
Bhumi memandang wajah Ana sambil merapikan anak rambut yang menghalangi wajah Ana. Tidur Ana begitu nyenyak sampai tidak sadar ada orang yang memain-mainka rambut nya dari tadi.
"Kenapa aku tidak bisa jauh dari mu? Padahal kita sebelumnya tidak saling kenal." Bhumi bergumam sendiri di depan wajah Ana.
"Siapa kamu sebenarnya?" Bhumi melanjutkan kata-kata nya.
Malihat Ana yang sudah tidak ada respon, Bhumi kemudian berpindah ke sofa merebahkan tubuhnya sampai akhirnya dia masuk ke alam bawah sadar.
"Selamat pagi." Bhumi menyapa Ana sambil memasang kancing kemejanya.
"Maaf aku telat bangun, apa kamu sudah sarapan." Ana segera turun dari tempat tidur.
"Ini di hotel bukan di rumah, jadi tidak perlu repot-repot." Bhumi memaklumi Ana yang pasti sangat lelah.
Tanpa perlu di suruh lagi, Ana menganbil dasi Bhumi dan melangkah mendakat ke arah Bhumi. Ana berjinjit membenahi leher kemeja Bhumi yang sedikit tidak rapi. Ana memasangkan dasi, mengabilkan jas untuk Bhumi. Yang biasanya Ana melakukan nya dengan terpaksa sekarang sudah dengan sepenuh hati.
"Cupp..." Bhumi mendaratkan kecupan di kening Ana.
Ana mengkerutkan dahi nya, kemudian mendongakkan kepalanya. Menatap tajam ke arah Bhumi, Ana sedikit bingung dengan perlakuan Bhumi. Tapi sepertinya belum ada tanda-tanda kalau Bhumi sembuh dari amnesia nya.
"Apa kamu mau yang lebih?" Bhumi mendekatkan hidung mancung nya ke arah Ana. Seketika Ana memundurkan wajah nya. Bhumi tersenyum melihat wajah Ana yang mulai memerah.
__ADS_1
"Sarapan mu ada di meja makan, setelah meeting aku akan menemui mu." Bhumi pergi meninggalkan Ana sendirian di kamar hotel.
Ana sedikit di buat bingung dengan perlakuan Bhumi belakangan ini. Ana memaksa otaknya bekerja mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Apa Ana harus memaafkan semua yang telah Bhumi lakukan saat bersama Angel. Ana semakin galau dengan perasaan nya sendiri.
Sendirian berada di kamar sebesar ini membuat Ana bosan, apalagi Ana tidak di ijinkan keluar oleh Bhumi. Waktu berjalan sangat lambat, Ana membuka galery ponsel nya melihat-lihat foto nya bersama Bhumi dahulu. Ana terkekeh melihat foto Bhumi yang setiap di foto tidak pernah tersenyum.
"Ngapain senyum-senyum sendiri." Ana mendengar suara Bhumi langsung menyembunyikan ponselnya.
"Bukanya kamu bilang tadi balik nya siang?" Ana menoleh ke arah Bhumi karena baru 3 jam Bhumi pergi sudah balik lagi.
"Ya urusan ku sudah selesai, kemasi barang-barang mu kita akan pulang."
Ana dengan segera mengemasi barang-barang nya. Karena kalau lama-lama dia bersama Bhumi berduaan seperti ini dia tidak yakin kalau Bhumi tidak melakukan hal-hal di luar nalar.
Kemana aja nih orang dari kemarin baru muncul sekarang.
Di perjalanan menuju bandara Ana hanya diam menikmati kota dengan segala kecanggihan nya. Tiba-tiba mobil berhenti di sebuah taman, Bhumi mengajak Ana turun. Ana sangat takjub di depan nya terlihat jembatan Brooklyn yang legendaris. Sering terlihat di film-film hollywood yang Ana tonton, akhirnya Ana bisa melihat nya langsung.
Ana dengan girang segera mengambil ponsel nya, memeberikan nya pada Roby untuk mengambil foto dengan latar Brooklyn Bridge. Ana sudah bersiap-siap dengan pose nya jepret beberapa kali.
"Sekali lagi." Bhumi mengambil posisi di samping Ana, sambil merangkul nya mesra.Tapi bukan hanya sekali, mereka berfoto beberapa kali sesuai permintaan Bhumi.
__ADS_1
Setelah puas berfoto, mereka melanjutkan perjalanan kembali. Ana yang sibuk melihat hasil foto nya di hp membuat Bhumi penasaran. Bhumi mengambil ponsel Ana secara tiba-tiba, dan ikut melihat-lihat foto yang ada di galeri Ana.
"Kembalikan." Ana mencoba merebut hp nya dari tangan Bhumi. Tapi tidak berhasil
tangan Bhumi terlalu panjang.
"Jangan bergerak kalau tidak akan ku buang hp mu." Bhumi terkekeh melihat Ana tidak berdaya akan ancaman nya.
Bhumi terlihat mengerutkan dahi nya melihat foto-foto di galeri Ana. Ana menelan saliva nya, takut Bhumi akan melihat foto mereka dulu. Bhumi masih sibuk mengegeser layar hp Ana berulang kali.
Tiba-tiba Bhumi mengembalikan hp Ana tanpa berkata satu patah kata pun. Dan kesunyian itu terus berlanjut, Bhumi yang biasanya jahil pada Ana sekarang tiba-tiba jadi pendiam.
Ana merasa takut terjadi sesuatu pada Bhumi, karena saat kecelakaan otaknya mengamalami kerusakan yang lumayan serius. Ana takut dampak yang di timbulkan akan lebih parah dari amnesia sebelumnya.
"Kamu kenapa?" Ana memberanikan diri bertanya pada Bhumi.
Bhumi masih diam, memandang jauh ke arah jendela sambil menopang dagu nya.
"Jangan terlalu di pikirkan, tidak semua yang kamu lihat itu benar hehe." Ana melanjutkan kata-kata nya sambil tertawa berharap Bhumi juga tertawa.
Bhumi memegang tangan Ana erat kemudian menyandarkan kepala nya di jok mobil. Dan Perlahan-lahan Bhumi memejamkan mata nya.
__ADS_1
Bersambung...