
Ana mengedipkan mata nya pada Juna dan Roby mereka tidak tau apa yang Ana rencanakan. Ana mendekati Bhumi, dia tersenyum dengan ramah menanyakan keluhan Bhumi saat ini.
Ya saat ini Ana berpura-pura menjadi dokter pribadi Bhumi atas saran Oma, dan dengan kekuasaan yang saat ini dia miliki sebagi nyonya Wijaya, dia bisa dengan leluasa berpura-pura bekerja di rumah sakit milik suaminya ini. Lagi pula beberapa waktu lalu juga Ana bekerja di rumah sakit ini, jadi Ana sama sekali tidak kelihatan seperti sedang berakting.
Ana hanya bertujuan agar bisa bersama Bhumi setiap hari, kalau dia tidak melakukan hal ini. Ana pasti di tolak mentah-mentah oleh Bhumi, karena Bhumi sangat tidak suka dengan orang asing.
"Selamat pagi pak Bhumi saya dokter Ana, saya dokter pribadi anda. Maaf tadi saya lupa memakai jas saya karena mendapat telpon mendadak kalau anda sudah sadar." Ana memperkenalkan diri nya dengan panjang lebar.
"Emm." Bhumi menjawab singkat.
Terlihat sangat jelas kalau Angel sangat tidak suka, raut wajah nya pun berubah. Yang tadi nya sangat ceria merasa menang dari Ana tapi sekarang kusut seperti lap dapur.
Sial ternyata wanita ini licik juga. Tidak akan aku biarkan kamu merebut Bhumi lagi. Angel melirik Ana dengan mata melotot.
Lebih licik mana kamu sama aku hei wanita ular, kita liat saja nanti siapa yang akan menang. Batin Ana
( Lah kok jadi perang batin haha )
"Maaf sepertinya pasien harus istirahat, karena tidak boleh terlalu lelah." Ana berniat mengusir Angel, karen lama-lama melihat wanita ini bisa membuat nya bad mood.
Roby dan Oma mengerti maksud Ana, dan melempar senyum pada Ana karena bisa menyembunyikan rasa kecewa nya. Juna melihat Ana, dia sedikit khawatir dengan kondisi Ana. Tapi Ana malah tersenyum pada nya, setidaknya Juna jadi lebih tenang.
Mereka bertiga meninggalkan ruangan Bhumi. Tinggal Angel saja yang masih betah duduk disana tidak menghiraukan insturksi dari Ana.
Wanita ini memang benar-benar bikin kesal saja, rasanya pengen aku cakar-cakar wajah nya.
"Maaf bu, apa anda tidak mendengar yang saya katakan tadi?" Ana menaikan alis nya sebelah.
"Oh kamu ada ngomong, aku gak denger tuh." Angel memalingkan wajah nya.
__ADS_1
"Kalau ibu tidak mau keluar akan saya panggilkan satpam." Ana membentak, dia tidak peduli dengan Bhumi, yang pnting bisa mengusir wanita ini.
"Bhumi aku gak mau pulang, aku mau disini menemani kamu." Angel merengek pada Bhumi.
Dasar wanita jal*ng, masih bisa sok imut gitu. Yah mumpung suami ku lagi amnesia jadi silakan saja kamu manfaatkan.
"Kamu pulang saja, besok kan bisa datang kesini lagi." Bhumi menyuruh Angel pulang.
Dengan terpaksa Angel mengikuti kata-kata Bhumi. Yah seperti biasa dari dulu dia memang selalu jadi wanita penurut kalau di depan Bhumi. Tapi kalau di belakang jangan di tanya.
Angel melangkah menuju pintu, tidak lupa dia menghampiri Ana dan berbisik pada Ana.
"Jangan merasa menang dulu, ini belum apa-apa." Angel tersenyum licik.
"Akan ku pastikan kau di buang seperti sampah." Ana membalas perkataan Angel, membuat wajah Angel berubah menjadi kecut.
Angel meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apapun lagi. Yakin pasti sampe rumah dia menyusun rencana biar bisa menyingkirkan Ana.
"Kapm aku bisa pulang dok?" Bhumi memulai obrolan nya.
"Setelah anda sembuh pak." Ana menjawab nya singkat.
Harusnya banyak yang aku bicarakan bersama mu sayang tapi ternyata keadaan berkata lain. Aku harus lebih sabar untuk bisa bersama mu.
Ana membuang nafasnya kasar.
"Bapak bisa istirahat, kalau perlu sesuatu bisa panggil saya." Ana menunjukan meja kerja nya di pojok ruangan itu.
Bhumi hanya menganggukan kepala nya lemah. Bhumi masih memperhatika Ana sambil sesekali mencuri pandah ke arah Ana yang sedang duduk.
__ADS_1
Sepertinya aku pernah bertemu dengan nya, tapi dimana? kenapa wajah nya seperti tidak asing.
Bhumi memejamkan mata nya, kepala nya sedikit pusing karena tadi dia terlalu bersemangat melihat orang-orang yang dia sayangi. Tapi tidak termasuk Ana, yang seharusnya dialah yang paling bahagia malah jadi yang paling kecewa.
Ana melirik Bhumi yang sepertinya sudah tidur. Dia buru-buru mengambil ponsel nya dan mengirim pesan untuk Oma. Drama ini bikin Ana deg-degan, padahal dia memang seorang dokter.
Apa akting harus susah kayak gini?
Ana menempelkan kepala nya di sofa pandangan nya kosong, terlihat wajah yang sangat lelah, beberapa hari ini memang Ana jarang istirahat dan jam tidur nya pun menjadi tidak teratur, akhirnya mata Ana tidak bisa mendengar perintah lain lagi selain tidur.
"Dok, Dok," Bhumi memanggil Ana yang masih lelap.
Sial kenapa dia tidur nya begitu pulas, mungkin kalau aku mati dia pasti tidak akan tau.
"Dokter," Bhumi meninggikan suara nya.
Ana sedikit kaget mendengar suara Bhumi, membuat nya bangun dari tidurnya. Ana sedikit tergopoh menghampiri Bhumi.
"Maaf pak saya ketiduran, ada yang bisa saya bantu?"
"Apa suami mu tidak membiarkan mu tidur di rumah? sampai harus tidur di tempat kerja." Sifat asli Bhumi sudah mulai keliatan.
Ya memang benar suami ku tidak menginjinkan ku tidur dan itu kamu.
Ana memutar bola mata nya kesal.
"Seandainya saja aku bisa teriak kalau kamu itu suami ku Bhumi." Ana bergumam pelan sambil memalingkan wajah nya.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf ya update nya agak telat, karena memang lagi sibuk banget. Minta like nya dong biar lebih semangat update ke episode selanjutnya 😊