My Exotic Wife

My Exotic Wife
Bertemu Oma


__ADS_3

Sudah lebih dari sebulan Ana kembali, akhirnya sore ini dia bisa bertemu Oma. Semangat nya mulai tumbuh mengingat saat trakhir dia meminta ijin untuk pergi dari rumah itu. Dan dengan besar hati Oma memberikan ijin nya, menanggung semua biaya pendidikan Ana di luar negeri.


Bagi Ana Oma adalah seorang ibu, nenek, sahabat yang bisa mengerti Ana sangat baik. Walaupun selama ini sejak Ana dan Bhumi berpisah tidak pernah sekali pun Oma menyarankan Ana untuk kembali pada Bhumi. Oma selalu menghormati keputusan mereka berdua.


Ana sedang duduk di sebuah restoran menunggu kedatangan orang sepesial di hidupnya. Dari kejauhan terlihat wanita dengan gaya yang sangat mewah di dampingin 2 orang pengawal berjas hitam. Ana melambaikan tangan nya, senyum nya menembang sampai semua deretan gigi putih nya terlihat jelas.


"Sayang," panggilan khas Oma pada Ana, Oma merentangkan tangan nya lebar memeluk Ana yang sangat dirindukan.


"Ana kangen banget sama Oma," Ana merengek di pelukan Oma.


"Oma juga sayang." Sambil mengeluh lembut rambut Ana.


"Oh ya oma denger kamu sekarang sudah jadi artis ya? wah wah sekarang Oma lagi diner sama artis nih." Oma menggoda Ana.


"Oma, jangan godain Ana terus dong! Ana malu." Ana menutup wajahnya dengan ke dua tangan nya membuat Oma sangat gemas.


"Cucu Oma memang gk pernah berubah dari dlu, selalu polos seperti ini." Oma mencubit pipi Ana sedikit gemas.


"Oma terimakasih," Ana memegang tangan Oma mata nya berkaca-kaca.


"Ayo kita makan saja, hari ini kamu yang traktir kan?haha." Oma terkekeh menggoda Ana lagi.


"Siap bos, haha." Ana juga ikut tertawa.


Seandainya kehidupan Ana dan Bhumi bisa berjalan dengan baik tidak akan membuat mereka harus bertemu di luar seperti ini. Oma memandang lekat wajah Ana yang sedang sibuk menyantap makanan nya.

__ADS_1


Maafkan Oma sayang, seandainya peristiwa itu tidak terjadi. Kamu pasti sudah bahagia saat ini.


"Selamat malam nyonya Wijaya." Terdengar suara dari samping menyapa Oma.


"Selamat malam juga pak Purnomo." Oma menyapa kembali laki-laki yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum.


"Anda sedang makam malam juga nyonya?" Pak Purnomo sedang bersama istri dan putri nya Elisa.


"Oh ya bergabunglah dengan kami, kami juga baru mulai." Oma dengan ramah menawarkan pada pak Purnomo, di sisi lain terlihat Elisa sedari tadi memperhatikan Ana yang sedang duduk.


"Terimakasih nyonya saya sudah memesan tempat bersama keluarga." Pak Purnomo pergi setelah sedikit basa basi dengan Oma.


"Maaf ya sayang, ayo kita makan lagi." Oma mengelus pipi Ana.


Makan malam mereka sangat seru, Oma sengaja meluangkan waktunya untuk Ana. Oma sangat menikmati kebersamaan bersama Ana, mendengar cerita Ana, tertawa , bergosip. Sama seperti dulu saat Ana masih tinggal di rumah besar itu.


"Kenapa aku hanya mencintai mu?" Bhumi mengusapkan jari jemari nya di wajah Ana.


"Haruskan aku menyatakan perasaan ku?" Bhumi tertunduk bingung.


Dia melangkah menuju sofa membawa beberapa foto Ana bersamanya. Mebalik lembar demi lembar album foto mereka. Kadang senyum nya memgembang, kemudian berubah menjadi sedih. Bhumi menyandarkan kepala nya di bantal sofa sampai tak sadar mata nya terpejam.


Kicauan burung sangat indah terdengar, Bhumi terbangun di atas sofa merah maroon, semalaman dia tertidur di ruang kerja nya. Bhumi melirik jam di tangan, sudah menunjukan pukul 6 pagi. Dia melangkah keluar dari sana tidak lupa merapikan foto-foto yang kemarin dilihatnya.


Bhumi sudah siap berangkat ke kantor, dia menuruni anak tangga satu persatu, sambil merapikan sedikit jas nya. Sudah terlihat jelas wajah orang yang selalu menemani nya. Roby memasang senyum pada bos nya yang tidak ramah sama sekali. Dan benar saja tidak pernah mendapat balasan.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat." Bhumi memberi perintah.


"Anda tidak sarapan dlu tuan?" Bu Marni mengingatkan Bhumi.


"Tidak usah." Bhumi melangkah keluar di iringin oleh Roby.


"Pak ini jadwal anda hari ini, nanti siang kita akan pergi ke Singapore. Saya sudah menyiapkan semua nya." Roby menyerahkan ipad pada Bhumi.


"Pak maaf saya lupa menulis jadwal anda nanti malam ada undangan jamuan makan malam dari tuan Lee." Roby melihat ke kursi belakang.


"Ok baiklah." Bhumi menjawab singkat sambil memandang puluhan mobil yang lalu lalang.


Keramaian lalu lintas menimbulkan kemacetan, Ana sesekali melirik jam di tangan kiri nya. Dia takut terlambat sampai di bandara, Ana beberapa kali menekan klakson. Tapi pergerakan mobil di depan terlalu lambat. Ana menepuk-nepuk tangan nya di setir terlihat panik.


"Seharusnya aku tadi berangkat lebih awal. Jangan sampai aku ketinggalan pesawat." Gumam Ana sambil mengkerutkan alis nya.


Setelah terbebas dari jebakan macet, Ana menginjak gas nya semakin dalam berharap sampai tepat waktu di bandara. Ana mempercepat langkah nya, beruntung dia tiba 30 menit sebelum pesawat take off. Ana menghela nafasnya lega, sekarang dia bisa duduk dengan santai di kursi first class yang di pesankan Juna.


"Beruntung aku tidak ketinggalan, kalau tidak Juna bisa ngomel." Ana bergumam dalam hati.


Ana memejamkan mata nya berusaha untuk tidur. Penerbangan yang akan memakan waktu hampir 2 jam ini lumayan bisa mengisi tenaga nya kembali.


"Selamat tidur." Ana bergumam dengan kursi kosong di sebelah nya.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf baru bisa up hari ini, karena kesibukan akhir-akhir ini jadi jarang bisa fokus nulis. Nulis juga butuh inspirasi kan ya? hehe.


Terimakasih yang sudah selalu nungguin kelanjutan nya. ^_^


__ADS_2