My Exotic Wife

My Exotic Wife
Pergi ke kantor 2


__ADS_3

Di loby kantor sudah berjejer beberapa orang diantaranya yang menduduki jabatan di kantor ini untuk menyambut kedatangan Bhumi. Kini suasana berubah menjadi horor ketika sebuah mobil berhenti. Bhumi turun dari mobil mewah berwarna hitam mengkilap. Semua orang yang berada di sana menunduk ketika Bhumi berjalan di anatara mereka, dan mengikuti langkah Bhumi menuju ruang rapat.


Ana yang melihat kejadian itu sedikit menahan tawa nya, ternyata di dunia nyata juga ada adegan seperti itu tidak hanya di drama korea nya lee min ho.


Ana tiba lebih dulu dari Bhumi, dia tidak ingin orang-orang di kantor ini berpikiran yang tidak-tidak pada Bhumi apalagi mengenai kesehatan nya.


Ana memakai masker menutup setengah dari wajah nya. Ana sedang menunggu pintu lift terbuka, ketika Bhumi melintas di depan nya diikuti oleh orang-orang di belakang yang menggunakan jas hitam udah kayak takiya genji di film crows zero.


"Apa-apaan mereka semua kayak mau tawuran aja," Ana terkekeh sendiri.


Ana tiba di depan ruangan Bhumi, ketiga sekertaris Bhumi mencegah Ana untuk masuk ke ruangan bos nya karena wajah Ana tidak terlihat jelas.


"Hei ini aku," Ana membuka masker nya menunjukan wajah nya pada ketiga gadis itu.


"Maaf nyonya saya tidak tahu kalau anda akan datang." Salah satu dari mereka meminta maaf pada Ana.


"Ya gak apa, mulai hari ini aku akan datang setiap hari," Ana tersenyum dan mereka bertiga seperti orang kebingungan.


Ana masuk ke dalam, melihat meja Bhumi yang sebelum nya ada foto mereka berdua. Tapi kini sudah tidak ada lagi, mungkin sudah di pindahkan oleh Roby. Ana menyusuri kembali ruangan ini, bola mata nya berhenti di kaca besar yang bahkan tinggi nya setinggi ruangan ini. Pemandangan dari lantai 50 di tower ini sangat memukau.


"Wah indah sekali pemandangan ini." Untuk kali pertama Ana menyusuri ruangan ini walaupun dia pernah beberapa kali ke kantor Bhumi tapi tidak pernah sedetail ini.


Suara hentakan sepatu membuat Ana mengalihkan pandangan nya. Ternyata si empu nya ruangan datang.


"Kalau mau bunuh diri bukan dari sana." Bhumi mengejek Ana dengan sengaja.


Ana mendengus kesal berpindah dari tempatnya berdiri tadi. Dan sekarang Ana memilih duduk di sofa. Bhumi sepertinya sedang sibuk denga tumpukan berkas yang di serahkan oleh Roby.


"Maaf pak, anda tidak boleh bekerja terlalu berat," Ana mengingatkan Bhumi agar tidak memforsir tenaga nya.


"Sebaiknya kamu diam, bikin pusing saja."


"Ok ok, kalau gitu aku mau tidur saja lumayan dapet gaji buta." Ana bergumam sendiri tapi suaranya sengaja di buat sedikit keras agar Bhumi mendengarnya.


Bhumi hanya melihat nya tanpa berkata apapun. Dia melanjutkan lagi pekerjaan nya, beberapa saat Bhumi lupa tentang keberadaan Ana di ruang kerjanya. Bhumi menoleh ke arah Ana karena dari tadi dia hanya diam biasanya sangat cerewet.


"Pantesan aja diem ternyata dia tidur, di gaji buat tidur ternyata nih orang." gumam Bhumi.


Bhumi melangkah ke arah sofa, hendak membangunkan Ana. Tapi Bhumi kasihan melihat Ana yang tertidur sangat pulas. Bhumi menundukan leher nya, memeperhatikan setiap jengkal wajah Ana. Dan kalung berlian itu!


"Kenapa kalung berlian itu selalu menganggu pikiran ku." Bhumi bergumam kecil di atas wajah Ana. Ana menggeliat mambuat Bhumi terkejut dan menjauhkan wajah nya dari wajah Ana.

__ADS_1


Jam makan siang, Ana bangun dari tidurnya mungkin bayi di dalam perutnya sedang kelaparan. Ana melihat di sekitarnya, mencari keberadaan Bhumi, tapi tidak ada di meja kerja nya. Ana melihat kesekitar menolah kenanan dan kekiri tapi teteap tidak ada.


Ah sial kemana pergi nya orang itu, apa jangan-jangan dia pergi sama Angel, pasti sengaja deh biar aku gk bisa ikut. Awas aja kamu Bhumi.


"Kamu nyariin aku?" Bhumi keluar dari toilet melihat Ana yang seperti orang kebingungan.


"Emmm... Gak kok pak," Ana menggaruk kepala nya karena malu.


"Oh ya hari ini aku akan keluar dengan Angel, kamu juga bisa pergi kemana aja selama aku makan siang dengan Angel."


Cih, kamu kira aku bakal ngikutin perintah mu? aku bukanlah Ana yang dulu, yang harus menunggu mu untuk jatuh cinta pada ku lagi.


"Baik pak."


Bhumi melihat jam di tangan nya kemudian dia bergegas keluar, diam-diam Ana dan Roby mengikutinya dari belakang. Yah tentu saja sudah ada kesepakatan di antara mereka.


"Rob ikutin terus jangan sampe lolos," pandangan Ana fokus pada mobil di depan nya.


"Baik nona, anda tidak perlu khawatir."


Di parkiran sebuah restoran mewah. Ana dan Roby mengendap-endap seperti abis maling sandal. Melirik kanan dan kiri, akhirnya mereka melihat sosok orang yang di cari. Bhumi masuk ke dalam sendirian tanpa Angel.


"Nona anda masuk saja sekarang, mungkin saja Angel sudah di dalam."


Ana masuk ke dalam restoran, memutar bola mata nya kesegala arah, tapi Ana tidak menemukan keberadaan Bhumi. Ana melangkah lebih jauh ke dalam, Untuk mencari keberadaan dua orang itu. Tapi bukanya ketemu malah di hampiri pelayan.


"Maaf nona apa ada sudah memesan tempat." Pelayan itu dengan sopan bertanya pada Ana.


Fokus Ana sepertinya tidak berada pada pelayan itu, dia masih saja sibuk menoleh kesana kemari.


"Maaf nona."


"Oh ia mbak, saya lagi nyari suami saya, tadi dia masuk ke restoran ini saya sudah janjian tapi ponsel saya mati." Ana berpura-pura karena mungkin saja restoran ini punya tempat privat.


"Oh anda datang bersama pak Bhumi, mari saya tunjukan tempat nya." Pelayan itu mengantar Ana masuk lebih dalam, kesebuah ruangan yang desain interiornya sangat mewah.


"Silakan masuk nona anda sudah di tunggu." Pelayan mempersilakan Ana masuk dan meninggalkan nya.


Ternyata kamu memesan tempat khusus untuk wanita itu, jangan harap kalian bisa berduaan. Ana tersenyum licik, dan masuk kedalam ruangan itu.


Bhumi yang menunggu Angel dari tadi pandangan nya langsung ke arah pintu, dan ketika pintu di buka yang muncul adalah Ana.

__ADS_1


"Kok kamu disini?" Bhumi langsung bertanya pada Ana yang baru saja masuk.


"Saya memesan tempat ini, kenapa bapak ada di sini? Apa jangan-jangan bapak mengambil tempat yang sudah saya pesan, ah saya harus bikin perhitungan sama menager tempat ini."Akting Ana kali ini sedikit bagus.


"Tidak usah, jangan buat ribut di tempat ini." Bhumi menghentikan Ana yang pura-pura akan membuka pintu.


Sepertinya aku sudah cocok jadi lawan main lee min ho hahaaa.


Ana duduk tepat di depan Bhumi agar pandangan nya langsung ke arah Bhumi tidak perlu memutar lehernya lagi.


Beberapa menit sudah berlalu tapi Angel belum juga datang, makanan yang di pesan Bhumi pun sudah datang samua. Bhumi melirik jam di tangan nya, terlihat sedikit gusar.


"Kreookkk," perut Ana dengan tidak sopan berbunyi.


Bhumi yang tidak tega dengan Ana akhirnya mengajak nya makan, dan tidak perlu menunggu Angel lagi.


Yes, entar kalau mak lampir itu datang pasti dia marah besar, gue gak sabar liat muka nya.


Saat mereka makan Angel masuk ke dalam ruangan dengan nada marah-marah pada pelayan. Dia membanting pintu, dan lebih pahit nya melihat Ana dan Bhumi sedang makan siang bersama.


"Apa-apaan ini sayang, kamu sengaja datang bersama nya? sampai-sampai aku tadi di cegat dan gak di kasi masuk sama pelayan."


Ana menaikkan satu alis nya dan memasang senyum licik pada Angel. Angel yang tau kalau Ana sengaja melakukan ini mengepalkan tangan nya kesal.


"Kamu gak usah ribut duduk dan makan makanan itu waktu ku tidak banyak." Bhumi malah tidak menghiraukan rajukan Angel


Angel hanya menurut dan tidak dapat menuntut apa-apa lagi. Tapi dengan sengaja Angel terus berada di dekat Bhumi agar Ana cemburu. Tapi Ana biasa saja melihat nya, Ana tipe orang yang bisa menyembunyikan perasaan nya. Apalagi menghadapi orang macam Angel harus banyak strategi.


Acara makan siang sudah selesai, mereka bertiga keluar dari tempat itu. Angel dengan manja bergelayut di lengan Bhumi. Berbeda dengan Ana yang berjalan mendahului mereka.


"Bapak silakan duluan, saya masih menunggu taxi." Ana memasang senyum sangat manis pada Bhumi.


"Kamu ikut aku aja, kita kan searah." Bhumi melepaskan tangan Angel dari lengan nya.


"Sayang, seharusnya kamu nganterin aku pulang kok malah sama dokter ganjen ini." Angel menuntut pada Bhumi lagi.


"Kamu kan bawa mobil sendiri, apa kamu mau duduk di bagasi, mobil ini hanya muat 2 orang." Bhumi memberi pilihan pada Angel.


"Ini kunci nya pak." Seorang petugas valet parkir datang menyerahkan kunci mobil pada Bhumi.


"Ayo naik." Bhumi masuk ke dalam mobil begitu juga Ana. Angel yang masih diam dengan wajah kusut tidak tau harus melakukan apa.

__ADS_1


"Awas saja kau Ana, akan ku balas lebih dari sebelum nya."


Bersambung...


__ADS_2