
Ana masih sibuk dengan kerjaan nya, sedari tadi sore dia datang sampai sekarang jam sudah menunjukan pukul 02.30 tidak ada jeda untuk istrahat. Ya Ana hari ini dapat tugas shif malam bersama Kiara, di tambah Kiara gak tau hilang entah kemana, jdi tanggung jawab di bebankan pada Ana, beruntung Ana di bantu perawat jaga yang sangat sigap mengambil tindakan.
Kiara membanting sebuah majalah di meja jaga, katika Ana sedang menulis resep obat. Ana tidak mempedulikan nya, "wah percuma dandan berjam-jam yang keliatan cuma si pemilik Rumah sakit ini," gumam Kiara, Ana masih diam saja tak bereaksi apapun. Kiara pergi lagi, dan Ana pun tidak peduli. Memang kalau ngomong sama tuh anak bikin males jadi mending diem aja.
Ana melirik majalan itu, wajah laki-laki itu sepertinya tidak asing bagi nya, dia memperhatikan lagi, Bhumi Anggara pengusaha muda sukses, begitu tertulis di cover majalan itu.
Deg... jantung ana rasanya berhenti satu detik, dia ingat siapa laki-laki itu. Ana kembali memandang dengan seksama, membaca berita yang terlulis disana. Ana tampak kepo dengan Bhumi.
"Dok resepnya sudah selesai?" membuat Ana kaget dan menyodorkan resep itu pada perawat jaga.
Ana masih fokus menyusuri majalah itu satu persatu, hampir setengah dari majalah itu membahas tentang Bhumi dan bisnisnya.
Tanpa sadar Kiara yang sedari tadi berdiri di samping nya, mulailah ke nyinyiran Kiara.
"Gak usah gitu banget ngeliat nya woe,"
Ana kaget mendenger ucapan Kiara, menutup kembali majalan itu.
"Jangan-jangan lu terpesona sama cowok yang di cover majalah itu? gak usah mimpi deh, gak akan terjangkau untuk lu.
Baiklah mala(mak lampir) kalau di drakor elu itu macam putri bangsawan yang pengen jadi ratu.
Ana hanya mendiamkannya saja, Ana kembali melakukan pekerjaan tanpa memperdulikan Kiara.
Semalaman Ana tidak tidur, membuat nya sangat lelah dan mengantuk, di kos ana kambali mual-mual. Akhir-akhir ini Ana terlalu sering mual dan pusing, Ana pun menganggap ini cuma efek masuk angin dan kelelahan. Ana menyeruput teh manis hangat yang di buat nya untuk meredakan rasa mual.
Ana merasa badan nya remuk, dia memilih untuk istirahat karena sungguh perut nya merasa tidak enak.
Alarm Ana berbunyi berkali-kali, Ana bangun dengan lemas, merasa perut nya lapar, matahari sudah mulai terbenam tak sadar dari siang smpe sore dia tertidur. Ana memasak makanan seadanya, yang penting bisa dia makan, setidaknya ada 3 menu di meja makan Ana, sup ayam hangat, sambel terasi pedas dan sosis goreng. Biasanya Ana tidak suka makan pedas entah kenapa akhir-akhir ini Ana sangat suka makan makanan pedas.
Ana mengambil Hp nya melihat pesan yang masuk, Ana baru ingat kalau pesan dari Juna lupa dia balas saking sibuk nya. Ana mengetik pesan untuk Juna, tidak butuh waktu lama Juna segera membalas nya. Obrolan mereka via WA sepertinya sangat seru, karena sudah larut pun Ana masih sibuk dengan Hp nya.
"Hoek... hoek... hoek...," pagi-pagi sudah terdengar suara orang yang sedang muntah dari dalam kamar mandi. Ana tampak memegang perut nya yang masih merasa mual. Ana duduk di pinggir kasur, kenapa mual terus ya, Ana bengong menerawang jauh.
__ADS_1
"Apa mungkin?" Ah tidak tidak, tidak mungkin melakukan sekali bisa sperti ini," Ana berusaha meyakinkan diri nya. Tapi sayang naluri medis nya berkata lain.
Ana ingat dia telat datang bulan sudah lebih dari seminggu. Ana lemas mengingat itu tapi dia belum yakin, aku butuh tespek.
Ana membeli tespek lewat aplikasi dengan bantuan ojek online. Ana panik mondar mandir tidak jelas menunggu pesanan nya tiba. Akhirnya Hp ana berdering terdengar abang ojek sudah sampai di depan kos Ana, Ana berlari keluar mengambil alat yang sedari tadi sudah di tunggu.
Ana menunggu skitar 1 menit, terlihat sangat panik, dan hasilnya dua garis merah. Ana lemas, kepala nya tiba-tiba pusing, teduduk bengong di kamar mandi.
Ana tidak bisa bepikir apapun, semua samar. Ana mencoba menenangkan diri nya, berharap semua akan baik-baik saja.
Ana mencoba membongkar dompet nya dia ingat saat itu Bhumi memberikan nya kartu nama, tapi Ana berpikir apakah tepat tindakan nya? apa nanti laki-laki itu akan percaya begitu saja mengingat mereka tidaklah saling kenal. Ana takut kalau diri nya mendapat penolakan.Tapi Ana tidak mungkin menyembunyikan hal ini lambat laun perut nya pasti akan semakin membesar, batin Ana kembali begejolak.
Terdengar Hp Ana berdering, suara Mia di seberang meminta Ana untuk datang ke Rumah sakit karena salah satu dokter IGD kecelakaan dan tidak bisa jaga hari ini. Sebenernya hari ini Ana libur tapi Ana tidak pernah menolak kalau bantuan nya di perlukan. Ana menyanggupi dan mulai bersiap untuk berangkat.
Ana terlihat murung beda dengan biasanya yang selalu ceria, di penuhi dengan senyum.
"An kamu kenapa?" tanya mia.
"Kenapa sih? serius banget kayak nya,"
"Mi aku hamil,"
"Whatttttt? hahaha, hamil apaan? hamil nasi?" Mia menggoda Ana.
"Mi kamu ingat kan waktu aku liburan aku pernah cerita tidur dengan orang asing."
"Yaampun Ana kayaknya kamu masih mimpi," Mia dengan ekspresi datar melirik Ana. Tapi Ana masih berusaha meyakinkan sahabatnya.
Ana masih lemas, tidak tau harus berbuat apa, dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu, ternyata majalan kemarin yang ia baca masih berada di sana.
"Mi ini dia orang nya," Ana menunjuk majalah dengan cover wajah Bhumi.
"Ah gak usah ngaco deh, kamu tau siapa dia, dia itu pemilik saham terbesar Rumah sakit ini.
__ADS_1
Baiklah centong nasi kalau kamu gak percaya sama perkataan ku tadi, tapi itulah kenyataan nya.
Ana memutuskan datang ke kantor Bhumi tanpa membuat perjanjian sebelum nya. Dia menghampiri meja resepsionis menanyakan keberadaan Bhumi dan apa dia bisa bertemu dengan nya.
Karena tidak mendapat jawaban dari staf skertaris Bhumi, Ana di persilakan naik ke ruangan Bhumi. Ana celingak celinguk bingung, gedung yang begitu besar dan tinggi membuat Ana bertanya berkali-kali. Akhinya Ana berada di depan ruangan Bhumi, Ana bertanya pada staf sekertarisnya, Ana di minta untuk menunggu beberapa saat. Ana di persilakan masuk oleh salah satu di antara tiga wanita yang duduk di sana.
"Silakan duduk nona, sebentar lagi pak Bhumi akan datang, beliu masih ada meeting dengan dewan direksi, sebentar lagi pasti selesai."
Ana menunggu sekitar 30 menit lama nya. Tapi belum juga terlihat ada yang membuka pintu.
Bhumi akhirnya berjalan menuju ruangan nya, salah satu dari wanita di depan tadi mengatakan pada Bhumi kalau ada seorang wanita yang mencarinya. Bhumi malah menghardik wanita itu, "siapa yang mengijinkan orang asing masuk ke ruangan ku, apa dia sudah ada janji dengan ku? dasar bodoh!!!"
Bhumi membanting pintu dengan kesal, mambuat Ana kaget dan seketika Ana berdiri.
"Mmma-af, saya datang untuk mencari anda," Bhumi melihat wanita yang bediri di pinggir sofa berusaha mengingat siapa dia, akhirnya Bhumi ingat.
Muka bhumi berubah menjadi pucat.
"Anda masih ingat dengan saya? Ana memulai pembicaraan.
"Ya tentu saja, apa yang bisa saya bantu?"
masih dengan tenang Bhumi menjawab pertanyaan Ana.
"Saya harus menyampaikan ini pada anda, karena saya tidak bisa mengambil keputusan perihal ini sendrian."
Deg... Bhumi merasa perasaan nya tidak enak.
"Anda masih ingat apa yang telah kita lakukan saat anda salah masuk ke kamar saya?"
"Mmmmm... saya saat ini sedang hamil."
Bersambung...
__ADS_1