingin orang yang menunggu di tempat itu melihatku."
"Tentu saja, Pak."
Pelayan itu mengajakku berjalan berapa langkah kemudian berhenti. "Kursi Anda di sana, Pak."
Kulihat Abigail sudah menunggu di sana. Untung saja Abigail membelakangiku, jika tidak dia pasti akan melihatku.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Pak."
Sebelumnya aku sudah mengirimkan meja yang dipesankan Mike kepada Zuri. Aku juga sengaja memesan tempat menggunakan nama Abigail agar wanita itu tidak tahu, bahwa akulah orang yang akan bertemu dengannya. Melihat kecantikan Abigail dari kejauhan membuatku tak sabar lagi menyapanya.
Kudekati meja di ujung restoran di mana Abigail sedang duduk gelisah. Kegelisahan itu pasti karena tidak nyaman. Semoga saja dengan melihatku kegelisahan itu akan hilang.
"Abigail?"
Abigail sangat terkejut. "Jack ...."
"Sedang apa kamu di sini?" tanyaku lembut.
"Aku sedang ada janji dengan klien."
"Kamu sendiri sedang apa di sini? Bukankah kamu tidak suka makan di restoran ini?"
Aku dan Abigail memiliki kesamaan. Kami sama-sama tidak menyukai restoran Bebbi karena satu alasan. Aku tidak menyukai makanannya, sedangkan Abigail tidak menyukai suasananya. Dari suasana sebenarnya restoran Bebbi sangat nyaman, tapi letaknya di tengah-tengah keramaian yang membuat Abigail tidak nyaman.
Aku tersenyum sayang. Ingin rasanya aku memeluk wanita yang sangat kurindukan. Seandainya bukan di tempat umum, aku pasti sudah memeluk Abigail.
"Aku baru selesai meeting dengan klien. Begitu melihatmu aku langsung ke sini."
Abigail terdiam. "Apa kabarmu?"
"Sangat buruk."
"Kelihatannya tidak seperti itu," jawab Abigail sambil tersenyum. Senyum yang selalu aku suka dan kurindukan sejak lama. Gerakan Abigail terlihat gelisah. Kepalanya ke sana-ke mari seperti mencari sesuatu.
"Sepertinya aku mengganggumu. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Tidak Jack, kamu tidak mengganggu sama sekali."
Posisi aku dan Abigail sama-sama berdiri. "Kamu terlihat gelisah, Abigail. Duduklah."
__ADS_1
Abigail menurut. Aku juga duduk di depannya. Setelah duduk kami saling bertatapan. Tatapan yang memancarkan kerinduan yang dalam. Aku yakin Abigail sangat merindukanku, begitu juga denganku.
"Jika kamu butuh seseorang untuk berbagi masalah," kataku saat Abigail mengalihkan pandangan terlebih dahulu, "Aku siap mendengar semuanya."
Abigail menatapku. "Aku tidak ada masalah, Jack."
"Jangan bohong, Abigail. Matamu tidak bisa berbohong. Aku tahu kamu pasti merindukanku, kan?"
Abigail berdecak. "Aku memang merindukanmu. Tapi sebagai kawan lama, bukan sebagai mantan pacar."
Aku menunduk menahan tawa. "Ngomong-ngomong kapan kamu tiba di sini?"
"Kemarin. Aku hanya beberapa hari di sini kemudian kembali lagi," kata Abigail dengan nada santai, "Bagaimana kabar istrimu?"
"Aku tidak tahu," jawabku santai.
Abigail terkejut. "Suami macam kamu ini. Masa kabar istri sendiri tidak tahu."
Tepat di saat itu pelayan pria datang. "Nyonya Abigail Oliver?"
"Iya, saya sendiri," jawab Abigail kemudian menatapku. Dari ekspresi itu sepertinya Abigail sedang bingung.
"Apa menunya akan segera dihidangkan sekarang?"
"Tapi ...," Abigail menatapku, "aku belum memesan apa-apa sejak tadi."
"Sesuai instruksi makanan akan disiapkan setelah Anda tiba."
"Bukan saya yang memesan meja ini. Seseorang telah memesannya untu saya. Jadi, tidak mungkin saya akan makan, sedangkan orangnya belum datang."
"Maafkan saya, Nyonya."
"Saya akan memanggil kalian kalau orangnya sudah datang."
"Baik, Nyonya."
Aku berpura-pura tidak tahu. "Ada apa?"
Abigail menarik napas panjang kemudian berkata, "Orang yang akan bertemu dengankan telah memesankan restoran ini atas namaku, tapi sampai sekarang orangnya belum datang."
"Coba dihubungi. Siapa tahu terjadi sesuatu di jalan yang membuatnya terlambat."
"Masalahnya aku tidak punya kontak orang itu, Jack."
__ADS_1
Bersambung____