My Exotic Wife

My Exotic Wife
New York City


__ADS_3

Alarm Ana berbunyi sangat menggangu tidur nya. Dengan terpaksa dia membuka mata mengambil ponsel dan mematikan alarm nya. Ana mengusap wajah nya kasar, apakah hari ini akan sama seperti hari-hari kemarin.


Ana dengan segera pergi ke kamar mandi dan memulas sedikit wajah nya dengan make up natural. Ana memang tidak suka yang berlebihan, tampil natural pun dia tetap cantik dengan kulit yang eksotis.


Ana keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Bhumi, ya ini jadi kegiatan nya setiap pagi. Sekarang tugas nya sudah tidak hanya memberikan obat saja tapi juga membangunkan dan masih banyak lagi tugas-tugas yang lain.


Ana mengetuk pintu 3 kali. Tersengar sautan dari Bhumi yang menyuruh nya masuk.


"Sarapan sudah siap." Ana berbalik dan akan pergi dari kamar Bhumi.


"Apa kamu harus aku ingatkan setiap pagi," Ana menghentikan langkah nya.


Sial, kenapa dia selalu menyiksa ku.


Bhumi menyerahkan dasi nya pada Ana memaksa Ana untuk memasangkan nya.


Ana mengambil dari dari tangan Bhumi dengan muka sedikit cemberut. Ana kini fokus dengan kegiatan nya memasangkan Bhumi dasi. Tapi perlahan Bhumi mendekat, trus mendekat. Ana yang sadar dengan kelakuan mesum Bhumi memalingkan wajah nya kasar.


Sial, bisa-bisanya dia menolak ku. Bhumi tersenyum kaku.


"Sudah selesai." Ana sedikit merapikan kemeja Bhumi, dan meninggalkan Bhumi turun untuk sarapan.


"Bu Marni siapkan keperluan Ana, nanti siang Roby akan menjemputnya." Bhumi memberi perintah pda Bu Marni sambil memakan sarapan nya.


"Memangnya aku mau kemana?" Ana sedikit bingung di buat nya.


"Temani perjalanan bisnis ku." Bhumi menjawab singkat.


"Ehhhh tapi tapi." Ana terbata-bata tak tau harus menjawab apa.


"Gaji mu akan aku naikan dua kali lipat" Bhumi pergi meninggalkan Ana yang masih bengong di meja makan.


Gaji, gaji, gaji dari honkong!!!

__ADS_1


"Nyonya." Bu Marni menyadarkan Ana dari lamunan nya.


"Baiklah bu, saya mengerti." Dengan langkah gontai Ana menaiki anak tangga menuju kamar nya untuk bersiap-siap.


Siang hari di bandara Bhumi sudah menunggu Ana di dalam pesawat. Ana yang sudah dijemput oleh Roby langsung di bawa ke airport. Roby menuntun Ana masuk ke dalam pesawat dengan sangat hati-hati.


Ana melihat sekeliling nya, ini jet pribadi yang berbeda dari yang sebelumnya Ana gunakan dengan Bhumi saat honeymoon dulu. Interior kabin nya sangat mewah dan luas berlantai marmer. Jet ini juga lengkapi dengan kamar tidur, walk in closet, dan toilet yang semua nya serba mewah.


Ana melirik Bhumi yang duduk dengan santai sambil memainkan ponsel nya.


"Apa kamu mau terus berdiri?"


"Memangnya kita mau kemana?" Ana meninggikan suara nya.


"Nona silakan duduk, pesawat akan segera take off." Roby membujuk Ana agar tidak bertengkar dengan Bhumi.


Dengan terpaksa Ana duduk di sebelah Bhumi, sepertinya sudah di rencanakan oleh Bhumi dan Roby. Pesawat sedikit terguncang Ana yang memang sedikit takut ketika pesawat take off memegang lengan Bhumi erat. Bhumi hanya tersenyum melihat kelakuan Ana yang sangat menggemaskan.


"Buka mata mu." Bhumi menyruh Ana membuka mata nya dengan nada mengejek.


"Roby kita mau kemana sebenarnya?" Ana bertanya pada Roby yang duduk di belakang.


"Kita akan ke New York nona, sebaiknya anda istrahat saja kita akan terbang selama 20jam."


"20 jam yang sangat membosan kan, Roby apa pilot jet ini ada yang ganteng?"


Ana mulai berbicara hal yang tidak penting.


Roby hanya tersenyum menanggapi kata-kata Ana, berbeda dengan Bhumi yang dari wajah nya saja sudah terlihat kesal.


Selama di pesawat Ana diam saja, tidak menghiraukan Bhumi yang ada di sebelahnya.


Ana menguap beberapa kali, tanpa sadar dia tertidur di bahu Bhumi. Bhumi tidak tega melihat Ana tidur dengan posisi seperti itu. Bhumi berinisiatif menggendong Ana ke kamar tidur dan membaringkan nya.

__ADS_1


Bhumi mendang wajah Ana dengan seksama. Ingatan Bhumi samar-samar mulai mengenali wajah ini, tapi memori tentang Ana sebagian besar terhapus jadi dia tidak yakin dengan apa yang dia ingat saat ini.


Setelah 20 jam berada di atas awan akhirnya tiba juga di bandara internasional John F. Kennedy. Bhumi meraih tangan Ana dan membantunya menuruni tangga.


Sebuah mobil limousin sudah menunggu kedatangan mereka. Bhumi membukakan pintu untuk Ana. Ana yang melihat Bhumi begitu perhatian dengan nya menjadi sedikit lupa tentang masalahnya dengan Bhumi.


Mobil berhenti di sebuah hotel yang sangat mewah. Bhumi turun dari mobil menggandeng tangan Ana berjalan menuju kamar hotel. Entah kemana pergi nya Roby, sampai hotel dia malah hilang.


Seorang butler mengantar mereka menuju lantai paling tinggi bangunan ini, tak lupa sambil menjelaskan panjang kali lebar fasilitas yang terdapat di kamar ini dan di hotel ini. Kamar dengan tipe grand penthouse, di lengkapi dengan privat rooftop memperlihatkan pemandangan kota Manhattan yang sangat indah. Akhir kata yang di ucapkan selamat berbulan madu untuk tuan dan nyonya.


Apa bulan madu? memang sih dulu bulan madu nya gagal tapi kita kesini bukan untuk bulan madu juga kali. Rasa kecewa ku saja belum sembuh.


"Kamar sebesar dan seluas ini apa tempat tidurnya cuma ada satu? kalau gitu aku mau pindah kamar aja, atau kamu aja yang pindah?" Ana sedikit mengancam.


Bhumi tidak menghiraukan kicauan Ana, dia fokus membuka baju nya dan pergi ke kamar mandi.


"Cih, dia mengabaikan ku." Ana tambah kesal di buatnya.


Langit New York sudah berubah menjadi gelap. Ana melihat pemandangan dari kamarnya, kota yang begitu gemerlap. Bhumi tiba-tiba ikut berdiri di samping nya, memandang wajah Ana. Sekarang Bhumi tidak perlu menunggu Ana untuk tidur baru bisa memandang wajah nya. Bhumi sepertinya sudah mulai terang-terangan.


"Apa liat-liat?" Ana melirik Bhumi.


"Kamu cantik." Bhumi menjawab singkat tanpa mengedipkan mata nya.


"Iiiissshhhh." Ana pergi meninggalkan Bhumi merasa risih.


Bhumi menarik tangan Ana sampai jatuh di pelukan nya. Bhumi yang tau kalau Ana akan menolak segera mengunci tubuh Ana sampai dia tidak bisa bergerak.


"Kamu mau apa?" Ana sedikit berontak menggoyang-goyang kan badan nya.


"Sudahlah kamu diam saja jangan melawan lagi." Bhumi membenamkan wajah Ana di dada nya.


Pelukan ini, rasanya nyaman sekali berada di dekat mu sayang. Ana hanyut dalam suasana.

__ADS_1


Bersambung...


Setelah membaca jangan lupa pencet like nya ya, terimakasi. 😊


__ADS_2