
"Kenapa lama sekali kamu membuka pintu." Mia terlihat kesal dengan ucapan menuntut.
"Ada apa malam-malam datang kesini?" Ana meninggalkan Mia yang masih mematung di depan pintu.
"Hai kakak ipar." Entah dari mana datang nya Drake muncul menggandeng tangan mungil Demian.
"Huh perasaan ku tiba-tiba tidak enak." Ana bergumam sambil menghela nafas nya.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" Bhumi menuruni tangga dengan nada kesal.
"Hai Bhumi." Mia melambaikan tangan, membuka senyum sangat lebar sampai deretan gigi nya semua terlihat. Namum tidak di balas dengan ramah oleh Bhumi.
"Begini Ana, aku dan Drake malam ini akan berangkat mengunjungi orang tua Drake, ibu nya tiba- tiba kena serangan jantung." Mia dengan sangat serius bebicara dengan Ana.
"Apa kalian mau meminjam jet pribadi?" Bhumi dengan santai menawarkan fasilitas mewah miliknya berharap kedua orang ini cepat pergi.
"Tidak tidak, tujuan ku kesini bukan itu." Mia tersenyum licik.
"Mi perasaan ku mulai tidak enak." Ana menoleh ke arah Bhumi.
"Ana sepertinya kamu sudah tau, aku akan menitipkan Demian pada kalian, hanya 1 minggu saja tidak lama kok. Aku tau kalian sangat menyukai anak kecil, jadi itung-itung latihan buat kalian berdua." Ujar Mia sangat antusias.
"Kenapa kalian tidak membawa Demian juga." Bhumi melotot kepada kedua suami istri itu merasa akan terganggu.
"Tidak mungkin aku membawanya Demian harus sekolah, dan dia juga senang bisa bersamamu Ana, bukankah begitu nak?" Mia tersenyum manis pada Demian.
"Drake kamu kan bisa meliburkan anak mu dari sekolah." Pekik Bhumi pada adik sepupunya itu.
"Maaf Bhumi aku gak mau anak ku jadi bodoh karena sering bolos sekolah." Seakan mereka berdua bekerja sama menghalkan segala cara.
"Sudah-sudah, huftt baiklah kalian bisa meninggalkan nya bersama kami." Ana masih tersenyum terlebih karena Demian yang sangat dia sayangi.
"Hanya 1 minggu awas saja kalian tidak menjemputnya, aku akan bawa dia ke panti asuhan." Bhumi melirik kesal ke arah Mia dan Drake.
"Bhumi!!!" Ana mencoba membuat Bhumi diam.
__ADS_1
"Sayang kamu jangan nakal ya selama mommy tinggal, jadi anak yang baik ya nak." Mia mengelus rambut putra nya dan menyerahkan 2 koper besar berisi keperluan Demian selama di titipkan di rumah Ana.
"Bye Ana, titip anak ku ya, bye Bhumi kamu pasti akan senang ada teman bermain haha."
Bhumi hanya menghela nafas merasa situasi akan tidak kondusif selama 1 minggu ini.
"Baiklah sayang, karena ini sudah malam jadi kamu harus segera tidur, tante antar ke kamar ya?" Ana menggandeng tangan kecil Demian, di ikuti Bhumi yang menjinjing koper milih keponakan nya itu.
"Demian ini kamar mu jadi sekarang kamu bisa istirahat ya." Ana duduk di pinggir kasur.
"Tapi tante, aku gak mau tidur sendiri aku takut." Demian memegang tangan Ana tidak membiarkan Ana pergi.
"Hahhh nyusahin nih." Bhumi secara spontan mengatakan itu karena kesal.
"Oke tante temenin ya, tapi untuk malam ini saja. Besok kamu harus berani tidur sendiri." Ana tersenyum dan menyelimuti tubuh mungil Demian.
"Tapi Ana bagaimana dengan ku?" Bhumi berusaha menuntut.
"Apa om juga takut tidur sendiri?" Demian dengan polos melihat ke arah Bhumi yang sedang frustasi.
"Bhumi malam ini aku akan menemani Demian jadi kembalilah ke kamar, tidurlah jangan menunggu ku." Ana merebahkan tubuhnya di samping Demian.
"Huhhh bisa-bisa nya preman kecil ini menculik istri ku." Bhumi keluar dari kamar itu sambil berancak pinggang, Ana yang mendengar Bhumi seperti itu hanya tersenyum.
***
"Selamat pagi." Ana mendekati Bhumi yang masih memejamkan mata.
"Sayang, aku merindukan mu." Bhumi memeluk Ana dengan mata yang masih susah untuk di buka.
"Baru juga semalam, apa kabar kalau semiggu haha." Ana terkekeh bergumam sendiri.
"Tidak akan ku biarkan preman kecil itu berkuasa di sini." Bhumi dengan segera membuka mata nya.
"Ayo bangun sarapan sudah siap, kamu akan terlamabat kalau tidak segera bergegas." Ana berusaha melepaskan diri nya dari pelukan Bhumi namun tidak membiarkan Ana bergerak.
__ADS_1
"Tante Ana." Demian sudah berdiri di depan pintu yang bahkan tidak tetutup.
Ana mendorong tubuh Bhumi dan segera berdiri menghampiri Demian.
"Kenapa dia selalu mengganggu ku." Bhumi menggerutu sambil merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ayo sayang kita mandi dlu, kamu harus bersiap pergi ke sekolah." Demian hanya menjawab Ana dengan senyuman.
"Sayang apa kamu hanya akan mengurusi anak kecil ini?" Bhumi tiba-tiba berdiri di depan pintu dengan dasi di tangan kanan nya.
"Bhumi tunggu sebentar, aku masih memasukan perlengkapan sekolah Demian." Demian yang melihat Ana lebih memihak nya, kemudian menjulurkan lidah nya pada Bhumi.
"Ahhh anak itu, awas saja kau ya." Bhumi melotot pada Demian.
"Demian akan berangkat ke sekolah bersamamu, karena pagi ini aku sudah ada janji dengan Juna, jangan terlalu keras pada nya, bersikap baiklah." Ana merapikan dasi di leher Bhumi.
"Akan aku coba, karena dari tadi malam dia merebut mu dari ku jadi aku rasa aku tidak akan bersikap ramah pada nya." Bhumi menaikan salah satu alis nya.
"Please." Ana kemudian mencium pipi Bhumi.
"Akan aku pertimbangkan." Bhumi terkekeh melihat istrinya yang tadi nya memohon sekarang berubah cemberut.
Bhumi pun menuruti kemauan Ana untuk mengantar Demian ke sekolah. Bhumi yang duduk bersebelahan dengan anak kecil itu terlihat sibuk dengan tab nya. Di depan ada Roby sedang fokus menyetir, namun Demian sepertinya lebih tertarik dengan Roby yang wajahnya terlihat lebih ramah dari Bhumi.
"Om sopir, apa aku boleh duduk disebelah mu?" Demian fokus melihat wajah Roby.
"Maaf tuan muda tidak bisa." Roby menjawab singkat di tambah dengan senyuman.
"Aku gak mau duduk sama Om Bhumi dia serem kayak Thanos." Dengan polos Demian mengatakan itu di depan Bhumi. Roby yang mendengar kata-kata anak kecil itu berusaha menahan tawa nya.
Bukanya marah Bhumi malah tersenyum, "Dasar anak ini, apa wajah ku yang tampan ini mirip seperti Thanos?" Bhumi bertanya pada Roby.
Tampangnya sih gak kayak Thanos cuma sifat nya iya. Roby tidak menjawab apapun dia hanya berusaha menahan tawa nya.
Bersambung...
__ADS_1