
Di hari berikutnya Ana mendampingi dokter Seno, dokter spesialis yang merawat Bhumi. Dokter Seno bilang kalau Bhumi sudah bisa turun dari tempat tidur dan bisa belajar berjalan untuk melatih kaki nya. Bhumi terlihat sangat gembira, ekspresi wajah nya seperti menang lotre 1 milyar, eh salah dia kan kaya raya. Yang ada dipikiran Bhumi adalah sudah tidak sabar untuk pergi dengan Angel.
"Kapan aku bisa pulang om?" Bhumi memburu dokter dengan pertnyaan, yang tak lain adalah sahabat ayahnya dulu semasa SMA.
"Mungkim sekitar 2 atau 3 hari lagi, kamu ini dari kecil sampai sekarang gak pernah berubah selalu tidak sabaran." Dokter Seno melirik Bhumi sedikit kesal.
"Apa gak bisa besok aja om, aku mau ketemu pacar ku," Bhumi berusaha memasang tampang memelas.
"Iiisshhh anak ini!!" Dokter Seno tidak menghiraukan Bhumi dan meninggalkan ruangan itu sambil menepuk pundak Ana.
Sabar Ana, sabar jangan emosi. Ana menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Sayang," Entah dari mana datangnya tidak ada angin tidak ada hujan Angel tiba-tiba sudah ada diruangan itu.
Angel menghampiri Bhumi dan sengaja menyenggol bahu Ana yang berdiri di samping tempat tidur Bhumi. Ana yang tidak siap dengan serangan Angel terlihat meringis kesakitan.
"Sayang, aku kangen." Dengan manja Angel mendarat di pelukan Bhumi.
Tidak lama lagi Ana, aku akan benar-benar menyingkirkan mu.
Ana memutar bola mata nya, sangat memuakan sekali melihat dua orang ini. Untung saja suami nya sedang amnesia kalau tidak bisa-bisa Ana sudah membuat Bhumi babak belur.
Cih, seandainya saja Bhumi tau yang sebenarnya tentang Angel, apa masih bisa semanis ini.
Ana memilih duduk di sofa, sedikit menjauh dengan pasangan itu, Ana sedikit lelah menghadapi Bhumi beberapa minggu ini. Ana memainkan ponsel nya, membuka aplikasi TikTik yang sedang hits saat ini. Berharap dia bisa tertawa melihat orang joged-joged.
"Sayang kamu mau makan? aku suapin ya?" Angel mulai memanas-manasi Ana.
Ana sengaja tidak melihat ke arah mereka, sangat menjengkelkan melihat Angel yang seperti lintah nempel terus dengan Bhumi. Terdengar ketukan pintu membuat Ana sedikit lega.
Semoga yang datang itu Mia atau Drake jangan aja si Roby.
Tapi ternyata tidak sesui harapan Ana, yang datang adalah Juna. Juna membawa beberapa makanan kecil dan 2 gelas ice coffee latte.
"Oh ternyata ada kamu?" Mata Juna mengarah ke arah Angel yang sedang menyuapi Bhumi makanan.
__ADS_1
"Oh sudah gk pake infus lagi lo? kapan bisa pulang?" Juna bertanya pada Bhumi.
"Kata Om Seno sih besok atau lusa," Bhumi menjawab seadanya.
Juna melangkah ke arah sofa, dia sangat mengerti perasan Ana saat ini. Ana tersenyum ke arah Juna, senyum nya masih terlihat manis, walapun hati nya saat ini sedang menangis.
"Muka sudah jelek jadi tambah jelek kalau cemberut gitu," Juna menyodorkan 1 gelas ice coffee ke arah Ana.
"Tapi kamu suka kan?" Ana melirik Juna dengan muka judes lalu mereka tertawa bersama.
Bhumi melihat keakraban Juna dan Ana merasa ada susuatu yang mengganjal tapi Bhumi masih tidak mengerti.
Kenapa dokter menyebalkan itu akrab dengan smua teman dan keluarga ku? Seingat ku, aku tidak pernah bertemu dengan nya.
Ana dan Juna asyik mengobrol sampai tidak mempedulikan mereka. Angel masih bermenja-manja dengan Bhumi, tapi fokus Bhumi malah tertuju pada Ana.
Setiap Ana berbicara dan tertawa dengan Juna, Bhumi melototkan mata nya merasa tidak suka.
"Hei lo kesini mau nengokin gue apa ada maksud lain sih?" nada bicara Bhumi sedikit meninggi.
"An aku balik dulu ya, kayaknya ada yang lagi kesel nih?" Juna melirik ke arah Bhumi.
"Hei Juna jangan ngomong sembarangan, ngapain juga pacarku kesel kamu dekat dengan dokter itu." Angel menyela dengan emosi.
"Sudah-sudah kalian apa-apan sih, Juna kamu balik sana," Ana menyuruh Juna pergi agar tidak terlalu meladeni Angel.
"Baiklah tuan putri haha." Juna memang selalu menyebut Ana dengan sebutan itu, membuat Ana tersenyum dengan perlakuan manis Juna.
Juna pergi dari sana, menyisakan mereka bertiga, dan Bhumi masih bingung melihat kedekatan Juna dan Ana. Bhumi jadi penasaran siapa suami Ana karena beberapa hari ini Ana tidak pernah meninggalkan ruangan ini.
Sore hari di taman rumah sakit, Ana menemani Bhumi yang sedang duduk di kursi roda menghadap ke kolam ikan yang di penuhi dengan ikan koi. Ana menaburkan segenggam makanan ikan kedalam kolam yang di sambut oleh sekawanan ikan berwarna cerah membuat Ana tersenyum melihatnya.
Kenapa senyuman itu terasa tidak asing?
Bhumi yang sedari tadi memeperhatikan Ana.
__ADS_1
"Ehem..." Bhumi mendehem untuk menarik perhatian Ana.
Ana menoleh ke arah Bhumi, sudut mata nya mengisyaratkan ketidaksukaan, dengan dahi yang sedikit mengkerut. Aktifitas yang membuat hati nya senang hrus terhenti karena orang menyebalkan di depan nya.
Apa lagi yang dia mau sekarang, Ana melangkahkan kaki nya mendekat ke arah Bhumi.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Ana sekarang tepat berdiri di samping Bhumi.
"Aku mau ke kamar." Bhumi membalikan kursi roda elektrik nya yang bergerak secara otomatis tanpa perlu bantuan orang lain.
Ana hanya mengiyakan dan mengikuti apa saja perintah suami nya.
"Beberapa hari ini sepertinya anda tidak pernah pulang,"
"Apa suami anda tidak marah," Bhumi melanjutkan kata-kata nya.
Ana sangat terkejut Bhumi menanyakan tentang suami, apa yang harus dia jawab sedangkan suami nya adalah orang yang kini berada di depan nya.
"Maaf pak, anda tidak perlu tau privacy saya." Ana menjawab dengan singkat agar tidak muncul pertnyaan-pertanyaan lain nya.
"Huhhh," Ana menghembuskan nafasnya berusaha sedikit tenang.
"Oke baiklah, aku harap Oma memberimu gaji yang setimpal." Bhumi sepertinya masih penasaran namun dia harus berhenti kepo dengan kehidupan Ana.
Kali ini Ana tidak menjawab lagi, dia berjalan mendahului Bhumi untuk membukakan pintu kamar.
"Aku mau belajar jalan." Bhumi turun dari kursi roda dan berusaha berdiri.
"Biar saya bantu pak." Ana memegang lengan Bhumi dan memapahnya menuju tempat tidur.
"Pak pelan-pelan saja," Ana membantunya berjalan dengan sangat hati-hati tapi mungkin karena Bhumi terlalu lama berada di tempat tidur kaki nya agak sedikit lemah hampir saja dia terjatuh.
Mata itu, Bhumi memandang lekat bola mata Ana yang berada tepat di depan wajah nya.
Lihatlah mata ku, biar kamu ingat siapa aku sebenarnya. Ana dengan sengaja membiarkan Bhumi menatap puas bola mata nya, seakan dia tau kalau Bhumi bisa ingat sesuatu dari mata nya.
__ADS_1
Bersambung...