
Suara bel apartemen Ana sangat bising, seorang ibu muda dengan menggandeng tangan mungil sedang menunggu seseorang membukakan pintu. Ya dia adalah Mia, berada di depan pintu menunggu Ana yang tidak kunjung muncul membuka pintu untuknya.
"Siapa sih sore-sore datang, baru saja aku tidur ada aja yang ganggu." Gumam Ana sambil melangkah ke arah pintu.
"Ceklek." Ana membuka pintu dengan wajah masih berantakan.
"Oh Tuhan, akhirnya dia bangkit dari kubur, An tolong jagain Demian beberapa jam saja, aku mau pergi ke rumah sakit katanya ada pasien yang harus di lakukan tindakan SC sesegera mungkin." Mia menyerahkan tangan mungil Demian pada Ana.
"Eh eh tapi." Belum sempat Ana mengatakan sesuatu Mia sudah berlari dengan kecepatan 80km/jam.
"Ah bisa-bisa nya dia meninggalkan Demian begitu saja bersama ku." Ana menoleh ke arah anak polos itu. Tapi sebenarnya Demian tidak sepolos yang Ana kira.
Ana mengajak Demian masuk ke dalam apartemen nya. Menemani Demian menonton cartoon, tapi memang dasarnya anak kecil itu cepat sekali merasa bosan. Ana di buat repot oleh nya, apartemen Ana di buatnya berantakan. Ana masih sabar, karena memang dia suka anak kecil. Sedikitpun Ana tidak memarahi atau membentak Demian. Dia hanya membiarkan anak kecil itu bermain sampai puas.
"Apa kamu lapar?" Demian mendekat kemudian memeluk Ana.
"Kamu mau makan sesuatu?" Ana kembali bertanya.
"Tante aku mau cari daddy." Demian merengek, sepertinya dia sudah bosan bermain dengan Ana.
"Tapi daddy kamu belum pulang, tunggu lagi sebentar yah." Ana mencoba menenangkan Demian.
Tiba-tiba Demian menangis, Ana berusaha menenangkan nya dengan menggendong anak itu. Mencoba memberikan nya es cream tapi Demian tetap saja tidak mau berhenti menangis. Ana sedikit panik, dia mencoba menghubungi Mia tapi tidak bisa.
"Jangan nagis ya sayang, iia tante anterin nyari daddy yuk." Ana sedikit ragu dengan keputusan nya ini.
Tapi mau gak mau dia harus tetap mencari Drake sesui permintaan Demian. Ana mengganti baju seadanya, karena Demian sudah tidak sabaran. Ana mencoba mengulur-ulur waktu agak anak itu lupa tapi percuma. Demian lebih pintar sepertinya, dia tidak mudah di bodohi.
__ADS_1
"Ayo dong tante, kita cari daddy." Demian menarik-narik baju Ana.
"Iia sayang tunggu sebentar, tante ambil kunci mobil dulu." Beruntung Ana mempunyai akses serba privat kalau tidak mungkin dia di kira komplotan penculikan anak.
"Tante, aku mau es cream." Demian menoleh ke arah Ana yang sedang fokus menyetir.
"Yaelah nie anak banyak mau nya sama kayak emak nya." Gumam Ana dalam hati.
"Tunggu ya tante beli dulu." Ana berhenti sejenak di indoagustus untuk membelikan Demian es cream.
"Ini es cream nya, apa kamu suka?" Ana menyodorkan es cream pada Demian.
"Yummy." Wajah imut dan menggemaskan Demian sudah kembali, berbeda dengan yang tadi menangis seperti orang kesurupan.
"Kalau begitu, kita pulang sekarang ya." Ana berusaha membujuk Demian.
"No tante, kita kan mau cari daddy." Demian berteriak pada Ana.
Mobil Ana memasuki kawasan parkir perkantoran yang sangat besar. Tambangjaya tower, gedung yang begitu tinggi, ya ini adalah perusahaan milik Bhumi. Ana sedikit ragu untuk turun dan masuk ke kantor itu. Mulut nya sudah mulai komat kamit berharap tidak bertemu dengan Bhumi.
"Ayo tante kita keluar." Demian mencoba membuka pintu.
"Ya ya ayo kita cari daddy mu." Ana mencoba tenang, tapi sangat sulit.
Semoga aku tidak bertemu dengan Bhumi. Bantu aku ya Tuhan, Ana berdoa dalam hati.
Ana masuk ke dalam, melihat kanan dan kiri sudah seperti seorang penyelinap. Ana menghampiri resepsionis bertanya ruangan Drake dimana. Ya setidaknya dulu dia lumayan sering ke kantor ini menemui Bhumi. Ana sudah mendapat petunjuk dari resepsionis. Dia menggendong Demian masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Ana berdoa supaya tidak ada yang masuk ke lift ini, tapi setiap lift berhenti dia membalikan wajah nya ke arah dinding lift. Akhirnya sampai di lantai 25, Ana keluar dari lift, memutar kepala nya melihat kanan dan kiri. Ana merasa aman, Ana melangkah menuju Ruangan Drake. Sialnya dia melihat dari kejauhan Bhumi keluar dari sana. Ana kemudian masuk ke dalam ruangan yang pintu nya terbuka.
"Sial, hampir saja." Ana mendekap Demian di dadanya.
"Tante kenapa sih?" Demian protes, karena untuk mencari ayahnya saja sangat butuh perjuangan.
"Kamu diam saja," Ana mulai kesal.
Ana keluar dari tempat itu, sedikit berlari masuk ke dalam ruang kerja Drake. Ana segera menutup ruangan itu rapat-rapat. Drake heran melihat Ana yang terengah-engah.
"Ada apa kakak ipar? kenapa Demian ada bersamamu?" Drake menghampiri Ana dan mengambil Demian dari gendongan nya.
"Tanya saja sama istri mu, gara-gara dia aku jadi penyelinap seperti ini." Ana menghempaskan tubuh nya di sofa.
"Minum dulu." Drake menyodorkan sebotol air pada Ana sambil menggendong anak nya.
"Apa kamu punya kaca mata hitam? aku pinjam sebentar." Ana menoleh ke arah Drake.
Drake menurunkan Demian dan mengambilkan kaca mata di laci meja kerja nya. Demian yang duduk di sofa bengong melihat Ana yang sedikit aneh.
"Buat apa kaca mata ini?" Drake memberikan nya pada Ana.
"Kau diam saja, aku mau pulang dulu, bye Demian." Ana melambikan tangan nya pada Demian dan meninggalkan ruangan Drake.
"Drake hanya tersenyum melihat kelakuan Ana.
Ah sial gara-gara Demian aku jadi seperti buronan. Ana melangkahkan kaki sedikit lebih cepat dengan kepala menunduk.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf baru bisa up jam segini, setelah baca inget pencet like nya ya makasih 😊