
Terlihan mobil mewah sudah menunggu Ana di depan kos nya. Ibu kos ana mengamati dari lantai dua, sepertinya dia curiga akhir-akhir ini sering kedatangan mobil mewah. Ana terlihat masuk ke dalam mobil itu di ikuti dengan 1 orang laki-laki berdadan tegap.
"Wah apa si Ana sekarang berhubungan dengan mafia," gumam kecil di mulut ibu kos.
Ana sebenanya canggung dengan pengawalan seperti ini, tapi apa boleh buat ini adalah prosedur yang sering di ucapkan Roby. Pria sinting itu bikin Ana kesel aja kalo ingat muka nya.
Mobil tampak berhenti di sebuah butik besar milik perancang busana terkenal. Pengawal itu membukakan Ana pintu, dan mempersilakan Ana turun. Di dalam butik Oma sudah menunggu sambil berbincang dengan desainer kenamaan negeri ini. Ana muncul dari belakang dan menyapa Oma.
"Oma selamat pagi, maaf Ana sedikit terlambat."
"Sayang, pengantin kita akhirnya datang juga," sambil memberikan pelukan dan ciuman di pipi Ana.
"Kenalkan ini dia calon pengangtin kita," Oma memperkenalkan Ana pada desainer tersebut.
"Wow cantik sekali, warna kulit mu cantik sekali."
Hahh cantik, dekil iiiaa, Ana ngebatin.
Dengan senyum Ana membalas pujian nya.
Oma yang masih melanjutkan obrolan nya membuat Ana menunggu di sofa. Ana sedikit merasa bosan, walaupun ruang VVIP itu di lengkapi berbagai fasilitas mewah.
"Ayo Ana kita coba gaun pengantin mu, Oma memberi perintah pada Ana.
Ana di bimbing dua pelayan masuk ke ruang ganti yang sangat luas beda dengan ruang ganti mall yang selama ini Ana datangi. Pelayan itu membantu memakaikan gaun pada Ana, Ana merasa sangat malu tapi dia tidak bisa menolak.
Pintu ruang ganti di buka oleh pelayan, Ana membalikan badan nya. Gaun putih bertabur swarovski membalut tubuh Ana yang berwarna tan, membuat bahu Ana terlihat indah berpadu dengan warna putih yang bercahaya.
Entah sejak kapan Bhumi berada di sana duduk bersama Oma, semua kagum melihat kecantikan Ana. Bhumi yang sebenarnya tidak suka dengan Ana sampai melongo melihat kecantikan Ana.
"Wow it's amazing," desainer berteriak membuyarkan pandangan mereka.
"Sayang kamu cantik sekali," Oma memeluk Ana.
__ADS_1
"Makasi Oma," Ana membalas pujian Oma.
"Bhumi gimana menurut kamu, ini cantik bukan?"
"Tentu saja Oma, cantik sekali gaun itu."
Apa gaun nya? baiklah suka-suka mu aja mas. Ana terlihat kesal dengan Bhumi.
"Entah untuk apa manusia frezer ini ikutan kesini, bikin mood berubah aja." Ana ngomel di ruang ganti, untung saja dia sendiri kalau tidak mungkin dikira orang gila.
Ana memang jarang memulai obrolan dengan Bhumi, Ana takut kalau dia salah ngomong, dan Ana pun tidak ingin hubungan mereka telalu dekat.
"Ana hari ini temani Oma seharian ya? dari dulu Oma pengen merasakan punya cucu perempuan."
"Baiklah Oma, kemanapun Oma mau Ana akan temani sekalipun ke ujung dunia." Sambil memeluk Oma.
Bhumi tersenyum yang melihat keakraban mereka berdua, setidaknya Oma merasa lebih bahagia akhir-akhir ini. Disisi lain Ana memeperhatikan senyuman Bhumi.
Ternyata orang ini bisa senyum juga, begitu polos senyuman itu. Tidak terlihat kalau dia adalah laki-laki yang galak.
Ana kini berada di kamar Oma, Oma menyerahkan sebuah kotak perhiasan, yang kotak nya saja sudah indah.
"Ana ini adalah perhiasan turun temurun, dulu oma diberikan oleh mertua oma, begitu juga mamanya bumi, Oma berikan perhiasan ini saat menikah. Nah sekarang kamu yang akan memakai perhiasan ini sebagi menantu di keluarga ini.
Ana merasa dirinya tidak pantas menerima pemberian Oma. Dia bukanlah wanita yang di cintai cucunya. Tapi Ana tidak mau mengecewakan Oma.
"Oma untuk saat ini Ana belum bisa menerima nya. Ana akan menerima perhiasan ini ketika Ana sudah sah menjadi menantu keluarga ini."
"Tapi kenapa sayang?" Oma tidak puas dengan jawaban Ana.
"Oma, Ana mohon." muka memelas di tambah lagi rengekan manja Ana membuat Oma gemas.
Tiba-tiba Ana mendapat telepon dari Rumah sakit, Ana pun berpamitan pada Oma dan bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Di depan pintu Ana berpapasan dengan Bhumi. Ana melawati begitu saja, jangankan menyapa, melirik saja tidak.
__ADS_1
Sial wanita itu mengacuhkan ku, mau kemana dia buru-buru seperti itu. Bhumi berkata dalam hati.
Ana yang tiba di rumah sakit langsung menangani pasien. Ternyata hari ini yang seharusnya jaga si Kiara malah gak datang dan tanpa keterangan apapun. Se'enaknya saja udah kayak yang punya rumah sakit saja.
Ana tidak bisa membantu banyak, hanya setelah pasien-pasien tadi di kirim ke ruang rawat inap. Ana pun berpamitan pada teman-teman nya untuk pulang.
Di lobby rumah sakit Ana sudah di tunggu oleh Roby dan mobil mewah nya.
"Yaampun ngapain nih orang disini," Ana ngeloyor begitu saja pura-pura gak liat Roby.
"Maaf nona anda mau kemana? silakan masuk ke mobil?"
"Oh ternyata ada anda ya pak Roby, kok tiba-tiba ada ya? perasaan tadi gak ada deh."
Baiklah nona semoga anda senang, tapi sungguh tidak lucu. Mulut Roby tampak mengerucut tapi nampak masih di tahan.
Akhirnya dengan terpaksa Ana masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Ana mulai bikin rusuh, "pak Roby saya mau makan rujak buah mangga,"
Dimana coba mau nyari mangga, kan gak ada musim mangga haha. Ana tertawa dalam hati.
"Baiklah nona,"
Roby meminta pak supir berhenti di sebuah supermarket, Roby masuk ke dalam, dan beberapa saat di tangan nya sudan ada rujak mangga.
"Ini nona, ada lagi yang anda minta?"
Ana melongo betapa ajaibnya orang ini. Yang gak ada bisa jadi ada.
Makanya nona anda jangan coba-coba mempermainkan saya, tau kan akibatnya.
Tapi Ana tidak mau kalah. Dia malah bernyanyi gak jelas agar Roby tambah kesal. Namun Roby tetap saja tidak bergeming.
__ADS_1
Bersambung...