
Matahari sudah mulai kembali ke peraduan. Warna langit pun sudah berubah dari biru menjadi jingga.
Senja yang sangat indah.
Ana sudah bersiap dengan lap dan baskom air hangat. Dia membuka jas berwarna putih bersih dari badan nya dan mengikat rambutnya tinggi tinggi agar tidak mengganggu aktifitas basah ini.
"Saya bantu duduk ya pak? Ana mendekati Bhumi yang masih dengan posisi tidur.
"Mau ngapain dok?" Bhumi memegang selimutnya, seraya tidak membiarkan nya pergi.
"Saya mau membersihkan tubuh Bapak," Ana sedikit memaksa menarik selimut Bhumi.
Sial kenapa harus dengan wanita hamil.
Tapi kalau aku minta dokter laki-laki nanti dikira homo. Ahh kenapa mata nya sperti mau memerkosa ku.
Bhumi pasrah, dia hanya mengikuti perintah Ana. Ana mulai membuka kancing baju Bhumi satu persatu, sedikit ada perasaan aneh yang Bhumi rasakan, bagaimanapun Bhumi laki-laki yang normal.
Ana membersihan tubuh Bhumi bagian atas, mengusap dada nya yang bidang. Ana terlalu fokus dengan kegiatan nya sampai tidak tau kalau mata laki-laki yang ada di depan nya sedang memperhatikan setiap jengkal wajah Ana.
Wajah ini, seperti tidak asing bagi ku.
"Sudah selesai pak." Ana membuyarkan lamunan Bhumi.
"Bapak mau makan sekarang?" Ana melanjutkan kata-katanya.
"Ya boleh," Bhumi menjawab singkat.
Ana menyiakan makanan untuk Bhumi dan sudah siap untuk menyuapi nya. Awalnya Bhumi menolak, karena dari tadi dia merasa sangat canggung. Ana menyilangkan tangan nya di dada dan hanya melihat Bhumi berusaha makan dengan tangan kiri nya.
"Nah susah kan pak? makanya jagan keras kepala." Ana merampas sendok di tangan Bhumi.
Repot juga menghadapi orang amnesia seperti ini!!!
__ADS_1
Suap demi suap makanan masuk ke dalam mulut Bhumi sampai habis.
"Anak pintar," Ana tiba-tiba nyeletuk tanpa sadar.
"Maaf pak." Ana segera meminta maaf takut Bhumi marah.
Sampai kapan harus akting seperti ini. Belum ada sehari aku sudah tidak tahan, aku tidak akan sanggup jika ini sampai berbulan bulan, pengen rasanya membeturkan kelapa mu dengan keras!!! Batin Ana.
Bhumi hanya melihat Ana dengan mimik wajah yang datar tanpa kata-kata. Ana merapikan kembali tempat makanan tadi. Ana berjalan menuju jendela besar. Mata nya menatap jauh ke arah langit yang sudah mulai di penuhi bintang-bintang kecil.
"Huhhhh..." Ana menghembuskan nafasnya kasar.
Cukup lama dia mematung di tempat itu, entah apa yang di pikirkan. Wajahnya begitu sendu, gurat kesedihan terlihat jelas di mata nya. Sampai akhirnya Ana mendengar ada suara yang memanggilnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Ana menghampiri Bhumi.
"Hp ku mana?" Bhumi meminta hp nya pada Ana.
"Maaf pak anda di larang menggunakan ponsel selama masih dalam perawatan."
Aku tau kamu pasti akan menghubungi Angel. Tidak segampang itu marimar!!!
"Aku harus bertemu dengan Angel, aku gak bisa hidup tanpa dia," Bhumi berteriak pada Ana.
Deg...
Kenapa dada ini sangat sesak. Ana masih mencoba tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Roby membuka pintu, sambil menenteng paper bag berisi makanan untuk Ana. Tadi sebelum Roby ke rumah sakit Ana menyuruh nya membelikan makanan jepang di resto favorit Ana.
"Maaf nona ini titipan anda," Roby menyerahan paper bag pada Ana.
Adoh ini ngapain Roby panggil gue nona nona segala.
__ADS_1
Ana memberi kode pada Roby, sudah seperti sedang ekskul pramuka. Roby menganggukan kepala nya, merasa sudah mengerti maksud Ana. Tapi ternyata Roby masih memanggil Ana dengan sebutan nona.
"Maaf saya permisi mau istirahat dulu di ruang sebelah," Ana meminta ijin untuk keluar dari ruangan Bhumi perut nya sudah meminta untuk di isi dari tadi sore.
"Baik nona." Roby menjawab dengan tegas.
Yaelah ini si kutu kupret tadi sudah di kodein masih juga salah sebut.
Ana mempercepat langkah agar Roby tidak mengulang kata yang bisa membuat Bhumi curiga. Tapi telat pemirsa Bhumi ternyata dari tadi memperhatikan mereka.
Bhumi mulai mengintrogasi Roby, apa mungkin Roby ada hubungan dengan dokter itu.
"Nona, nona, emngnya kamu kenal? trus tadi ngapain bawa bungkusan segala." Bhumi menyipitkan mata nya, menatap Roby penuh curiga.
"Tii-iidakkk pak," Roby gelapan menjawab pertnyaan Bhumi. Dan Roby memang tipe orang yang tidak bisa berbohong.
"Kalo ketauan suami nya nanti kamu dikira selingkuh." Bhumi menakut-nakuti Roby.
Suami nya kan bapak sendiri, apa bapak gak cemburu saya membawakan nona makanan.
Saya masih ingat dulu kalau saya melihat senyum nona pasti bapak akan marah pada saya.
"Roby bawa sini hp mu?" Bhumi memberi perintah pada Roby.
"Maaf pak, hp saya sendang rusak." Ternyata dengan terpaksa Roby bisa bohong juga.
"Sial, aku bosan harus seperti ini." Bhumi melihat Roby kesal, Roby hanya mengabaikan nya.
Maaf pak tidak akan saya biarkan Angel mengambil kesempatan dalam keadaan seperti ini.
Di ruang lain Ana sedang berusaha memakan makanan nya tapi susah, di kepalanya terlalu banyak masalah yang trus berputar-putar. Ana menghapus wajah nya kasar, ingin rasanya berteriak agar masalah itu bisa hilang. Tapi itu tidak mudah, Ana mengelus perut nya meyakinkan bayi nya bahwa dia sedang baik-baik saja.
"Sayang kamu yg kuat ya, baik-baik di dalam sini, maafin mami ya nak." Tanpa sadar Ana meneteskan air mata nya.
__ADS_1
Bersambung...