
Matahari masih malu malu menampakan sinar nya terdengar bunyi alarm berulang ulanh dari hp adriana, "yaampun aku kasiangan," gumam ana, tanpa aba aba dia lari ke kamar mandi sudah seperti kejuaraan lari maraton.
Ana sudah bersiap untuk berangkat bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di kota itu, suatu keberuntungan ana bisa di terima bekerja disana, mengingat seleksi untuk bisa bekerja di sana sangatlah susah, tapi dengan kepintaran ana dia bisa di terima tanpa hambatan.
Ana tampak sibuk bemain dengan gadget nya untuk memesan ojek online, tidak butuh waktu lama babang ojek pun datang,
"selamat pagi pak," sapa ana dengan ceria
pak anter saya ke rumah sakit X ya
"baiklan non," jawab driver ojek tersebut
ana memecah suasana sepi dengan bertanya pada driver, "pak dari jam berapa udah keliling?
"udah dri jam 5 pagi non,"
"wah pagi banget ya pak," ana menjawab,
"kira kira sehari dapet berapa pak?" ana tampak kepo, babang ojek hanya tersenyum terlihat di pantulan sepion.
"Pak kalo sehari dapetnya banyak saya mau ikut jadi driver yah?"
"jangan non nanti saya sedikit dapet orderan soalnya driver nya tambah banyak,"
"haha ana tertawa," akhirnya sampai di tempat tujuan ana, "makasi ya pak," ana menyerahkan ongkos ojek pada driver
"nok kembalian nya," "untuk bapak aja makasi ya udah anterin saya dengan senyum cerah."
"Selamat pagi," sapa ana pada teman teman nya yang masih sibuk menangani pasien,
ana hari ini tugas shif pagi jadi teman yang dapat giliran jaga tadi malem sudah bisa pulang, "km berangkat jam berapa? kok jam segini baru sampai, ini sudah telat 15 menit," gumam kiara.
Hubungan mereka memang tidak terlalu akrab, "iiaa maaf maaf aku tadi bangun kesiangan ya sudah kamu pulang aja sana biar aku yang melanjutkan,"
__ADS_1
heiiii maimunahh kamu juga sering telat kaliiii , pake nyalahin orang lagi
kesal ana dalam hati.
Saat itu kiara sedang menangani pasien babak belur setelah jatuh dari motor, ada beberapa yang harus di jahit karena ada luka robekan, memang si kiara ini suka semena mena sesama teman nya, mungkin dia merasa kalau dia calon menantu dari seorang direktur Rumah sakit tempatnya bekerja.
"Nih lanjutin aku mau pulang," melengos begitu saja, "ya ya kamu ratu nya dan aku hanya remahan rengginan di dalam toples kong guan," gumam gumam kecil ana sambil trsenyum kecut, saat itu kiara sudah pergi jauh.
Hari ini sangat sibuk, IGD hari ini sangat tidak bersahabat dengan ana pasien tidak ada jeda terus datang bergantian, untuk makan siang pun ana tidak bisa lama lama.
Tiba tiba hape ana berdering terlihat di layar 'sayang' ana menjawab telpon dengan senyum sumringah setelah 1 bulan akhirnya dia mendapat kabar dari seorang yang spesial di hati nya, terdengar di seberang "ana hari ini bisa kita ketemu jam 7 malam di kafe xx," dengan antusias ana menjawab
"bisa".
Baru mau melanjutkan kata kata nya, telepon sudah di akhiri dengan bunyi tut tut tut, ana menghela nafas
"huh mungkin dia sibuk gumam nya.
Seketika lamunan ana buyar mendengar teriakan mia,
"apa sih mi?? bikin orang kaget aja," "ngapain ngelamun siang bolong gini,nanti ayam mu mati lho,"
"yah aku kan gak pelihara ayam biarin aja haha," ana nyaut sambil tertawa kaku
"mi adit nanti ngajak ketemuan,"
"lah bagus dong, kan kalian sudah sebulan gak ketemu,"
"tapi sperti ada yang aneh dengan dia, gak seperti biasanya, seperti ada yang di sembunyikan," jawab ana
"bukanya si kutu buku itu memang aneh ya?? kamu aja yang gak sadar dari dulu hahaha," mia tertawa lepas.
Aditya adalah pacar ana seorang dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis bedah, bibit bebet bobot nya pun bisa di bilang sangat unggul( jiaahh unggul udah kayak bibit jagung aja haha), ayah nya seorang direktur Rumah Sakit A, sedangkan ibu nya seorang sosialita kelas atas,
__ADS_1
"ahh udh ya, aku mau pulang dulu mau siap siap ketemu pujaan hati," pamer ana
" ya ya silakan nona , kasian kamu udah jablay sebulan," mia menimpali.
Obrolan mereka pun berakhir, ana berjalan kaluar ruang IGD untuk segera pulang
sampai di kos ana manjatuhkan badan nya di kasur tanda sangat lelah melewati hari ini, dan dia pun tertidur.
Di tempat lain ada Bhumi Anggara pemilik dari Tambang Jaya company berbasis perusahaan tambang tapi sudah memiliki banyak anak perusahaan dari berbagai bidang, ya udah sih gak perlu di sebutin semua nanti bisa penuh cuma jabarin itu aja, haha.
"Apa!!!!!
bhumi terdengar menghardik anak buah nya,
"Aku akan berikan kau kesempatan sekali lagi kalau tidak jangan harap kau selamat dari dunia ini,"
"bbb-baik pak, maafkan saya, saya akan berusaha membereskan nya,"
"tidak ada kata gagal, aku tunggu sampai nanti malam," bhumi menekankan lagi.
Anak buah nya hanya terduduk lemas tidak bisa menjawab apa, di sisi lain ada sekertaris bhumi yang bernama Roby, penampakan Roby ini kalem, ramah, pintar, cekatan, tp berdarah dingin,
"rob awasi dia, kalau saja nanti malam urusan nya tidak beres, bereskan saja dia,"
kata kata bhumi masih di penuhi emosi.
"Baik pak," roby menjawab dengan senyum tipis.
Bhumi Anggara adalah satu satu nya pewaris perusahaan, dia anak semata wayang, kadua orang tuanya sudah meninggal kecelakaan ketika bhumi masih kecil, bhumi dibesarkan oleh nenek nya, itulah sebab nya bhumi menjadi sosok yang dingin.
Dari kecil bhumi memang sudah susah bergaul dengan orang luar, cuma beberapa orang saja yang bisa berteman dengan nya, dia selalu menutup diri dengan orang di sekitarnya.
Bersambung ...
__ADS_1