My Exotic Wife

My Exotic Wife
Mendekati Ana


__ADS_3

Ana membereskan berkas-berkas yang telah di urusnya tadi. Impian selama ini untuk membuka klinik kecantikan sebentar lagi akan terwujud. Ana jauh-jauh datang ke kampus nya untuk mengurus beberapa berkas. Namun hari ini sangat cepat berlalu siang berganti menjadi sore, matahari pun mulai meredup.


Ana mempercepat urusan nya karena harus ke bandara apalagi cuaca akhir-akhir ini tidak bisa di tebak. Ana sibuk menggeser layar ponsel nya mencari taxi online namun tidak ada yang menerima orderan nya. Ana kemudian melangkah ke kedai mie ayam langganan nya dlu. Sambil mengisi perut yang sedang lapar pikirnya.


"Bang mie ayam nya satu." Ana sedikit lemas memesan mie ayam.


"Mbak Ana dari mana saja? dari tadi suami nya sudah nungguin lho." Bang Bambang bertanya pada Ana dengan nada menuntut.


Hah suami? perasaan aku gak punya suami dan datang juga sendirian. Apa karena aku sudah terkenal makanya ada yang mengaku-ngaku jadi suami ku?.


"Suami siapa? saya datang sendirian kok. Suami tetangga maksudnya? haha" Ana tertawa garing.


"Nah itu siapa kalau bukan suami nya mbak Ana." Bang Bambang menunjuk meja di pojok sana.


Ana menoleh ke arah yang di tunjukan si abang mie ayam, hampir saja Ana jantungan di buat nya. Bhumi duduk dengan senyum menawan ke arah nya.


"Yaampun ngapain coba dia ngikutin aku sampai kesini." Gumam Ana sambil membenamkan wajah nya di kedua telapak tangan.


"Mbak Ana mie nya mau saya bawa kemana? mau di sini aja apa mau sama mas nya?"


"Terserah abang aja." Ana melirik kesal.


Si abang main ngeloyor aja ke meja tempat Bhumi duduk membawa pesenan mie ayam milik Ana. Dengan langkah gontai Ana menghampiri tempat duduk Bhumi. Ana sebetulnya ingin menghindar tapi selalu tidak bisa.


"Sedang apa kamu di sini? apa sekarang kamu benar-benar mengikutiku?" Ana memelototkan mata nya sambil berbisik.


"Kalau aku bilang ia memang nya kenapa?" Bhumi menyunggingkan senyum nya, berbeda dengan yang sudah berlalu sekarang Bhumi sudah sedikit lebih berani.


"Terserah." Ana malas berdebat ujung-ujung nya mereka pasti akan bertengkar.

__ADS_1


Ana kemudian menyantap mie ayam pesanan nya. Dalam waktu yang bersamaan hujan turun sangat lebat, udara terasa sangat dingin. Tidak ada percakapan di antara mereka satu sama lain, Bhumi hanya bisa memandang wajah Ana.


Rasanya sangat bahagia bisa sedekat ini dengan mu. Bhumi tersenyum, bola mata nya tidak berkedip menikmati pemandangan di depan nya.


"Kenapa harus hujan? mana besok ada syuting lagi." Ana terlihat cemas melihat ke arah luar.


"Apa kamu mau disini terus?" Bhumi beranjak dari tempat duduk nya, melirik ke arah Ana.


"Kecuali kamu mau menginap di kedai ini." Bhumi mengarahkan pandangan nya ke bang Bambang yang sudah akan memutup kedai mie ayam nya.


Ana sedikit mendengus, mencoba jual mahal tapi Bhumi rupaya lebih licik. Bhumi tidak mempedulikan Ana yang masih betah duduk.


"Mbak Ana, saya udah mau tutup nih besok aja kesini lagi." Si empu nya mie ayam membereskan bangku di dekat Ana.


"Eh iiaa bang." Ana cengengesan tidak tau harus berbuat apa.


"Ya udah aku ikut dengan mu." Ana tiba-tiba sudah berdiri di samping Bhumi.


"Lebih dekat." Bhumi merentangkan jas hitam nya di atas kepala Ana. Ana hanya menuruti saja tak ada kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya. Ketika perasaan lebih kuat di bandingkan dengan logika beginilah jadinya.


Ana mendekatkan tubuhnya, terlalu dekat hingga hembusan nafas Bhumi terasa hangat di sekitar leher nya. Mereka berjalan beriringan menuju ke dalam mobil.


"Pasang dulu sabuk pengamannya." Ana sedikit kaget, wajah Bhumi begitu dekat hanya beberapa inci saja. 2 pasang bola mata saling memandang, begitu dalam. Ana kemudian memalingkan wajah nya, suasana kini berubah manjadi canggung.


Kenapa jantungku tidak bisa di ajak kompromi. Batin Ana.


"Kita mau kemana?" Ana memberanikan diri bertanya setelah terdiam beberapa waktu.


"Ini sudah malam, jadi kita menginap saja. Tidak mungkin kita bisa berangkat menggunakan pesawat dengan cuaca seperti ini." Sebernarnya Bhumi bisa saja melakukan segala nya, apalagi dengan kekuasaan yang dia miliki. Ya nama nya juga laki-laki mencari kesempatan dalam kesempitan.

__ADS_1


"Jangan macam-macam ya, atau kalau tidak aku akan lapor ke polisi dengan tuduhan penculikan anak di bawah umur!" Ana mendelikan mata nya pada Bhumi. Bhumi hanya tersenyum menanggapi perkataan konyol Ana, dan kembali fokus melanjukan mobil nya.


Mereka tiba di hotel, dan sialnya Bhumi sengaja memesan kamar dengan 1 tempat tidur pada menejer hotel. Mereka di antar ke kamar royal president suite dengan pelayan super eksklusif, ya karena sang pemilik hotelah yang memesan itu semua.


"Kenapa ranjang nya cuma satu?" Ana melirik Bhumi kesal.


"Trus mau mu apa?" Bhumi menjawab seadanya sambil membuka kemeja nya yang setengah basah.


"Eits, jangan buka-buka'an di sini? apa kamu mau menodai mata ku?" Ana menutup wajah nya dengan ke dua tangan.


"Terserah kau saja." Bhumi melangkah ke toilet meninggalkan Ana.


Maaf sayang, hanya ini yang bisa aku lakukan agar bisa bersama mu. Bhumi memandang pantulan wajah nya di cermin.


"Awas aja dia berani mendekati ku, aku akan teriak sekencang mungkin." Ana bergumam sendiri.


"Teriak saja, tidak akan ada yang dengar." Bhumi keluar memakai handuk dan mendengar perkataan Ana.


"Dasar mesum." Ana segera menutup tubuh nya dengan selimut takut melihat hal-hal yang tidak wajar.


"Jangan coba-coba tidur di ranjang ini. Kalau tidak kamu akan menyesal!!" Ana berteriak pada Bhumi dari bawah selimut.


Ana yang menyadari tidak ada suara dari Bhumi kemudian membuka selimutnya. Melirik ke arah Bhumi yang sudah tertidur lelap di atas sofa. Ana membenahi posisi nya memejamkan kedua mata nya, jauh di lubuk hati yang terdalam, Ana sangat senang bisa bersama orang yang dia cintai.


Bhumi melangkah mendekati Ana yang sudah terlelap, ternyata pura-pura tidur bisa membuat Ana sedikit tenang. Bhumi duduk di sisi ranjang, memandang wajah polos istri yang sangat dirindukan. Bertahun-tahun akhirnya dia bisa melihat wajah Ana sedekat ini.


"Aku sangat merindukan mu." Bhumi membelai lembut pipi Ana dengan punggung tangan nya.


Entah karena merasa geli Ana menggeliat membuat Bhumi kaget, namun Bhumi tetap tidak beranjak dari tempat duduk nya. Masih sangat betah berada di sisi Ana, mungkin besok dia tidak akan bisa melihatnya sedekat ini. Bhumi terjaga semalaman menemani Ana yang bahkan sudah pergi ke alam mimpi.

__ADS_1


Bersmbung...


__ADS_2