My Exotic Wife

My Exotic Wife
Perkenalan


__ADS_3

Ana berjalan menuju pagar kos nya, di depan sudah ada yang menunggu, seorang laki-laki yang berdiri di samping pintu.


"Silakan masuk nona," Roby membukakan pintu untuk Ana.


"Terimaksih," Ana melampar senyum kemudian masuk dan duduk di jok belakang.


Di perjalanan begitu senyap tak ada satupun yang memulai obrolan atau sekedar bertanya hal-hal ringan.


Ana memberanikan diri untuk bertanya pada Roby yang duduk di kursi depan berdampingan dengan sopir.


"Maaf pak Roby kita mau kemana ya?"


"Kita mau kerumah pak Bhumi, anda akan bertemu dengan ibu Harini Wijaya."


Ana behenti bertanya.


Apakah aku akan di pertemukan dengan ibu nya, ya tuhan tolong aku! Apa ibu nya akan sekaku dan sedingin anaknya. Selamatkan hamba ya Tuhan.


Ana terlihat mulai gugup, tangan Ana berkeringat.


Mobil yang di tumpangi Ana masuk ke pintu gerbang yang sangat besar. Dari gerbang utama menuju rumah utama Ana melewati taman dan pohon rindang dan besar, rerumputan yang hijau sangat indah di kala sore hari seperti sekarang.


Mobil berhenti di depan rumah yang begitu besar, Ana bengong melihat dari dalam mobil.


Wow ini rumah apa hotel bintang 5 yah.


Roby membukakan pintu untuk Ana, "Silakan nona," mempersilakan Ana untuk keluar dari mobil. Di depan ana sudah ada tiga wanita yang berjejer menyambut kedatangan Ana. Diantara ketiga wanita itu salah satu nya ada wanita yang sudah paruh baya, dengan mimik yang agak judes, dan muka yang tegas.


"Silakan nona," wanita itu membimbing Ana masuk ke dalam rumah. Sepertinya orang di rumah ini sudah tau akan kedatangan Ana. Sambil mengikuti langkah wanita itu Ana sedikit mencuri pandang mengamati rumah ini.


"Wahhh besar sekali," gumam Ana dalam hati.


"Silakan duduk nona, nyonya besar akan segera turun."


Ana mengangguk dan tersenyum. Ana duduk diam tak ada seorangpun yang menemani.


Rumah ini begitu besar kira-kira brp orang yang tinggal disni? apa 1 RT atau 1 RW apa mungkin 1 kampung hihi. Ana cekikikan sendiri.


"Halo cantik," terdengar suara yang sangat adem dan lembut, menyapa Ana dri belakang. Ana menoleh melihat seorang wanita anggun nan cantik.


Wahhh daebak!!!

__ADS_1


Cantik sekali walapun sudah tidak muda, tapi sangat mempesona.


Wanita itu mendekati Ana dan memeluknya. "Maaf oma sudah membuat kamu menunggu,"


What oma? oma-oma apaan cantik kek gini?


Ana hanya tersenyum tipis.


"Oh ya Ana apa bhumi sudah menceritakan tentang Oma pada kamu?"


Ana kembali membalas dengan senyuman.


Seandainya saja cucu oma yang terhormat, sedekat itu dengan saya. Sayang kita seperti ini karena suatu keadaan.


"Sudah donk oma, masak calon cucu mantu Oma tidak tau tentang Oma sih." Bhumi tiba-tiba ada di belakang Oma entah dari mana dan sejak kapan datang nya. Ana masih terlihat bingung, tidak tau harus melakukan apa.


Bhumi mendekati Ana, dan merangkul bahu nya sambil berbisik.


"Panggil aku sayang!" Ana melihat Bhumi sambil melotot.


Oma hanya tersenyum melihat nya, akhirnya cucu kesayangan satu-satu nya bisa memiliki pasangan.


Meja makan itu terlihat mewah dan besar padahal mungkin yang duduk di sana setiap hari nya cuma 2 orang. Pelayan berjejer di sebelah meja, ada sekitar 10 orang, dan di tambah 1 lagi ibu judes yang tadi jadi 11.


Bhumi menarik kursi untuk Ana, mengisyaratkan untuk duduk. Ana hanya melempar senyum manis nya.


Para pelayan dengan sigap menyajikan makanan, dan kembali ketempat semula ketika sudah selesai.


Yaampun apa ini nyata, aku kira hanya ada di sinetron.


"Ayo makan yang banyak sayang," Bhumi berkata pada Ana.


"Baik pak, Ehh Sayang." Ana gelagapan salah memanggil Bhumi


Wajar donk salah manggil sejak kapan coba kita sayang-sayangan. Dan aku bukanlah artis yang jago akting.


Bhumi tampak mengerutkan dahi nya.


Sial nie anak bikin kesel aja.


"Ayo Ana makan yang banyak, kamu sekarang kan gak sendiri." Oma sambil memegan tangan Ana dengan lembut.

__ADS_1


Ana menelan ludah, tampak kaget.


Apa di rumah ini gak ada privacy nya, aku kan malu ketauan hamil di luar nikah. Ana melirik kanan kiri dengan wajah masam.


"Baik Oma." Ana menjawab dengan tegas.


Jamuan makan malam telah selesai mereka pindah ke ruang keluarga. Oma mendominasi obrolan Ana hanya tampak mengangguk dan tersenyum. Di arah berbeda tampak Bhumi yang memeperhatikan Ana.


"Ana minggu depan pernikahan dan resepsi kamu dengan Bhumi akan dilangsukan. Jadi km harus siap-siap ya, Oma akan meneror kamu hahaha." Oma tampak bahagia.


Seperti biasa ana hanya mengatakan baik Oma, spertinya dia kehabisan kosa kata berhadapan dengan keluarga Sultan.


"Oma ini sudah malam, Ana harus pulang." Bhumi tampak ingin cepat-cepat menyudahi sandiwara bodoh ini.


"Kamu mau pulang kan sayang?" Bhumi mendekati Ana.


Rupa-rupa nya di kampret mengusir ku.


"Maaf Oma saya pulang dulu, besok saya harus bekerja, makasih sudah menjamu saya dengan baik. Ana berpamitan dengan Oma.


"Baiklah jaga cicit Oma ya sayang," disambung dengan cipika cipiki.


"Baik Oma," Ana membalas dengan senyum yang begitu manis, mengalahkan manis nya gula.


Bhumi membukakan pintu mobil untuk Ana.


Salah makan apa nih si raja minyak, baik banget sama gue hari ini.


Ana melambaikan tangan nya dan menjauh dari pandangan.


Ana merasa lebih baik setidaknya walaupun Bhumo orang yang dingin tapi Ana mendapat perhatian dari Oma nya yang baik hati.


Ana mencoba menelepon ibu nya, Ana ingin menyampaikan kalau dia akan menikah.


"Halo ibu, apa kabar? apa ibu baik-baik saja?apa keluarga kakak disna bahagia? Ibu aku akan menikah, aku mohon doa restu ibu, kami akan menikah seminggu lagi."


"Maafkan aku ibu mungkin ini sangat mendadak, tapi kami pasti akan mengunjungi ibu, setelah kami menikah."


Ibu Ana saat ini tinggal di luar negeri ikut dengan kakak nya yang menikah dengan orang luar. Jadi fix pernikahan Ana tidak akan di hadiri oleh keluarga Ana. Memang sangat tidak menyenangkan tapi dengan begitu akan mudah bagi Ana. Suatu saat nanti dia tidak perlu menjelaskan terlalu banyak dengan keluarga nya bila terjadi sesuatu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2