
Matahari sudah mulai terbenam, langit pun sudah berubah berwarna jingga. Senja yang indah tapi hanya sebentar, mengalah pada malam yang perlahan dengan serakah menyelimuti langit dengan warna gelap.
Ana sudah siap dengan dandanan casual nya, menepati janji mengantar mia mencari perlengkapan untuk lamaran bulan depan. Ana berpamitan pada Oma yang sedang menikmati secangkir teh di taman.
Ana menyusuri keramian ibu kota, berjibaku dengan kemacetan yang memang sudah jadi makanan setiap hari. Ponsel Ana berdering beberpa kali, Mia yang sudah menunggu tidak sabar terus meneror Ana.
"Iiaa masih macet nih, sabar dikit napa sih," Ana yang mulai kesal dengan sahabat nya. Ana menutup telpon nya dan menyimpan kembali ke dalam tas LV dengan corak monogram khas brand mereka.
Ana masuk ke lobby mall, mencari toko pernak pernik yang mia instruksikan.
"An," Mia memanggil Ana dengan suara keras sampai orang-orang di sebelah nya ikut menoleh.
"Ssttt, pelakan suara mu." Ana melangkah menedekati Mia.
"Abisnya kamu datengnya lama banget." Mia merajuk.
Mereka berdua mendatangi semua toko, sudah 2 jam berkeliling di mall ini, tapi belum juga selesai. Ana hanya mengikuti Mia dari belakang dengan langkah yang sudah berat.
Di kediaman kelurga Wijaya, Bhumi turun hendak makan malam. Sudah ada Oma yang dari tadi menunggu nya.
__ADS_1
"Selamat malam Oma," Bhumi mencium pipi Oma.
"Ayo kita makan." Oma mengajak Bhumi untuk mulai makan malam.
"Tunggu, Ana mana Oma?" Bhumi baru sadar kalau Ana dari tadi sore tidak ada di rumah.
"Oh tadi dia ijin sama Oma pergi bersama Mia."
Apa dia tidak bisa mengirim pesan atau menelpon ku. Pergi seenaknya, tapi bukankah aku tidak punya nomor telpon nya. Bhumi terlihat kesal, melanjutkan makan malam nya tanpa Ana.
Ponsel Bhumi berdering, dia segera menjawab telpon dari Roby. Bhumi bergegas masuk ke ruang kerja nya, melihat berkas yang di maksud Roby. Bhumi kemudian duduk di meja kerja nya, memeriksa berkas yang di minta nya beberapa minggu lalu tentang kecurigaan nya pada Om Amir.
Bhumi mendorong rak buku besar milik nya, ruangan ini begitu gelap. Bhumi mecari sklar dan menghidupkan beberapa lampu sehingga menjadi cukup terang.
Dia mulai melihat-lihat foto nya dulu saat masih kecil, ada juga foto dengan ke dua orang tua nya. Tapi kebanyakan foto bersama Oma di luar negeri. Bhumi melihat semua foto yang dia pajang di sana. Cukup lama dia berada di sana untuk menenangkan pikiran nya.
Ketika akan meninggalkan ruangan itu, Bhumi melihat tumpukan foto yang posisi nya terbalik. Bhumi sedikit penasaran dia mendekati foto-foto itu. Membuka 1 foto, dan foto-foto berikutnya. Terlihat gambar 2 orang berpose memakai baju pernikahan terbingkai sangat indah di foto itu.
Bhumi berusaha mencerna foto itu, mengedipkan mata nya berkali-kali. Memaksa otak nya untuk bekerja. Senyum manis dari gadis yang selama ini menememani nya terlihat sangat bahagia di foto yang lain. Dan Bhumi memeluk gadis itu sangat erat.
__ADS_1
"Ada apa dengan ku? Kenapa bisa jadi begini? Siapa Ana sebenarnya?" Bhumi memegang kepala nya yang tiba-tiba sakit tak tertahan kan.
Bhumi berjongkok mencoba menahan sakit kepalanya. Mengatur nafas nya berkali-kali, menghadapi kenyataan kalau dia dan Ana adalah suami istri.
"Apa jangan-jangan anak yang Ana kandung adalah anaku." Bhumi semakin bingung. Selama ini dia selalu mengira Ana hamil di luar nikah dan tidak memiliki suami. Sampai dulu pernah mengira Juna adalah suami dari Ana. Masih banyak pertanyaan di kelapa Bhumi.
Ingatan Bhumi belum sepenuhnya kembali, tapi melihat foto nya dengan Ana mungkin itulah alasan kenapa Ana tinggal di rumah nya sekarang. Dan Ana sangat sabar menghadapi kegilaan Bhumi selama ini.
Bhumi teringat dengan Angel "kenapa Angel tidak mengatakan kalau aku sudah menikah," Bhumi bergumam sendiri masih bingung dengan semua ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi, apa aku dulu mencintai Ana? kalau aku mencintai Ana kenapa aku masih berhubungan dengan Angel." Bhumi berkali kali bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa sebaiknya aku bertanya pada Roby, atau aku pura-pura tidak mengetahui semua ini dan mencari tau sendiri?" Bhumi kembali berbicara dengan dirinya sendiri.
Bhumi kembali mengambil foto nya bersama Ana, di pandang nya foto itu sangat lama. Mencoba mengingat-ingat yang telah terjadi, tapi percuma sepertinya otak nya sedang buntu ( Hehe).
"Ana aku akan berusaha mengingat semua nya." Bhumi bergumam sambil meletakan foto itu ke tempat nya semula.
Bersambung...
__ADS_1