My Exotic Wife

My Exotic Wife
Kabar dari Ibu


__ADS_3

Ana di antar masuk ke dalam rumah mewah yang sangat besar. Rumah bergaya eropa klasik berwarna putih dengan pilar-pilar besar menjulang tinggi sampai lantai 5 di bagian depan. Berhias lampu kristal yang sangat besar dan megah di bagian lobby rumah itu.


Ana di sambut oleh seorang wanita, tidak terlalu tua, juga tidak muda mungkin umur nya sekitar 35 tahunan. Masih cantik, wajah yang tegas, dan terlihat ramah dari tutur kata nya yang sangat sopan.


"Nona bisa menunggu nyonya Tiara di sini." Rina menunjuk ke arah sofa Davinci di depan nya.


Ana kemudian duduk, sedikit memutar bola mata nya memperhatikan rumah besar ini. Terlihat sangat bersih, tidak ada banyak aktifitas. Di bagian dinding terpajang foto-foto keluarga, dan beberapa foto seorang gadis muda yang sangat cantik.


"Maaf sudah membuat anda menunggu." Tiara membuat Ana menghentikan aktifitasnya.


"Tidak apa-apa nyonya, saya juga baru sampai." Ana tersenyum bersalaman dengan Tiara.


"Ayo silakan duduk." Tiara mengajak Ana duduk kembali.


"Saya mengundang nona Ana ke sini bermaksud untuk berterimakasih atas kejadian kemarin, kalau tidak ada anda tidak tau apa yang terjadi pada saya." Ujar Tiara.


"Anda terlalu berlebihan nyonya." Ana tersenyum, sedikit canggung karena mereka sebelumnya tidak saling mengenal.


Senyum gadis ini mengingatkan ku dengan seseorang. Tiara memperhatikan senyuman Ana.


"Nyonya rumah anda begitu indah, desain nya klasik walapun sekarang sudah era modern." Ana membuyarkan lamunan Tiara.


"Rumah ini di bangun oleh ayahku dulu, tapi sekarang hanya tinggal aku sendiri." Tiara menghela nafasnya dalam.


"Maaf nyonya suami anda dan anak-anak anda apa sedang di luar negeri?" Ana memang selalu kepo dan cepat akrab dengan siapa saja.


"Iya." Tiara tersenyum melihat seorang gadis yang antusias dengan kehidupan nya.


Kedua wanita berbeda generasi itu mengobrol panjang lebar, walapun mereka baru kenal tapi sudah sangat akrab. Tiara yang biasanya susah akrab dengan orang lain namun berbeda dengan Ana. Ana memang selalu bisa membuat suasa nyaman dimanapun dia berada.


"Ehem, maaf nyonya makan sudah siap." Rina datang dari arah ruang makan.


"Ayo kita makan dlu." Tiara mengajak Ana makan malam.


"Tidak usah nyonya lain kali saja, saya sudah ada janji dengan beberapa pasien di klinik." Ana baru ingat sudah telat datang ke klinik tempatnya praktek.

__ADS_1


"Wah sayang sekali ya, kalau begitu lain kali jangan menolak kalau saya mengundang kamu lagi ya." Tiara berpesan pada Ana.


"Baik nyonya, saya permisi dulu." Ana melambaikan tangan nya dengan senyum mengembang meninggalkan rumah Tiara.


Tiara masih memikirkan senyuman Ana, entah apa yang membuat nya penasaran dengan senyuman itu.


"Rina kamu boleh pulang, jam kerja mu sudah lewat 1 jam." Tiara melihat ke arah Rina yang masih berdiri di dekat sofa.


"Baik nyonya kalau begitu saya pamit pulang." Rina pamit meninggalkan Tiara.


Kenapa gadis itu membuatku begitu nyaman.


***


Ana duduk di meja kerjanya, menunggu giliran pasien selanjutnya. Dia iseng browsing di internet, mencari siapakah sebenarnya nyonya Tiara. Ana hanya mengetik Tiara di keyword nya, ternyata yang muncul gadis-gadis muda cantik, dan beberapa artis-artis yang nama nya Tiara.


Ana kembali mengubah keyword nya, menjadi pengusaha Tiara, dan tara munculah foto nyonya Tiara dan perusahaan nya. Tidak banyak foto yang ada di internet, hanya beberapa. Kebanyakan membahasa tentang perusahaan nya dan ayahnya sang pendiri Mahaputra Group.


"Halo dok," Ana sedikit kaget tiba-tiba ada yang masuk ke ruangan nya.


"Dok saya mau konsultasi." Ibu-ibu sosialita umurnya mungkin sekitar 45 tahun, dandanan yang terlalu menor dan perhiasan yang berlebihan menbuat penampilan nya sangat ramai.


"Dok saya mau bagian dada saya di pasang implan, soalnya suami saya sekarang sudah rada aneh dok." Si ibu dengan antusian curhat tentang rumah tangga nya. Ana hanya manggut-manggut saja karena memang dia pendengar yang baik tak heran pasien nya rela mengantre demi bertemu Ana.


"Ibu saya akan jelaskan prosedurnya, jadi ibu bisa mempertimbangkan terlebih dahulu." Ana menjelaskan pnjang kali lebar, dan si pasien agak sedikit ngeyel dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyambung.


"Ya udah dok, kapan bisa di lakukan? saya udah gak sabar nih."


"Dok nanti tetep bisa kenyal kan?" dia kembali melanjutkan pertanyaan nya.


Ana tersenyum kemudian dia berkata."Tenang saja bu, kenyal nya seperti jelly."


"Hahaha, dokter bisa aja." Sambil menepuk pundak Ana. Ana hanya tersenyum kecut melihat ibu itu.


"Silakan ibu ke resepsionis untuk mencari jadwal." Si pasien kemudian keluar dari ruangan Ana sambil tersenyum cengengesan.

__ADS_1


"Dapet aja dah pasien model begitu haha." Ana tertawa.


Ponsel Ana berdering, sebuah panggilan tertulis dengan nama "Ibu." Ana buru-buru menjawab nya rasanya sangat rindu. Semenjak Ana kembali ke Indonesia, dia belum sempat lagi mengunjungi ibunya. Terakhir kali mereka bertemu di Boston saat Ana masih tinggal di Amerika.


Ana: Halo ibu


Ibu: Ana apa kamu sehat nak?


Ana: Ana kangan banget sama ibu, tunggu Ana bisa libur dulu ya bu, Ana pasti datang kesana.


Ibu: Ana, ada yang ingin ibu sampaikan, ibu saat ini sedang tidak baik-baik saja. Mungkin karena faktor usia, ibu sudah tua.


Ana : Apa ibu sakit? kok kaka gak ada ngabarin Ana? apa kalian sengaja?. "Tangis Ana pecah mendengar suara pelan ibunya."


Ibu: Ibu baik-baik saja, kamu gak usah khawatir. Tapi ada yang ingin ibu sampaikan.


Ana: Tunggu Ana ya bu, Ana akan segera kesana.


Ibu: Tidak usah jauh-jauh kesini nak, ibu baik-baik saja.


Suara ibu nya tiba-tiba mengilang.


Ana: Halo, halo ibu, halo.


Ana panik tidak ada jawban dari ibu nya, rasa khawatir menyelimuti dirinya. Di kepalanya hanya ada bagaimana cara nya agar bisa cepat sampai di Amerika agar bisa bertemu dengan ibunya sesegera mungkin.


Ana menggeser-geser ponselnya mencari kontak seseorang. Kali ini akan sangat berguna memiliki suami yang sangat kaya raya seperti Bhumi.


"Halo Bhumi, ini aku." Ana pun belum sempat membicarakan panggilan sayang antara mereka berdua.


"Aku butuh bantuan mu, darurat! Aku harus ke Amerika sekarang juga. Ibuku sakit, pinjamkan aku jet pribadimu." Ana langsung ke poin yang ingin dia sampaikan. Ana kemudian menutup telpon menghela nafas lega mendapat jawaban yang menenangkan dari Bhumi.


Diperjalan menuju bandara, Ana mendapat email dari kakanya.


"Dik ibu masuk rumah sakit, tapi kata dokter ibu sudah lebih baik. Kamu tidak perlu khawatir, nanti kalau sudah ada waktu kakak akan telpon."

__ADS_1


Ana semakin khwatir mendapat email dari kakak nya.


Bersambung...


__ADS_2