My Exotic Wife

My Exotic Wife
Diantara Mereka


__ADS_3

Ana berlari dari lobby menuju ruang rapat, hari ini dia lupa menyetel alarm nya. Setiap bulan memang selalu di adakan rapat untuk evaluasi tentang pelayan rumah sakit. Walapun Ana berstatus sebagai seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan spesialis di wajibkan untuk selalu ikut serta dalam rapat tersebut.


"Maaf saya terlambat." Nafasnya terengah-engah membuka pintu ruangan yang sudah di penuhi oleh orang yang Ana sebelum nya tidak pernah lihat.


Ana menundukan kepalanya karena malu, tidak melihat kedepan atau kanan dan kekiri. Dia hanya melihat Emily yang sedang duduk di dekat pintu. Ana segera menghampiri Emily yang sudah memberinya isyarat.


"Kenapa ramai sekali, dan siapa orang-orang berjas hitam itu?" Ana bertanya pada Emily sambil melihat sekelilingnya.


"Apa kau lupa hari ini juga di adakan rapat pemegang saham?" Emily sedikit berbisik pada Ana.


Ana kembali memperhatikan setiap sudut dan melihat orang-orang di depan nya. Tak ada yang dia kenal, tapi pandangan nya berhenti pada seseorang pemimpin rapat ini. Laki-laki yang di kenal nya selalu konyol, kenapa dia berada di depan sana? siapa dia sebenarnya?. Setelah tempo hari Ana melihat nya memakai jas rapi tapi Ana tidak menyangka dia juga ada disini.


"Emi, siapa laki-laki yang memimpin rapat itu?" Ana penasaran kembali bertanya pada Emily.


"Oh dia Justin, keluarga nya pemegang saham terbesar di rumah sakit ini. Dia adalah teman SMA ku dulu, keponakan nya juga ada di day care kita. Apa kau tidak tau?"


"Tii...dak tidak tau." Ana berpura-pura tidak mengetahui nya, dan fokus kembali memperhatikan orang yang sedang menjelaskan di depan nya.


Ah sial kenapa dia terus melihat mata ku, dan tersenyum ke arah ku. Awas saja kau Justin. Mata Justin terus melihat ke arah Ana, membuat Ana salah tingkah.


Selama jalan nya rapat Ana terus menguap di tambah dengan perut yang lapar karena belum sempat sarapan. 2 jam telah berlalu akhirnya selasai juga. Ana melangkah dengan lemas keluar ruangan itu. Entah apa yang terjadi dengan kaki nya, Ana terpeleset dan hampir saja terjatuh. Tak di sangka seseorang dengan sigap menangkap Ana dari belakang.


"Apa anda baik-baik saja nona?" Suara laki-laki yang Ana kenal. Mata Ana tidak bekedip melihat Justin yang begitu mempesona berbeda dengan yang biasa dia lihat.

__ADS_1


Ana begegas memperbaiki posisi nya, pergi meninggalkan Justin begitu saja tanpa sepatah kata pun. Wajah Ana terlihat kesal, Justin hanya tersenyum melihat Ana seperti itu.


"Kenapa dia tiba-tiba jadi sekeren itu? ternyata selama ini aku di bohongi, tapi kalau dia kaya kenapa tinggal di aprtemen sederhana itu." Ana bergumam di ruang kerja nya sudah seperti orang gila.


"Ahhh kenapa aku terus memikirkan nya. Dasar laki-laki pembohong!!!" Ana mengacak-acak rambut nya sampai sedikit berantakan.


"Sangat tidak penting, siapa dia? hanya seorang teman bagi ku." Ana mencoba fokus dengan laporan bulanan di depan nya.


"Dokter Ana, anda di minta datang ke ruangan dokter Philip." Seorang perawat datang memberi tahu Ana.


Ana segera datang ke ruangan senior nya itu, dokter Philip adalah kepala bagian bedah plastik di rumah sakit ini. Karena kepintaran Ana, dokter Philip menujuk Ana sebagi asisten nya.


"Selamat pagi dok." Ana masuk ke ruangan dokter Philip.


"Baik dok." Ana hanya mengiyakan, tanpa perlawanan. Yang ada di pikiran nya mungkin dia tidak akan bisa pulang semingguan ini mengingat antrian pasien dokter Philip mencapai ratusan.


Dengan langkah gontai Ana keluar dari ruang kerja dokter Philip, mengumpulkan tenaga nya untuk besok. Ya besok dia akan berperang menangani pasien dengan berbagai keinginan yang tidak bisa di pikirkan dengan akal sehat.


Ana duduk di ruangan nya menunggu jam pulang hari ini jadwal nya kosong. Ana memutuskan untuk pulang karena akan mengumpulkan energi untuk besok.


"Hari ini aku akan makan enak, besok mungkin aku tidak akan sempat menyentuh makanan." Ana bergumam dalam hati nya.


Ana melangkah menuju kedai diseberang rumah sakit. Kedai ini tidak begitu besar tapi makanan nya sangat lezat. Harga nya juga sangat terjangkau, setidaknya Ana tidak perlu merogoh dompetnya dalam-dalam.

__ADS_1


Ana duduk menghadap jalan di depan nya, hanya di batasi kaca. Ana memainkan ponsel nya sambil menunggu pesanan datang. Ana merasa tiba-tiba ada perasaan yang aneh menyelimuti dirinya. Ana mengalihkan pandangan ke depan samar-samar dia melihat laki-laki tinggi dengan jas hitam, garis wajah yang tegas, wajah yang tidak asing.


Ana menyipitkan matanya berusaha melihat lebih jelas. Tiba-tiba kaki nya lemas wajah itu kini terlihat jelas di depan Ana. Untuk beberapa saat Ana hanya terdiam dengan tatapan kosong. Seakan nyawa nya berpindah ke dimensi lain beberapa detik.


Deg...


"Bhumi." Tanpa aba-aba bibir Ana menyebut nama itu.


Ana segera keluar dari tempat itu sebelum Bhumi berjalan lebih dekat dan melihat nya.


"Nona makanan anda!!! Seorang pelayan membawa makanan memanggil Ana yang sedang berlari keluar.


"Apa di tempat ini ada setan nya?" Pelayan itu menggeleng-gelengkan kepala nya.


Ana masuk ke dalam taxi dan bergegas menyuruh sopir melaju menuju apartemen nya. Ana mendekap erat tas di dada, jantung nya seakan terpacu lebih kencang.


"Perasaan apa ini?"


Kenapa jantung ini rasanya berhenti berdetak saat melihatmu.


Bhumi aku senang kau terlihat baik-baik saja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2