
Makan malam sudah siap, Bu Marni mendatangi kamar Ana dan mengetuk pintu sangat sopan.
"Nyonya makan malam sudah siap,"
Bu Marni kembali turun ke bawah.
Ana orang pertama yang turun ke meja makan, perut nya sudah sangat lapar, maklum sekarang nafsu makan nya tambah banyak seiring bertambah nya usia kandungan Ana, tapi aneh nya badan Ana tetap segitu saja.
"Bu Marni, Oma mana?"
"Nyonya Besar sedang ada pertemuan di luar," Bu Marni menjawab singkat.
"Kalo gitu Bu Marni duduk aja temenin saya makan,"
Ana mengajak Bu Marni makan bersama.
"Maaf nyonya, tempat saya bukan di sini."
Bu Marni memang tidak suka basa basi apalagi cengengesan seperti Ana.
Ana melanjutkan menyantap makanan nya, tidak berkata apa-apa lagi sebelum Bu Marni berubah tambah horor.
Ana yang sudah selesai makan malah ikut nongkong di dapur ngeliatin para pelayan nyuci piring, memang dasar tidak ada kerjaan dan dia tidak bisa berubah jadi seorang nyonya hanya dalam waktu beberapa bulan.
"Kalian punya pacar gak?"
Ana bertanya pada ke tiga pelayan wanita yang ada di dapur.
Ketiga gadis itu hanya membalas nya dengan senyuman. Tidak berani menjawab apapun. Karena di rumah itu ada peraturan yang sangat ketat, yang di buat oleh Bu Marni.
"Kok kalian diam sih, ayo cerita nanti aku kasi tips cara mendapatkan cinta sejati haha." Ana tertawa dengan candaan yang sama sekali tidak lucu.
"Ehemmmm...sebaiknya nyonya kembali ke kamar." Bu Marni melihat Ana dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Oke Oke baiklah." Ana melangkah menuju lantai atas sambil melirik-lirik Bu Marni kesal.
Ngobrol aja gak boleh, apa aku setiap hari harus ngobrol sama tembok.
Bhumi masuk ke ruang ganti hendak mengambil piyama milik nya, tapi pandangan nya berdadu dengan mata Ana. Ana masih memegang baju tidur yang belum sempat dia pakai mulut nya terkunci. Tidak tau harus mengatakan apa.
Sejak kapan dia datang, kenapa dia mendekat terus bukanya malah pergi. Ana bingung dengan gerak gerik Bhumi.
Bukankah kamu itu istriku, aku akan membuktikan kalau kamu itu milik ku Ana. Bhumi berjalan mendekati Ana.
Ana sedikit demi sedikit berjalan mundur sampai tidak bisa berkutik di sudut lemari.
Bhumi mulai mendekatkan wajah nya, nafasnya begitu jelas Ana rasakan. Bhumi menyentuh leher Ana sampai ke bahu membuat nya merinding sambil memejamkan mata.
Apa yang terjadi pada ku sekarang, ada apa dengan nya, haruskah aku berteriak, tapi kenapa mulut ku tidak bisa di ajak kerja sama.
Ana merasakan bibir nya begitu hangat, Ana diam tidak melalukan perlawanan. Tangan nya masih memegang erat baju yang menutupi bagian dadanya.
"Stop," Ana mendorong tubuh Bhumi agar menghentikan aktifitas nya.
"Maaf Bhumi aku bukan Angel." Ana melangkah keluar dari ruangan itu.
"Kamu memang bukan Angel dan tidak akan pernah menjadi Angel." Bhumi memegang tangan Ana menghentikan langkah nya.
"Aku sudah putus dengan Angel."
Seperti angin segar bagi Ana mendengar kata-kata Bhumi, tidak bisa di pungkiri Ana selama ini memang suka dengan Bhumi tapi dia berusaha mengabaikan perasaan nya.
Jantungku rasanya mau copot mendengar ucapan Bhumi tadi.
Bhumi memeluk Ana dari belakang
"Kita mulai dari awal, maaf aku terlalu lama menyadari perasaan ku."
__ADS_1
Ana sangat bahagia mendengar kata-kata itu sudah seperti kajatuhan durian runtuh. Ana berharap ini bukan mimpi seperti kemarin.
"Kreeookkk," perut Ana berbunyi membuat nya malu.
"Apa kamu lapar?" Bhumi juga mendengar bunyi perut Ana.
"Hehe sepertinya ia, akhir-akhir ini aku sering lapar." Ana cengengesan.
"Kamu nakal ya," Bhumi mengelus perut Ana.
Apa ini nyata ya Tuhan? Ana merasa sangat bahagia.
"Ayo kamu harus makan, kasian Anak ku kelaparan di dalam." Ana hanya tersenyum mendapat perhatian dari Bhumi.
Bhumi menelepon Bu Marni untuk menyiapakan makanan untuk Ana, membuat repot para pelayan di bawah.
Selesai makan Ana naik ke tempat tidur, Bhumi mengikuti nya dan tidur di samping Ana.
"Kamu mau tidur disini? Ana tidak jadi merebahkan kepala nya.
"Mulai sekarang kita akan tidur bersma."
"Apa???" Ana sedikit berteriak.
Apa ini nyata? aku gugup sekali, sedikit pura-pura menolak gak apa-apa kan? haha
"Sudah, kamu tidur saja."
Bhumi menjatuhkan kepala Ana di bahu nya, mengelus-ngelus rambut Ana sampai dia tertidur dengan pulas.
Aku berjanji akan menjaga mu dan Anak kita Ana.
Bersambung...
__ADS_1