My Exotic Wife

My Exotic Wife
Baby Room


__ADS_3

Sekitar jam 11 malam Ana sampai di rumah, mungkin semua penghuni sudah tidur hanya Bu Marni yang selalu setia menyapa nya. Ya di rumah ini memang ada peraturan ketika pemilik rumah datang, yang harus menyambut kedatangan mereka adalah kepala pelayan tidak peduli jam berapa.


Ana hanya menjawab salam dari Bu Marni dan langsung naik ke kamar nya. Ana membuka pintu kamarnya, menghempaskan tubuh nya di atas tempat tidur.


"Kemana saja kamu jam segini baru pulang?" Suara Bhumi mengagetkan Ana.


Ah sial dari mana datang nya nie orang!!Ana langsung bangun dari tempat tidurnya, dan berdiri.


"Kenapa kamu gak jawab pertanyaan ku," Bhumi melangkah mendekati Ana.


Apa urusan nya dengan mu aku mau pergi jam berapa, kamu pergi sama selingkuhan mu saja aku gak pernah perduli. Ana masih diam tak menjawab.


"Kamu kan bisa telpon atau mengirim pesan pada ku kalau mau keluar rumah." Bhumi sedikit kesal dengan Ana dari tadi hanya diam tidak menjawab.


"Oh maaf aku gak punya contact mu." Ana menjawab dengan enteng.


Ana melangkah ke kamar mandi, tidak menghiraukan keberadaan Bhumi di kamarnya. Bhumi terlihat sangat kesal mendapat perlakuan seperti itu kemudian menarik lengan Ana.


"Kamu mau apa?" Bhumi memaksa memeluk Ana.


"Biarkan seperti ini, kita mulai lagi dari awal." Bhumi mendekap tubuh Ana erat.


Ana tidak mengerti maksud Bhumi, tapi Ana hanya diam berada di pelukan Bhumi dan tidak mengadakan perlawanan lagi.


Apa ingatan nya sudah kembali?


"Apa kamu tau siapa aku?" Ana mendongakan kepala nya melihat wajah Bhumi.

__ADS_1


"Ssssttttt...." Bhumi menutup bibir Ana dengan jari nya.


Kedua pasang mata mereka saling berpandangan, tersimpan perasaan yang sangat dalam tapi sangat sulit di ungkapkan. Bhumi mendaratkan ciuman di bibir Ana, tapi hari ini Ana tidak menolak. Ana hanya menikmati hangatnya ciuman Bhumi saat malam terasa begitu dingin.


Seperti biasa alarm Ana berdering sangat menggangu. Ana menoleh kesamping melihat Bhumi masih memeluknya erat. Ana turun dari tempat tidur sangat hati-hati supaya tidak membangunkan Bhumi.


"Selamat pagi nyonya." Bu Marni menyapa Ana.


"Sudah siap Bu?, apa Oma sudah bangun?". Ana bertanya pada Bu Marni yang sibuk mempersiapkan sarapan bersama koki.


"Nyonya besar tadi pagi sudah berangkat ke London."


"Hari minggu Oma juga ada urusan bisnis?" Ana bertanya pada Bu Marni maha tau segalanya di rumah ini.


"Nyonya ke London karena mendapat udangan dari kerabat nya." Bu Marni kembali menjawab pertanyaan Ana seakan tak ada habisnya.


"Apa aku setampan itu sampai mata mu tidak berkedip?" Kata- kata yang selalu Bhumi katakan.


"Omong kosong." Ana menyantap sarapan nya.


"Hari ini aku akan pergi ke luar." Ana melanjutkan kata-kata nya meminta ijin pada Bhumi.


"Mau kemana?" Bhumi menjawab santai sambil menikmati secangkir kopi.


"Aku hari ini rencana ke baby shop, ya mau liat-liat perlengkapan bayi." Ana sudah sedikit santai mengobrol dengan Bhumi tidak seperti biasanya.


"Apa kita perlu pergi ke singapore." Bhumi mengambil ponsel nya.

__ADS_1


"Gak usah berlebihan deh," Ana melirik Bhumi dengan wajah cemberut.


"Baiklah tuan putri." Bu Marni yang mendengar Bhumi mengatakan tuan putri pada Ana sedikit kaget.


Ana dan Bhumi tiba di mall yang Ana inginkan. Ana melangkah dengan cepat menyeret Bhumi karena sudah tidak sabar. Ana masuk ke sebuah toko perlengkapan bayi cukup terkenal. Melihat-lihat berbagai pernak pernik terlihat sangat lucu khas corak anak-anak.


"Apa kamu suka?" Bhumi menghampiri Ana yang sedang melihat box bayi berwarna putih.


"Ini lucu banget, coba lihat itu ayunan nya aaakkkkkk gemes deh." Sepertinya Ana tertarik pada semua barang di toko ini.


"Apa kita beli semua?" Bhumi merangkul Ana dari belakang.


"Iiisshh sekalian beli toko nya." Ana menaikan salah satu alis nya.


Kebersamaan mereka sedikit terganggu dengan suara deringan ponsel Bhumi beberapa kali, tapi Bhumi dari tadi seperti mengabaikan nya. Ana tau itu dari Angel tapi Ana tetap berpura-pura tidak mengetahui nya. Dia tidak mau merusak mood nya gara-gara wanita itu.


Siapa yang nelpon, kok gak di jawab?" Ana bertanya pada Bhumi.


"Bukan siapa-siapa," Bhumi mematikan hp nya agar tidak ada yang mengganggu mereka lagi.


Mereka tiba lebih dulu di rumah , sedangkan barang-barang yang telah di beli secara khusus di kirim oleh toko menggunakan mobil pick up. Ana dan Bhumi sibuk memasang wall paper di dinding kamar yang nanti nya jadi kamar anak mereka. Bhumi sudah menawarkan pada Ana untuk mencari tukang, tapi Ana menolak mentah-mentah. Ana ingin semuanya di kerjakan sendiri.


Hari minggu ini di habiskan dengan menghias kamar sang calon pewaris keluarga Wijaya. Bhumi sangat kelelahan, dia sampai duduk di lantai saking lelah nya. Ana melihat Bhumi sampai seperti itu demi mengikuti keinginan nya menjadi sangat tersentuh.


Perlahan Ana sudah bisa menerima Bhumi, walapun Bhumi belum mengatakan kalau dia akan menyudahi hubungan nya dengan Angel.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2