
Ana datang ke stasiun tv milik Juna untuk melakukan acara talk show yang di pandu nya. Bersama seorang presenter cantik kenamaan tanah air, Ana tampil sangat memukau. Tidak di pungkiri penampilan nya saat ini lebih terlihat glamour dari pada yang dulu hanya seorang gadis biasa.
Juna menemani Ana di belakang layar karena memang ini hari pertama nya. Sampai semua kru mengira Ana adalah pacar dari bos stasiun tv tempat mereka bekerja. Juna sesekali tersenyum melihat penampilan Ana. Sampai acara selesai Juna masih sabar menunggu Ana mengabaikan pekerjaan nya yang lain.
Melihat Juna berada di sana, Ana langsung menghampiri nya.
"Apa penampilan ku terlihat buruk? aku kelihatan grogi gak?"
"Sangat buruk, aku akan mengganti mu dengan dokter yang lain." Juna terkekeh menggoda Ana.
"Jangan dong, aku gak mau jadi sugar baby mu untuk membayar apartemen itu." Ana memasang wajah memelas, Juna yang gemas melihat Ana kemudian mengacak rambut Ana.
"Hentikan, aku susah payah menyewa penata rambut profesional." Ana sedikit manyun.
Juna hanya tertawa menanggapi Ana, tapi di sisi lain ada yang sedang memperhatikan keakraban mereka. Seorang gadis cantik terlihat sangat polos, berpenampilan sederhana. Rara nama nya bekerja sebagai sekertaris Juna yang baru.
"Apa kamu lapar?" Juna bertanya pada Ana yang sedang merapikan tasnya.
"Apa kamu mau mentraktir ku?" Ana tersenyum licik.
"Kebalik dong, seharusnya kamu yang mentraktirku." Juna sedikit menuntut.
"Tapi aku belum dapet gaji, sepertinya bos ku seorang yang sangat kikir." Ana terkekeh melirik Juna.
"Dasar, ayo kita pergi." Juna menarik tangan Ana.
"Oh ya Ra, aku akan keluar untuk makan siang, jadi kamu tolong persiapkan meeting untuk nanti sore." Juna berbicara pada Rara sekertaris baru nya.
__ADS_1
"Baik pak." Rara menjawab perintah Juna menganggukan kepalanya.
Ana tersenyum pada Rara sambil melambikan tangan melangkah pergi dari tempat itu. Rara melihat Juna sampai punggungnya menghilang dari pandangan.
"Mereka sangat serasi, nona itu sangat cantik dan ramah." Rara melangkah kan kaki nya sambil memikirkan Juna dan Ana.
Roby sedikit berlari masuk ke ruangan Bhumi, ingin menyampaikan sesuatu pada bos nya. Dia melihat Ana lewat tayangan live di tv saat sedang makan siang di kantin kantor. Dengan segera Roby mencari program yang di pandu Ana di aplikasi youtube miliknya.
"Pak maaf saya menggangu." Dengan nafas ngos-ngosang Roby berusaha berbicara sopan.
"Ada apa? seperti habis di kejar setan saja." Bhumi masih sibuk tidak menoleh ke arah Roby.
"Pak saya melihat nona." Kata-kata Roby terhenti. Membuat Bhumi langsung menoleh ke arahnya.
"Anda bisa melihat ini." Roby menyodorkan ponsel milik nya pada Bhumi.
"Bukankah ini stasiun tv milik pak Juna, apa nona sekarang bekerja di sana?" Roby melanjutkan kata-kata nya tapi Bhumi masih diam memandang wajah Ana di layar ponsel.
"Tapi pak?" Roby seperti tidak puas dengan reaksi Bhumi karena selama ini dia sangat mencintai Ana.
"Bukankah hari ini kita ada meeting, apa kamu sudah siapkan semuanya? jangan mengurusi hal yang tidak penting." Bhumi sedikit senewen.
"Baik pak." Roby menjawab dengan tegas dan meninggalkan ruangan Bhumi.
Bhumi mengambil ponsel nya, dan mencari tayangan yang tadi di tunjukan Roby padanya. Tapi saat dia menonton acara itu tiba-tiba Roby masuk kembali ke ruangan nya.
"Pak meeting akan di mulai 1 jam lagi." Roby mengingatkan Bhumi kembali.
__ADS_1
Bhumi kaget mendengar suara Roby dan dengan segera ingin menyembunyikan ponsel nya sampai terjatuh karena salah memasukan ke saku jas nya.
"Ada apa lagi? sudah kamu atur saja sana." Bhumi sedikit kesal melihat ke arah Roby.
Padahal aku cuma mengingatkan, kenapa dia malah marah. Batin Roby.
"Sial Bikin kaget saja," Bhumi bergumam sambil kembali menonton Ana.
Bhumi sebenarnya sangat ingin bertemu Ana tapi saat ini Ana sudah bahagia dengan orang lain membuat nya tidak ingin mengganggu Ana lagi. Bhumi sangat senang Ana sudah kembali. Dalam hati nya masih ingin memperbaiki semua nya.
"Maaf pak nona Elisa ingin bertemu dengan anda." Sekertaris Bhumi masuk ke dalam menyampaikan bahwa Elisa datang ingin menemui Bhumi.
"Halo Bhumi, apa kamu sedang sibuk?" Elisa masuk begitu saja tanpa persetujuan dari Bhumi.
"Sopanlah sedikit, bahkan kita tidak seakrab itu." Bhumi berdiri mendekati Elisa.
"Dewi, tolong telpon Roby saya akan ke ruang meeting sekarang." Bhumi pergi dari ruangan nya meninggalkan Elisa.
Akan ku buat kamu jatuh cinta pada ku Bhumi. Gumam Elisa dengan sangat percaya diri.
Di ruang meeting menager bidang pemasaran sedang presentasi di depan Bhumi. Tapi fokus Bhumi seperti nya tidak ke arah sana, dia terus memandang ponsel nya. Masih melihat Ana tapi video itu sengaja Bhumi jeda saat camera fokus pada wajah Ana.
Roby berbisik memanggil Bhumi, karena semua orang yang berada di ruangan itu menunggu persetujuan Bhumi untuk melanjutkan proyek yang sedang mereka ajukan. Bhumi masih asik memandang ponsel nya.
"Pak, pak," Roby kembali memanggil Bhumi sedikit berbisik. Akhirnya Bhumi menolah ke arah Roby.
"Kalau menurut kalian itu sudah final siapkan saja dokumen nya." Bhumi memberi perintah, dan meninggalkan ruang rapat. Roby yang melihat nya hanya bengong, biasanya Bhumi orang nya sangat perfectionis tapi saat ini tidak ada satu pertanyaan pun yang keluar dari mulut nya dan setuju begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa pak Bhumi sedikit aneh ya?" Roby bergumam sendiri.
Bersambung...