My Exotic Wife

My Exotic Wife
Kecemburuan Bhumi


__ADS_3

Disudut sebuah store buku berdiri seorang gadis tengah asyik membaca buku tentang ilmu kedokteran. Di keranjang nya sudah ada 5 buku yang dia ingin beli. Tapi masih juga mencari buku-buku yang lain.


"Ana," Juna menepuk bahu Ana.


"Juna, kok bisa ada disni?


"Iya nih aku lagi nyari buku tentang bisnis, ya nambah-nambah pengetahuan."


Padahal sebenarnya Juna ada kunjungan ke mall milik nya itu, tiba-tiba dia melihat Ana. Merasa ada kesempatan berdua dengan Ana, Juna langsung mepet kayak metro mini.


"Wahh padahal sudah pebisnis hebat ya, masih mau belajar," Ana memuji Juna.


"Kamu juga sudah dokter tapi mau belajar lagi?"


"Ah km bisa aja bolak balikin kata-kata," Ana menepuk bahu Juna.


"Aduh sakit," Juna memegang bahu nya.


"Maaf aku tadi cuma bercanda, sakit ya?" Ana mengelus bahu Juna dengan lembut. Di sudut lain sudah ada mata-mata yang mengawasi Ana. Siapa lagi kalau bukan orang suruhan Roby.


"Ana kamu sudah makan?" Juna tau kalau Ana tidak bisa menahan lapar nya.


"Sudah, tapi aku hari ini pengen es krim."


"Ayo kita makan es krim," ajak Juna.


"Tunggu ya, aku mau bayar ini dulu," Ana mengangkat keranjang nya, yang terlihat sangat berat.


"Biar aku saja," Juna buru-buru mengambil dari tangan Ana. Ana hanya tersenyum melihat tingkah manis Juna.


Ana dan Juna mencari-cari konter es krim, dan akhirnya dapat. Ana tersenyum


kegirangan. Juna hanya bisa terpesona melihat senyum Ana yang begitu manis. Dari awal Juna bertemu dengan Ana, Juna sudah jatuh hati dengan senyuman Ana yang sangat susah dia lupakan.


"Mbak es krim 2 cup ya,"


"Mau yang rasa apa kak?"


"Rasa coklat," Juna melanjutkan pesanan nya.


"Aku gak mau rasa coklat, aku mau yang ada asam-asam nya."


"Wah kakak nya lagi ngidam yah? kita ada nih kak rasa mangga, rasa yogurt, rasa strawbery." (Kalo di jabarin semua rasanya bisa-bisa habis nih 1 episod haha).


"Yogurt sama strawbery aja deh mbak," Ana tersenyum mengatakan pilihannya.


"Ini kak, wah pengantin baru ya kak? serasi sekali."


Ini mbak nya kok suka godain mulu sih, dia ini terlalu ramah atau gimana ya.


Ana dan Juna saling berpandangan, sambil ketawa-ketawa tidak jelas.


"Juna apa kamu tidak apa-apa menemani aku?" Ana merasa tidak enak dengan Juna.


"Memangnya kenapa? aku free hari ini, santai saja." Juna sedikit berbohong padahal kerjaan nya di kantor tidak ada habisnya.


Langkah Ana berhenti ketika melihat toko perlengkapan bayi. Ana masuk ke dalam diikuti Juna. Ana melihat-lihat barang-barang disana yang sangat lucu.

__ADS_1


"Juna ini lucu kan?" Ana menunjukan pada Juna.


"Maaf ibu ada yang bisa saya bantu?" seorang pelayan mendekati Ana.


"Oh iia mbak, saya cuma mau lihat-lihat saja dulu." Ana tersenyum pada pelayan itu. Juna mendekati Ana.


"Ada yang ingin kamu beli?" Juna bertanya pada Ana.


"Aku cuma mau lihat-lihat saja hehe."


"Usia kehamilan nya sudah berapa bulan bu? wah bapak nya siaga sekali menemani istri nya."


Untuk ke 2 kali nya mereka di kira suami istri.


Seandinya saja aku benar-benar suami mu Ana.


Ana menarik tangan Juna keluar dari toko itu, sebelum hal-hal aneh yang lain terjadi.


"Juna maaf ya, aku jadi gak enak sama kamu,"


"Haha, aku seneng kok mereka bilang aku ini suami mu,"


"Juna, jangan bencanda gitu deh," Ana melirik Juna dengan tatapan tajam, Ana belum menyadari kalau Juna memang benar-benar suka padanya.


"Yuk jalan lagi," Juna menarik tangan Ana yang sedang duduk di kursi.


"Tunggu, sepertinya kaki ku kram," Ana meringis memijat-mijat kaki nya.


Juna berlutut di depan Ana menyandarkan kaki Ana di pahanya. Juna memijat-mijat pelan kaki Ana. Ana sempet menolak tapi Juna memaksa, Ana hanya bisa tersenyum melihat Juna yang begitu perhatian.


"Kenapa kaki mu? Suara Bhumi mengagetkan mereka berdua. Juna meletakan kaki Ana dan segera berdiri.


"Aku hanya menemani Ana jalan-jalan, kenapa? apa kamu keberatan?"


Bhumi malas meladeni Juna, dia takut Juna mengatakan semua tentang Angel pada Ana.


"Ana ayo kita pulang," Bhumi menarik tangan Ana, memaksa Ana berjalan.


"Ahhh kaki ku sakit," Juna menepis tangan Bhumi, melihat Ana meringis kesakitan.


"Apa lo?" Bhumi sedikit emosi, bodyguard yang berada di belakang Bhumi sudah siap ingin menyerang Juna.


"Aduh kalian apaan sih, kayak anak kecil," Ana berjalan sedikit pincang meninggalkan mereka. Bhumi mengejar Ana dari belakang di ikuti 2 bodyguard setia nya. Juna hanya diam tanpa sepatah katapun.


Bhumi terus mengintrogasi Ana. Ana hanya jawab seadanya, Ana masih kesal dengan kelakuan Bhumi tadi.


"Kamu sengaja janjian dengan Juna kan?"


"Emmmm..."


"Kamu suka dengan Juna?"


"Emmmm,"


Bhumi tiba-tiba mencengkram bahu Ana, mendekatkan wajah nya ke wajah Ana.


"Jangan membuatku marah."

__ADS_1


Ana merasa kesakitan, mencoba melepaskan cengkraman Bhumi di bahu nya, tapi tenaga nya kalah kuat dengan Bhumi.


"Kenapa? apa salahku?" Ana berteriak pada Bhumi. Bhumi menghempaskan tubuh Ana. Tanpa Ana sadari air mata nya menetes, sesekali dia menyeka air matanya. Kecemburuan Bhumi membuat nya hilang akal, Bhumi masih bingung kenapa dia bisa semarah itu melihat Ana dan Juna jalan berdua. Bhumi berusaha menginkari hati nya, dan nyatanya dia memang cemburu melihat Ana sangat akrab dengan Juna.


Ana masuk kerumah tanpa mempedulikan siapapun. Bhumi mengikuti Ana dari belakang. Oma hanya melihat mereka berdua tidak bertanya apapun.


"Apa yang terjadi dengan anak-anak itu." gumam Oma.


Dikamar Ana hanya diam tidak keluar satu patah katapun, Bhumi sadar akan kesalahan nya dia mencoba meminta maaf pada Ana.


"Ana aku minta maaf,"


Ana msih diam tidak menjawab permintaan maaf dari Bhumi.


"aku hanya tidak ingin orang berpikir yang tidak-tidak tentang kamu dan pernikahan kita."


"Bagaimana dengan Angel?" Ana menimpali dengan pertanyaan yang singkat. Bhumi terkejut Ana mengetahui tentang Angel.


Pasti Juna sudah bilang sama Ana.


"Jangan pernah berpikir Juna yang mengadu pada ku, tidak sama sekali. Angel datang pada ku beberapa waktu lalu."


Bhumi lebih kaget lagi dengan ucapan Ana. Bhumi tidak tau harus menjawab apa.


"Sesuai kesepakatan, kedua belah pihak


tidak berhak mencampuri urusan masing-masing," Ana mengingatkan tentang perjanjian pra nikah mereka dahulu.


Ana sebenarnya tau Bhumi tidak suka dia dekat dengan Juna. Tapi apa salah kalau Ana berteman dengan Juna. Dan Bhumi pun dengan sadar melakukan hal yang katanya bisa membuat tanggapan orang tidak baik untuk mereka tapi Bhumi melakukan lebih parah dari pada Ana.


"Lebih baik kamu urusi saja pacar mu." Ana melangkah ke kamar mandi, dan membanting pintu nya.


Berani sekali dia melawan ku. Bhumi mengepalkan tangan merasa sangat marah.


Sinar matahari samar-samar masuk ke kamar Ana. Ana bangun dari tidurnya yang tidak nyenyak dari tadi malam.


"Kepala ku sakit sekali," Ana melihat sekeliling nya, tapi Bhumi tidak ada. Ana tidak peduli apa Bhumi sudab pergi atau belum. Ana masih merasa marah dengan kejadian kemarin. Ana sudah selesai bersiap pergi ke rumah sakit, seperti biasa dia turun untuk sarapan. Ana duduk di meja makan menyantap sarapan nya di temani Bu Marni yang berdiri di sebelah nya.


"Bu Marni, Oma mana?"


"Nyonya besar sedang ada acara amal di panti asuhan, sudah pergi pagi-pagi sekali." Bu Marni menjawab pertanyaan Ana.


"Maaf nyonya, anda tidak di perkenankan keluar rumah selama tuan Bhumi tidak ada di rumah."


"Apa Bu? trus Bhumi kemana sekarang? saya kan harus bekerja."


"Maaf nyonya saya hanya menyampikan itu saja." Seperti biasa Bu Marni tidak mau banyak bicara.


Apa aku di hukum? Awas saja kau datang akan ku cabik-cabik wajah tampan mu.


Ana kembali ke kamar, dia membanting tas nya di sofa. Ana mengumpat sesuka hati merasa tidak suka dengan keadaan ini. Sebuah pesan masuk di ponsel Ana.


Roby:


Selamat menikmati liburan anda nona, jangan khawatir saya sudah menghubungi direktur rumah sakit.


Pengen rasanya Ana membanting ponsel nya membaca pesan dari Roby apalagi Ana sampai membayangkan ekspresi wajah Roby yang sangat menyebalkan.

__ADS_1


"Kenapa hidup ku jadi serumit ini,"


Bersambung...


__ADS_2