
Juna melirik jam di tangan nya, sepertinya sedang menunggu seseorang.
"Juna, maaf aku telat 30 menit." Ana datang dengan tergesa-gesa.
"Akhirnya sang putri datang juga," Juna menyambut Ana dengan penuh senyum di bibir nya.
"Apaan sih haha," Ana tertawa lepas.
"Oh ya Ana ada yang mau aku tanyakan sama kamu."
"Tapi aku boleh makan dulu kan? Aku laper banget," Ana memasang muka memelas pada Juna.
"Haha, ayo kita makan dulu, kasian kamu pasti capek banget ya."
"iia nih kayakanya anaku sudah demo di dalam," Ana menimpali ucapan Juna.
"Anak?" Juna tampak kaget.
"Apa kamu sedang hamil?" Juna melanjutkan dengan pertanyaan.
"Hehe iiaa," Ana nyengir gak jelas.
Kalau Ana sedang hamil anak dari Bhumi kenapa Bhumi selingkuh dengan Angel, apa aku harus mengatakan semua ini? apa Ana tidak akan terluka? Juna masih tidak mengerti dengan keadaan ini.
Ana sudah melahap habis makanan yang di pesan oleh Juna.
"Juna kamu tadi mau ngomong apa?" Ana memulai pembicaraan.
"Gimana ya, aku bingung harus mulai dari mana?" Juna mengamgaruk kepalanya.
"Ana apa kamu tau Angel? Juna melanjutkan pertanyaan nya.
Kenapa Juna tau Angel? apakah Juna sudah tau kalau Bhumi ada hubungan dengan Angel? Ana tampak diam.
"Ana aku bersahabat dengan Bhumi sejak kecil, kami tumbuh bersama. Dengan siapa Bhumi berhubungan aku tau, kecuali dengan mu, seandainya aku tau, tidak akan aku biarkan kamu menikah dengan nya. Juna semakin serius.
Ehhh cieee apa maksud nya ini? Ana bingung harus menjawab apa.
"Baiklah aku akan berterus terang tentang hubungan ku dengan Bhumi. Kami menikah karena suatu kecelakaan, tidak ada rasa cinta sama sekali, Bhumi menikahiku karena aku hamil. Aku tau Angel, tapi Bhumi tidak pernah cerita tentang Angel kepada ku."
Juna hanya bengong mendengar penjelasan Ana, dia sedikit melihat kesempatan dalam hal ini.
Kalaupun Ana hamil, aku tidak akan patah semangat mendekatinya.
"Ana kalau kamu butuh teman curhat, kamu bisa datang kepadaku." Juna memegang tangan Ana.
"Haha, apan sih aku baik-baik saja kok," Ana menepis tangan Juna.
Iya aku baik-baik saja.
Juna begitu pintar menghibur Ana, sesekali dia lupa akan masalah nya di rumah, apalagi masalah hati nya dengan Bhumi yang hanya dia saja yang tau.
Beberapa pesan masuk ke ponsel Bhumi, ternyata dari Roby. Beberapa foto Ana dan Juna di kirim Roby ke ponsel bos nya.
Roby:
Pak Bhumi saat ini nona Ana sedang makan siang dengan pak Juna.
Bhumi mengepalkan tangan nya sangat kesal.
Apa maksud Juna mendekati Ana, setidaknya saat ini Ana masih istri ku.
__ADS_1
Bhumi mencoba menelepon Ana tapi tidak bisa.
Bhumi mulai sedikit cemas melihat Ana dan Juna berduaan, apalagi melihat Ana bisa tertawa lepas.
Tapi ada apa dengan diriku, kenapa aku begitu peduli dengan Ana.
Bhumi menghela nafas nya dalam.
Tawa Oma terdengar sampai di pintu depan, Bhumi yang baru pulang dari kantor mencari sumber suara tersebut. Ternyata dari ruang keluarga, Ana dan Oma yang tetartawa terbahak-bahak sedang menonton acara komedi di tv.
"Ehemmm...," Bhumi menberi kode keberadaanya diantara dua wanita itu.
"Bhumi kamu sudah pulang," Ana menyapa Bhumi.
"Ana ikut aku," Bhumi terlihat sangat serius.
"Oma Ana ke kamar dulu ya." Ana terlihat penasaran dengan ekspresi Bhumi yang tidak enak di lihat mata.
Oma mengangguk pada Ana, Oma juga sama heran nya dengan Ana melihat wajah Bhumi yang masam seperti mangga rujak haha.
Ana mengikuti Bhumi dari belakang.
"Duduk," Bhumi memberi perintah pada Ana.
"Kemana saja kamu seharian ini? kenapa ponsel mu tidak bisa di hubungi?"
"Seharian ini, aku kerja, trus ketemu dengan Juna, abis itu pulang." Ana dengan santai menjelaskan kegiatan nya.
"Bertemu Juna? kamu ada hubungan apa dengan Juna?" Bhumi masih dengan nada tingginya.
"Tidak ada hubungan apa-apa, aku dan Juna hanya teman, sama seperti kamu dengan ku dan kamu dengan Juna, yaa kita teman." Penjelasan Ana sangat panjang.
"Gak juga, aku hanya bertanya kemana saja kamu seharian ini." Bhumi berusaha mengelak padahal sudah jelas dia terlihat marah. Bhumi ngeloyor ke kamar mandi meninggalkan Ana.
Bhumi keluar dari ruang ganti menggunakan setelan jas sangat rapi wangi parfum nya begitu khas.
"Aku ada acara di luar dengan client,"
"Eeemmm..." Ana yang sibuk nonton drakor menjawab seadanya. Bhumi melangkah keluar kamar nya.
"Tunggu, cincin mu ketinggalan." Ana melihat cincin Bhumi tertinggal di meja.
"Kamu gak mau kan kalau orang lain curiga tentang pernikahan kita?" Ana sebenarnya tau Bhumi pasti keluar akan menemui Angel, tidak biasanya Bhumi pulang kantor terus pergi lagi.
"Ayo di pake," Ana nyengir kuda
"Bye...," Ana melambaikan tangan nya, Bhumi yang tidak menjawab hanya melambaikan tangan ke Ana.
Ana melihat dari jendela Bhumi pergi dengan mobil sport yang berlambang banteng emas miliknya.
"Ahh sudah ku duga dia pergi menemui nenek sihir itu. Buat apa coba dia bohong, dasar buaya."
Jam dinding sudah menunjukan di angka 01.00 tengah malam. Bhumi belum juga kembali. Gila nya Ana tidak bisa tidur, entah dia menunggu Bhumi atau hanya insomnia dadakan.
"Ahh kenapa aku tidak bisa tidur, meeting apa jam segini belum pulang," Ana mengomel sendrian.
Pintu kamar terbuka, Ana seketika memejamkan mata nya pura-pura tidur.
Langkah Bhumi mendekat ke tempat tidur, Ana mencoba tenang, dia tetap memejamkan mata nya. Bhumi merebahkan badan nya di kasur, memandang wajah Ana, mengelus rambut Ana dengan lembut.
Apa dia mabuk, bau alkohol bercampur dengan parfum wanita membuat aku jadi mual. Ana menahan nafas nya.
__ADS_1
Perlahan Bhumi mendekatkan wajah nya, Ana bisa merasakan nafas Bhumi yang begitu dekat, hanya tinggal beberapa inci saja.
Kenapa jantungku berdetak sangat cepat. Ana berusaha mengendalikan diri nya.
Bhumi tiba-tiba bangun dari tempat tidur dan melankah ke kamar mandi.
Ana mengembuskan nafasnya lega.
"Huhhhh...."
Bhumi:
"Aku tau kamu hanya pura-pura tidur untung saja aku tidak mencium mu."
Flasback on
Bhumi dan Angel pergi ke club malam, 3 tahun yang lalu mereka memang sering melakukan kegiatan ini, setelah Angel meninggalkan Bhumi, Bhumi tidak pernah datang ke tempat ini lagi.
Suara musik yang begitu bising, membuat Bhumi sedikit pusing.
Mereka berdua menuju ruang VVIP disana sudah ada beberapa orang teman-teman Bhumi dan Angel.
Angel yang begitu fasih dengan situasi ini, tidak merasa terganggu sama sekali.
Bhumi hanya duduk di sofa, melihat teman-teman nya berpesta.
"Ayo sayang kita turun," Angel menarik tangan Bhumi.
"Tidak," Bhumi melepaskan tangan Angel. Tau kalau Bhumi lagi tidak mood, Angel memeluk Bhumi.
"Maaf sayang," Angel kembali turun menikmati pesta dengan teman-teman nya. Bhumi merasa sudah tidak tahan dengan suara musik yang begitu keras, rasanya gendang telinga nya mau pecah.
Bhumi keluar dan pergi dari tempat itu.
Angel tidak sadar kalau Bhumi sudah pergi. Dia masih asyik menikmati musik dan menari sepanjang malam.
Flashback off
Bhumi berendam di bathtub merelaksasikan pikiran dan tubuh nya. Berendam tengah malam kurang kembang 7 rupa aja haha.
Bhumi nyaman dekat dengan Ana tapi dia juga tidak bisa tanpa Angel, terlalu lama menjalin hubungan dengan Angel membuatnya sulit tanpa Angel.
"Hahhhhh... Aku dan Ana hanya Teman."
Bhumi memjamkan mata nya menerawang jauh.
Alarm Ana berbunyi sangat bising. Ana bangun dari tidurnya, dia mendekati sofa.
"Bhumi bangun sudah pagi," Ana membangunkan Bhumi dengan suara yang lembut.
"Susah banget bangunin nie orang," gumam Ana.
Bhumi tiba-tiba menarik tangan Ana sampai Ana terjatuh di samping nya.
"Apa kamu bilang tadi," Bhumi mendekati wajah Ana. Wajah Ana memerah, dia mendorong tubuh Bhumi dan segara bangun, berlari menuju kamar mandi.
Bhumi hanya tersenyum melihat ekpresi wajah Ana.
"Gadis eksotis itu," Bhumi hanya senyum-senyum tidak jelas.
Bersambung...
__ADS_1