My Exotic Wife

My Exotic Wife
Kantor Bhumi


__ADS_3

Terdengar sedikit keributan di depan ruangan Bhumi, 3 orang sekertaris Bhumi sedang beradu argumen melarang Angel masuk karena Bhumi sedang tidak berada di tempat. Tapi memang dasarnya wanita ini sudah tidak bisa di larang lagi dia tetap saja masuk sambil mengumpati ke tiga wanita malang itu dan harus siap-siap mendapat hukuman dari Roby.


Sekitar 1 jam akhirnya Bhumi kembali ke ruangan nya dan diikuti oleh Roby. Bhumi menuju meja kerja nya, betapa kaget nya dia mendapati seorang wanita duduk di kursi keramat nya, yang memang hanya Bhumi yang bisa duduk disana.


"Apa yang kau lakukan disini?" Bhumi menarik lengan Angel dan menghempaskan nya sampai terjatuh ke lantai.


"Bhumi maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi, aku mencintai mu Bhumi." Angel mengis sejadi-jadinya sambil berlutut memegang pergelangan kaki Bhumi.


"Omong kosong, sudah aku peringatkan jangan pernah lagi menampakan wajah mu di depan ku." Bhumi mencoba melepaskan kaki nya dari tangan Angel.


"Laki-laki itu yang merayu ku, Aku juga butuh sentuhan lelaki, selama kita berhubungan apa kau pernah menyentuhku?" Nada bicara Angel sedikit meninggi dengan tetap menangis.


"Cih, Dasar wanita jal*ng," Bhumi melempar foto ke wajah Angel.


Angel kaget melihat ratusan foto yang di lempar Bhumi ternyata foto-foto nya semasih di luar negeri, bersama berbagai laki-laki berbeda. Tangan Angel gemetar mengambil foto-foto itu di lantai.


Roby yang melihat Angel seperti itu akhirnya bisa membalasakan dendam nya.


Sekarang masihkah kau bisa sombong?


Ana yang datang ke kantor Bhumi tapi ternyata di waktu yang tidak tepat. Ana menjinjing tas mewah nya menuju ke ruangan Bhumi. Tidak lupa dia menyapa ketiga wanita yang berada di depan ruangan Bhumi.


"Selamat siang, apa Bhumi ada di dalam?" dengan senyum ramah nya.


"Maaf nyonya, sebaiknya anda jangan masuk dlu." Salah satu dari ketiga sekertaris Bhumi mencegah Ana masuk ke dalam.


"Oke baiklah, saya akan menunggu nya." Tapi kuping Ana mendengar keributan dari dalam. Ana merasa penasaran dengan suara itu.


"Bolehkah saya masuk? sepertinya ada keributan dari di dalam." Ana meminta ijin untuk masuk ke ruangan Bhumi.


"Baiklah nyonya akan saya antarkan," sekertaris Bhumi tidak bisa menolak nya, dan salah seorang mengantar Ana dan membukakan pintu ruangan Bhumi.


"Memang terlihat jelas mana yang seorang nyonya sesungguhnya, beruntung Pak Bhumi menikahi nyonya Ana yang sangat sopan dan baik." Sekertaris Bhumi yang kesal dengan Angel membandingkan nya dengan Ana.


"Huhhsss jangan begosip, ini saja kita belum tentu selamat," teman di sebelahnya menimpali pembicaraan.


Ana masuk ke dalam dan betapa kaget nya melihat Angel yang kacau bersimpuh di lantai, dan melihat Bhumi yang menatap ke arah jendela seperti tidak ingin melihat Angel. Hanya Roby yang mengetahui kedatangan nya.


"Nona, apa yang anda lakukan disini?" Roby sedikit gelagapan takut nona nya salah paham dengan pemandangan ini.


Seketika Bhumi menoleh ke arah Ana, dan menghampiri Ana yang masih berdiri di pinggir sofa.


"Aku hanya ingin makan siang dengan Bhumi, ada apa ini? kenapa sangat berantakan?" Ana melihat skeliling nya.


"Sayang kenapa kau tidak menghubungiku terlebih dahulu kalau mau datang?" Bhumi mengelus rambut Ana.


Ana memiringkan kepala nya sedikit mengintip Angel, ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


Angel seperti tidak ada artinya lagi di mata Bhumi, dan sepertinya memang tidak tahu malu, Batin Ana.


Bhumi memanggil wanita itu dengan panggilan sayang? Angel mengepalkan tangan nya sangat marah.


"Aku ingin makan siang dengan mu suami ku." Ana tersenyum manis pada Bhumi.

__ADS_1


"Ayo kita keluar, lama-lama melihat wanita itu membuat ku sesak. Bhumi sudah tidak ingin melihat Angel lama-lama di depan matanya.


"Roby usir wanita itu keluar, suruh OB memberisihkan ruangan ku, dan buang kursi yang telah dia duduki tadi." Bhumi memberi perintah pada Roby dan berjalan mengajak Ana keluar dari ruangan nya.


"Baik pak." Roby melirik wajah Angel yang terlihat marah.


"Silakan keluar nona Angel, atau mau saya panggilkan satpam? Roby sedikit tersenyum licik.


"Tidak usah aku bisa berjalan sendirian, dasar kacung kau." Umpat Angel berusaha berdiri.


Roby tidak membalas kata-kata Angel, hanya membiarkan nya keluar dari tempat itu. Roby mendatangain ke tiga sekertaris Bhumi yang tantu nya di atas pimpinan Roby.


"Apa yang kalian lakukan, kenapa wanita itu bisa masuk ke ruangan pak Bhumi? untung saja Nona Ana datang kalu tidak kalian bisa saja di pecat." Roby memamarahi ke tiga wanita itu. Mereka hanya diam tidak berani melawan.


Di dalam mobil Ana masih penasaran dengan kejadian tadi di kantor Bhumi tapi Ana tidak berani bertanya takut Bhumi akan marah. Melihat raut wajah Bhumi tadi pasti dia sangat marah. Sama seperti dulu waktu Bhumi marah padanya saat bertemu dengan Juna di mall.


"Sayang maaf atas kekacuan tadi, kamu pasti tidak nyaman?" Bhumi merasa menyasal atas kejadian tadi.


"Tidak apa-apa, aku tidak terganggu." Ana meraba pipi Bhumi yang sangat mulus seperti tak ada pori-pori.


Apa di kehidupan ku terdahulu, aku pernah menyelamatkan banyak orang atau semacam pahlawan kesiangan haha. Kenapa sekarang nasib ku begitu beruntung.


"Daddy aku lapar," Ana memegan perut nya mengisyaratkan kalau bayi nya sangat lapar.


"Bayi kecilku, kamu mau makan apa sayang?" Bhumi mengelus lembut perut Ana.


"Emmmm makan apa ya?" Ana menjawab dengan cepat.


Bhumi tersenyum melihat istrinya yang sangat bersemangat bila tentang makanan.


"Apa kita perlu naik helli ato jet pribadi," Bhumi mengelus lembut rambut Ana takut istrinya tidak sabaran.


"Kamu selalu berlebihan, bisakah setengah hari ini kau habiskan bersamaku? kita berkencan seperti orang biasa tidak ada pengawal, tidak ada sopir, hanya kita berdua dan setelan jas mu ini bisa di lepas dlu gak?" Ana yang dari tadi merebahkan kepala nya di dada Bhumi.


"Baiklah tuan putri, hamba akan melakukan perintah anda."


Seketika Ana mengangkat kepala nya mendengar kata-kata Bhumi, sedikit tertawa dan wajah Ana berubah merona merah.


Jadi teringat dulu, dia selalu memerintahku, sekarang dia yang tunduk dengan perintah ku.


Bhumi langsung menghubungi Roby dan menyruh Roby menyiapkan semuanya. Tidak perlu waktu lama Roby datang membawakan perlengkapan yang di minta Bhumi. Dan tidak lupa mobil sport kesayangan Bhumi yang baru kemarin dia datangkan dari Eropa.


Bhumi sudah siap dengan pakaian santai nya membuat Ana tertawa terkekeh, melihat suami nya yang sedang berpakaian santai pun masih terlihat seperti akan pergi ke kantor.


Roby membukakan pintu untuk Ana, sudah siap untuk berangkat.


"Selamat bersenang-senang pak Bhumi dan nona Ana." Roby tersenyum pada Tuan nya.


Ana dan Bhumi memulai perjalanan nya berdua. Seperti pasangan yang baru saja berpacaran.


"Sayang maaf aku merepotkan mu, apa kamu tidak capek menyetir sendirian?" Ana merasa menyesal dengan permintaan nya tadi.


Bhumi memegang tangan Ana, dan tersenyum padanya, mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja.

__ADS_1


"Terimakasih sudah membuat suasana hati ku membaik." Bhumi mengecup punggung tangan Ana berkali-kali.


"Sepertinya mobil ini bukan koleksi mu, kemarin rasanya tidak ada di garasi mu."


"Apa sekarang kamu memperhatikan koleksi mobil sport ku? Puluhan mobil itu bisa kau hafal semua? haha." Bhumi tertawa tertawa mendengar kata-kata istrinya.


Flasback on


Kenapa rumah ini terlalu besar sepertinya aku tersesat? Ana menemukan sebuah pintu yang msih tertutup rapat. Ana berharap pintu ini tembus ke ruang keluarga atau dapur. Ana memegang gagang pintu itu dan membuka nya dan ternyata tidak di kuci. Ana membuka pelan lampu ruangan itu terang, mulut Ana menganga melihat pemandangan di depan nya. Puluhan mobil sport Bhumi berjejer di sana, garasi ini sangat luas sudah sperti show room mobil mewah yang ada di sinetron.


Ana menyusuri ruangan itu melihat mobil itu satu persatu, walapun tidak memiliki salah satu nya tapi setidaknya bisa menyentuh nya.


"Ah sial aku tidak membawa hp, kalau bawa kan bisa foto, nanti aku pamerkan pada Mia." Ana terkekeh dengan tingkah nya.


Flashback Off


Ana teringat saat dia kali pertama memasuki rumah besar Bhumi. Dia tertawa mengingat kejadian itu.


Bhumi melihat istrinya yang tersenyum sendiri jadi penasaran.


"Kenapa kamu tersenyum sendiri?" Bhumi mencium punggung tangan Ana.


"Aku teringat saat aku tersesat di rumah dahulu."


"Kau pernah tersesat?" Bhumi tertawa terpingkal-pingkal di buatnya.


"Tak ku sangka wanita se bawel dan se lincah seperti mu bisa tersesat sayang." Bhumi masih belum selesai tertawa.


Ana mendengus kesal pada Bhumi mengalihkan pandangan nya ke arah luar.


tidak mempedulikan Bhumi.


"Sayang jangan marah dong, aku minta maaf? kalau kamu marah aq ngebut nih? Bhumi sedikit menginjak gas nya lebih dalam.


"Jangan aku takut Bhumi." Ana memegang pergelangan tangan Bhumi.


"Sayang sebenarnya mobil ini aku belikan untuk mu, dan puluhan mobil di garasi itu juga milik mu sekarang, kamu bisa memakai nya kapan pun kau mau." Bhumi memberikan semua mobil nya untuk Ana.


Kalau jual itu semua kira-kira uang nya berapa gepok ya? haha.


"Bukankah mobil-mobil itu bekas kamu pakai dengan Angel juga?" Ana mengerucutkan bibirnya.


"Semua mobil itu tidak pernah di naiki oleh wanita manapun termasuk Angel, mobil yang pernah ku naiki dengan Angel sudah ku singkirkan jauh-jauh." Bhumi kembali kesal mengingat Angel.


Betapa beruntungnya aku Bhumi bisa menjadi wanita yang sangat kau cintai.


"Maaf sayang tadi aku hanya bercanda, betapa beruntungnya aku memiliki mu."


Ana merebahkan kembali kepalanya di dada Bhumi.


"I Love U my exotic," Bhumi mencium ujung kepala Ana.


Perjalanan yang mereka tempuh masih jauh, dan berliku.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2