
Bhumi melihat sekeliling kamarnya, terkenang akan saat Ana berada di rumah itu. Ingatan Bhumi pelan pelan sudah kembali, tapi apa yang bisa di lakukan semua sudah berakhir.
Bhumi berusaha memejamkan mata nya, tapi sangat susah. Di kepalanya hanya ada wajah Ana. Bayangan Ana menari-nari di pelupuk mata, begitu menyakitkan.
Aku akan menemukan mu secepatnya. Tidak bisa begini, aku tidak bisa hidup tanpa mu. Bhumi memejamkan matanya.
Matahari sudah mulai menampakan sinarnya. Kicauan burung terdengar seperti nyanyian pagi. Suara ketukan pintu dari Bu Marni mengiringi pagi yang cerah ini.
"Tok...Tok...Tok... Selamat pagi tuan sarapan sudah siap."
Bhumi membuka matanya menoleh kesebelah berharap menemukan sosok wanita yang selalu menemaninya. Tapi hanya bayangan dan menghilang ketika Bhumi mengedipkan mata nya. Dengan langkah berat Bhumi berjalan ke kamar mandi bersiap-siap untuk ke kantor.
Bhumi memegang dasi di tangan nya, mengusap wajahnya kasar. Setiap apa yang dia lakukan selalu terbayang tentang Ana. Terlalu sulit untuk melupakan semua kenangan bersama Ana.Bhumi menghela nafas berkali-kali, sangat sulit melewati semua ini.
"Tuan apa anda tidak sarapan." Bu Marni mengikuti langkah Bhumi sampai ke depan pintu.
"Tidak usah," dengan wajah yang sangat lesu Bhumi menjawab Bu Marni.
Roby membukakan pintu untuk Bhumi, mempersilakan nya masuk. Roby segera memacu kendaraan nya menyusuri ibu kota yang sangat padat.
"Pak saya sudah menemukan orang yang selama ini kita cari, beserta bukti-bukti nya." Roby melirik sepion di atas kepalanya.
"Dimana orang itu sekarang?"
__ADS_1
"Sudah di tempat yang aman pak, saya akan membawa anda kesana." Roby melanjutkan perkataan nya.
"Tapi sebaiknya bapak harus bersikap manis dengan Angel untuk semantara waktu."
"Ah aku sudah muak dengan wanita itu." Bhumi memalingkan wajah nya kasar ke arah kaca.
Tengah malam di kota Cambridge, Ana berdiri di balkon apartemen nya. Beberpa hari tinggal di kota yang perbedaan waktunya sampai 11 jam membuat nya jet lag. Tapi sepenuh nya bukah hanya karena perbedaan waktu tapi karena ada sesuatu yang sulit dia lupakan.
"Belum tidur?" Juna menghampiri Ana yang bediri sendirian.
"Kamu belum tidur juga? Besok kan harus balik ke Indo." Ana melirik Juna yang berdiri di samping nya.
"Tapi besok aku gak bisa nganterin, besok hari pertama ku ke kampus." Ana melanjutkan kata-kata nya.
"Aku gak akan nyasar kok tenang aja." Juna menahan tawa nya.
Mereka berdua tertawa bersama, menghabiskan waktu untuk mengbrol yang bahkan topik nya sudah habis. Mereka masih betah duduk di balkon sampai malam berganti pagi.
Ana kini melanjukan hidupnya sebagai orang yang baru, mengubur semua kenangan. Ana mengisi hari-hari nya dengan belajar dan belajar, di pikirian nya hanya ada tujuan utama datang ke tempat ini. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah mendukung nya selama ini.
Ana melihat ponsel nya, mendapat panggilan video call dari Mia. Hari ini Mia secara resmi di lamar oleh Drake dan 2 minggu lagi mereka akan menikah.
"Anaaaa, aku merindukan mu." Kalimat pertama yang muncul dari mulut Mia.
__ADS_1
"Ciee yang hari ini resmi di lamar." Ana tersenyum pada sahabatnya.
"An doain acara ku lancar ya, oh ya 2 minggu lagi aku akan menikah, aku tau kamu gak bisa dateng tapi aku pasti berharap doa terbaik dari mu An." Mata Mia berkaca-kaca.
"iiihhh siapa yang naro bawang disini, aku jadi pengen nangis." Ana membalas ucapan Mia.
"Mi aku harap kamu bisa jadi istri yang baik, kamu harus selalu mendukung suami mu. Semoga kamu bahagia selalu." Ana berpesan pada Mia yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Sejenak dia ingat tentang pernikahan nya dulu dengan Bhumi.
"Kenapa bengong." Mia mengagetkan Ana.
"Ya udah aku di panggil mami nih, bye Ana i love u." Mia mengakhiri video call nya dengan Ana.
Ana memasukan ponsel nya ke dalam tas, beranjak dari tempat duduk menuju kelas. Ana berjalan menyusuri lorong menuju kelas nya, tapi terdengar ada seseorang yang memanggil nya.
"Hey tunggu," Ana berhenti melihat di sekeliling nya tidak ada orang lain. Kemudian Ana menoleh ke belakang.
"Buku mu ketinggalan." Seorang laki-laki berwajah bule berambut hitam menghampiri Ana.
"Oh iia terimakasi." Ana mengambil buku nya dan buru-buru pergi meninggalkan laki-laki itu.
Ana mempercepat langkah nya, berharap tidak di ikuti lagi. Ana yang baru tinggal di kota ini tidak ingin terlalu dekat dengan orang lain. Ana takut hal-hal buruk terjadi pada nya, apa lagi dia hanya tinggal sendirian.
"Siapa dia? dan bodoh nya kenapa aku meninggalkan buku ku?"
__ADS_1
"Semoga dia bukan orang jahat." Ana bergumam sendiri.
Bersambung...