My Exotic Wife

My Exotic Wife
Terlalu berharap


__ADS_3

Dari tadi pagi Ana sudah bolak balik kamar mandi, dia mengalami hyperemesis. Padahal kemarin-kemarin Ana tidak begitu merasa mual muntah yang berlebihan.


Bhumi yang mendengar Ana mual-mual di kamar mandi menyusul nya. Bhumi memijat bahu Ana.


"Kamu gak apa-apa kan? Bhumi memastikan keadaan Ana.


"Gak kok, ini wajar saat kehamilan trimester pertama." Ana berusaha menjawab dan memberi penjelasan medis nya.


"Bhumi aku ada shift pagi hari ini, tapi kepala ku pusing banget,"


"Yaudah kamu istirahat aja, nanti Roby akan menghubungi direktur Rumah Sakit.


Bhumi tidak tega meninggalkan Ana yang masih tidak enak badan. Dia mengambil hp nya mencoba menghubungi Roby.


"Batalkan semua janji hari ini, aku gak ke kantor hari ini." Bhumi memberi perintah pada Roby. Bhumi menutup telpon nya.


Ana yang melihat Bhumi begitu perhatian pada nya membuat jantung Ana berdegup kencang.


Apa dia sudah benar-benar berubah.


Oma yang terlihat khawatir datang ke kamar Ana untuk melihat keadaan Ana.


"Sayang kamu gak apa-apa kan? Oma duduk di sebelah Ana yang sedang berbaring di tempat tidur.


"Oma sudah menelepon dokter, kamu sabar ya?"


"Oma, Ana baik-baik saja ini wajar pada ibu hamil." Ana memberi penjelasan pada Oma.


Padahal aku kan dokter, ini kebapa jadi pada heboh kayak gini.


Dokter spesialis Obgyn datang, memeriksa keadaan Ana dan menanyakan keluhan nya. Bhumi di berikan beberapa resep obat agar bisa mengurangin mual-muntah Ana.


"Pak Bhumi, Ana baik-baik saja keluhan ini wajar di trimester pertama. Jadi harus sedikit lebih diberikan perhatian." Dokter berpamitan meninggalkan mereka bertiga.


"Sayang kamu pengen makan apa?" Oma mengelus kepala Ana.


"Pengen makan mie instan pedas Oma."


Oma yang mendengar permintaan Ana sedikit mengkerutkan dahi nya. Terlebih lagi Bhumi yang memang tidak pernah suka makan mie instan yang katanya gak sehat.

__ADS_1


"Gak boleh makan mie instan!!! Nada bicara Bhumi sedikit meninggi.


"Apa gak bisa selain mie instan? biar di buatin aja ya mie nya sma pelayan." Oma berkata sangat lembut.


"Oma di kepala Ana cuma ada mie instan aja," Ana sedikit memelas.


"Kamu nakal ya, mau nya makan yang aneh-aneh." Oma mengelus perut Ana, Bhumi tersenyum melihatnya.


Mie instan di bilang aneh, aku dulu makan setiap hari sampe sekarang baik-baik saja. Ana ngebatin.


Hp Bhumi berdering, dia melihat layar hp nya kemudian bergegas keluar dari kamar. Ana hanya melihat bayangan Bhumi hilang di balik pintu.


Mie instan yang Ana minta sudah di bawakan pelayan. Bu Marni juga ikut berdiri di sebelah tempat tidur Ana.


"Bagaimana nyonya apakah rasanya enak?"


"Enak bu, makasi yah." Ana tersenyum pada Bu Marni.


Yaelah Bu Marni rasa mie instan mah gini-gini aja kali.


Bu Marni pergi dengan pelayan dan membawa mangkok kosong yang isi nya sudah di habiskan Ana. Oma juga ikut pergi karena melihat Ana sudah baikan.


Tumben Juna nge wa aku, setelah terakhir kali bertemu di resepsi pernikahan.


Ana mebalas pesan dari Juna dengan sedikit penasaran. Dari beberapa pesan Juna Ana hanya mengingat satu kalimat yang aneh, Juna seperti mengetahui sesuatu tentang hubungan mereka.


Juna:


Apa benar kalian menikah karena saling mencintai? Haha. Aku sedikit ragu.


"Apa Juna mengetahui sesuatu tentang aku dan Bhumi? Apa mungkin?" Ana merasa ada sesuatu yang janggal.


Bhumi yang akhirnya masuk ke dalam kamar setelah tadi menghilang cukup lama. Dia membawakan Ana segelas susu hangat.


"Minum dulu susu nya," Bhumi menyodorkan gelas ke arah Ana.


Apa pelayan di rumah ini semua pada liburan? Ana heran karena sejak dia tinggal di rumah ini baru pertama kali Bhumi mau melakukan sesuatu untuk orang lain.


"Makasih," Ana tersenyum manis.

__ADS_1


"Bhumi besok kalau aku udah baikan, aku mau kerja ya?"


"Eeeemmmmm," Entah maksud jawaban Bhumi ia atau tidak.


Hari sudah sore ketika Ana terbangun dari tidur siang yang lumayan bisa membuat badan nya sedikit segar. Ana melihat seluruh sudut kamar tapi tak nampak keberadaan Bhumi.


"Kemana pergi nya orang itu?" Ana mulai perduli saat Bhumi tidak ada biasanya Ana sama sekali gak mau tau. Seseorang membuka pintu dan membawa nampan, Ana memfokuskan pandangan nya pada sosok yang belum jelas di lihat.


"Sudah bangun?" Ternyata itu suara Bhumi. Bhumi berjalan menuju tempat tidur membawa nampan berisi makan malam untuk Ana.


"Kamu makan dulu ya," Bhumi berbicara dengen lembut.


Ya Tuhan kalo dia selalu baik seperti ini aku bisa jatuh cinta. Ana mulai senyum-senyum gak jelas.


"Kenapa malah senyum, buka mulut mu," Bhumi mengarahkan sendok ke mulut Ana.


Kenapa senyum nya bikin aku deg-degan.


Ana mulai membayangkan hal yang memang seharusnya tidak pernah dia bayangkan. Senyum di bibir nya masih mengembang padahal shampo sudah meleleh sampe ke mata.


"Sial, kenapa perih nie mata." Halusinasi nya membuat Ana menjadi terlalu linglung.


Ana masuk ke ruang ganti masih hanya memakai handuk padahal peraturan yang mereka buat tidak boleh masuk bila salah satu dari mereka ada di dalam. Ana tidak menyadari kalau Bhumi ada di dalam.


"Ehemmm..." Bhumi mengagetkan Ana, hampir saja Ana melepaskan handuk nya. Seketika muka Ana memerah tidak berani melihat wajah Bhumi.


Kenapa nie orang tiba-tiba ada sini, bagaimana ini.


Ana masih diam dengan muka merah nya.


"Makanya lihat-lihat dulu kalau mau masuk, untung saja aku hanya mengangapmu teman." Bhumi melewati Ana yang masih menunduk karena malu.


Seketika ekspresi wajah Ana berubah ketika mendengar kata teman.


Hanya teman? gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah Ana. Dia terlalu berharap lebih dengan perhatian yang baru beberapa hari di berikan oleh Bhumi.


"Kenapa bahu nya begitu sexy, andai saja dia benar-benar istri ku sudah ku lahap dia. Bhumi duduk di sofa berusaha mengendalikan diri nya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2