
Pagi ini, pagi yang masih sperti biasa, mau nya sih biar istimewa, apalah daya Ana hanya seorang jomblo. Ana memulai hari nya dengan senyum di bibir nya yang sexy, mengucapkan selamat pagi pada rekan se tim nya pagi ini.
Ana sudah berangsur lebih baik dari hari hari kemarin, mood nya pun sudah kembali seperti dulu. Apa karena sudah cukup lama berlalu di tambah kejadian itu sengaja di lupakan oleh Ana.
"An kamu hari ini jaga di ruang VVIP ya, soanya dokter yang jaga di sana sedang ijin sakit," Mia mengingatkan Ana.
"Untuk hari ini aja kan Mi?, aku malas harus senyum terus mengahadapi pasien VVIP."
Di tambah kadang ada pasien laki-laki yang sengaja mencari perhatian, gak ada yang sakit pun selalu mengaluh sakit.
"Ya ya hari ini aja, besok kalau dokter yang jaga di sana masih sakit biar aku yang jaga," Mia meyakinkan Ana.
Ana cukup sibuk hari ini mengatasi pasien yang tidak terlalu darurat malahan bisa di bilang dengan keadaan baik tapi dengan keluhan terlalu berlebihan.
Sial kenapa orang-orang ini terlalu mendramatisir keadaan, semacam sinetron azab aja luka di tangan tapi perban di kepala haha.
Ana paling suka menangani pasien anak, karena cita-cita Ana ingin menjadi seorang dokter spesialis Anak.
"Halo sayang," Ana menyapa balita perempuan cantik itu.
"Dok pasien hari ini rencana boleh pulang, sudah mendapat intruksi dari dokter spesialis anak."
Hari itu Ana hanya menjadi dokter pengganti jadi dia bertugas visite pasien yang akan pulang atau apabila ada keluhan dari pasien yang masih di rawat.
"Ibu hari ini ameera(nama balita) sudah bisa pulang ya, semua juga sudah normal, tidak ada panas atau sesak, nanti ibu di rumah juga harus tetap mengawasi ya, kalau ada apa-apa segera bawa ke Rumah sakit".
"Ibu dari anak itu mengangguk menandakan mengerti, tak lupa mengucapkan terimakasi pada Ana.
"Ada lagi pasien yang harus saya visite?" Ana bertanya pada perawat jaga, " "ada dok pasien mengeluh panas masuk kemarin tapi hari ini sudah tidak ada keluhan."
Sambil masih mengobrol dengan perawat yang menemaninya Ana membuka pintu,
melihat pasien tidak ada di tempat tidur, perawat pun dengan sigap mengetuk pintu kamar mandi, dan benar saja berada di kamar mandi, lumayan lama Ana menunggu sekitar 15 menit.
Perawat jaga sudah mulai gusar, mengetuk pintu kamar mandi lagi meyakinkan agar pasien itu keluar terlebih dahulu.
Untung saja Ana tipe orang sabar dan baik hati, jadi dia memaklumi semua ini.
Akhirnya yang di tunggu-tunggu keluar juga, perawat mengintruksikan pasien tiduran karena akan di periksa dokter.
Ana mendekat, tanpa memperhatikan wajah pasien karena sudah sedikit dongkol di buatnya.
"Ratu," pasien itu sepertinya memanggil Ana.
Ana menoleh melihat wajah pasien itu.
__ADS_1
"Ratu kan? ingat gak? kita satu pesawat beberapa minggu lalu,"
"Ohh iiiaa juna, apa kabar?" iiaa nama nya juna tp bukan chef juna haha. Ana kali ini terlihat antusias, kesel nya hilang begitu saja melihat wajah tampan di depan nya.
"Jadi kamu dokter di Rumah sakit ini? wah kalo tau dokter di sini secantik kamu aku bakal sering datang nih pura-pura sakit."
"Ahh bisa aja km nih," oh ya kamu hari ini sudah bisa pulang ya, sudah tidak ada keluhan lagi kan? apa ada yang masih sakit?"
"Ada, disini," Juna menunjukan ke dada nya. Ana dengan sigap mengarahkan stetoskopnya ke dada Juna, Ana diam sejenak mengamati. Ana merasa tidak ada yang aneh, semua normal.
"Semua normal, detak jantung mu pun norma."
"Mungkin karena aq bertemu dengan mu jadi jantungku sepertinya mau copot."
Ana terlihat senyum tipis
"Aku minta nomer Hp mu boleh?"
Ana gelagapan menjawab permintaan Juna, Juna memberikan Hp nya ke Ana dan mengetik nomer di sana.
"Hari ini kamu udah bisa pulang ya, maaf tidak bisa ngobrol banyak, pasien lain masih menunggu ku, bye Juna cepat sembuh ya," Ana mengucapkan kata-kata nya dengan sangat lembut.
"Semoga kita bisa bertemu lagi ya," teriak juna dan di balas senyum manis Ana.
Wah senyumnya manis sekali, sirup marjan aja kalah.
"Dok kenapa dia panggil dokter dengan nama ratu?" perawat penasaran karena nama lengkap Ana gak ada isi Ratu Ratu nya.
Ana tampak bingung menjawab pertnyaan perawat tadi, tapi dia hanya tersenyum tanpa memberikan alasan apapun.
Jam menunjukan pergantian shif, Ana bergegas pulang tak lupa berpamintan dengan perawat jaga. Ana memang dokter yang ramah dan sopan jadi banyak yang suka dan nyaman dengan Ana.
Ana berjalan menyusuri lorong menuju ke ruang IGD untuk mencari keberadaan Mia.
Di perjalanan langkah nya tehenti melihat kelakuan Kiara yang sedang berciuman dengan kekasihnya, Ana mengehala nafas dan melanjutkan langkah kaki nya.
Sial spertinya urat malu si mak lampir sudah putus.
Akhirnya Ana melihat sosok Mia yang masih sibuk menangani pasien.
"Mi belum selesai jg?"
"Masih nunggu hasil rontgen, abis ini kelar dah, ayo kita makan enak, aku cape banget jaga hari ini," rengek Mia
"Tapi kamu yang traktir yah?" Ana melempar senyum pada Mia,
__ADS_1
"Baiklah, gampang itu mah."
Mereka berdua berjalan meninggalkan ruang IGD menuju parkiran.
"Mobil baru Mi?" tanya Ana.
"Hehe iiiaa nih hadiah dari papa, kamu orang pertama yang aku ajak naik mobil ini."
"Wah aku jadi terharu sekaligus takut, jangan-jangan kamu suka sama aku yah?" sambil menutup bagian dada nya.
"Gila!!! aku masih suka batangan, sialan."
"Hahaha," Ana tertawa renyah.
Mobil sport keluaran terbaru membawa mereka ke sebuah kafe, Mia tampak memesan makanan favorit nya, Ana pun tak canggung memesan apa yang dia inginkan karena mereka memang tidak pernah ada batasan udah seperti saudara kandung.
Makanan pun datang, Mia yang sudah tak sabar mencomot satu persatu makanan tersebut penasaran dengan rasanya.
Ana yang menghirup aroma makanan merasa mual.
"hoek... hoek..., Mi aku ke toilet dulu yah."
Kenapa sih tuh anak, biasanya kalau makan nomer satu, apalagi geratisan.
Ana pun datang dari toilet, Ana merasa mual, dia berpikir mungkin asam lambung nya naik gara-gara telat makan.
"Kamu kenapa An?"
"mungkin maag ku kambuh, atau mungkin masuk angin, atau mungkin kecapekan."
"Kebanyakan mungkin nya ahh," Mia melanjukan melahap makanan di depan nya, dan di ikuti dengan Ana. Setelah makan Mia mengantar Ana sampai kos nya.
"Makasi ya Mi, sampai ketemu besok," Ana melambaikan tangan ke arah Mia.
Ana menyeret langkah nya, menuju kamar mandi, niat berendam apa daya kos ini gak ada bathtub nya, Ana hanya mengguyur badan nya dengan shower.
"Ahh rasanya segar sekali," Ana mengecek Hp nya, masih berharap adit meminta maaf dan ingin kembali padanya. Tapi yang ada hanya sms dari operator kalau quota Ana akan segera habis, sial.
Pesan WA masuk ke Hp Ana, Ana membiarkan nya. Ana pikir palingan chat grup SMP, atau SMA, atau Kuliah, atau mungkin saja grup Rumah sakit. Ana masih sibuk dengan laptop nya.
Ana iseng mengambil Hp nya, dan melihat ada nomer yang tidak di kenal nya,
"Hai Ratu aku Juna, save nomer ku yah," isi pesan itu, Ana tersenyum.
Ana membalas pesan juna, dengan penuh suka cita, tapi pesan ana tidak terkirim sial quota nya abis, kasian banget si Ana.
__ADS_1
Karena sudah malam, Ana memilih untuk tidur. Gagal deh chat'an sama babang tampan.
Bersambung...