
Selingan sedikit ya kita bahas tentang Juna, kasian jomblo terus, thor mau cariin jodoh dlu haha.
Elisa berdiri melihat patung kuda yang sangat cantik terpajang di sudut meja. Dia berfikir ini sangat cocok jika di pajang di meja kerja ayah nya. Ayah nya sangat menyukai kuda, tidak heran keluarga Purnomo sampai memiliki peternakan kuda.
"Aku duluan." Seseorang mengambil patung kuda yang sedari tadi di pandangi oleh Elisa.
"Kamu!!! Kembalikan itu punya ku." Elisa merajuk sedikit berteriak pada Juna.
"Siapa cepat dia dapat, siapa suruh dari tadi hanya melotot saja." Juna meninggalkan Elisa yang masih diam karena kesal.
"Tunggu!!!" Elisa mengejar Juna yang 5 langkah di depan nya.
"Ini punya ku, aku yang lebih dulu menemukan nya." Elisa mencoba menarik patung itu dari tangan Juna.
"Tidak bisa, aku yang menemukan nya duluan." Terjadi tarik menarik di antara kedua nya. Karena tenaga Elisa kalah kuat dari Juna, dia tidak bisa merebut patung itu dari Juna.
"Kamu harus ngalah sama perempuan." Elisa kembali meneriaki Juna.
"Tapi bukan perempuan seperti mu, yang galak nya luar biasa haha." Juna tertawa sambil membawa patung itu ke kasir. Di sisi lain Elisa hanya memandangi Juna di dekat pintu keluar.
Dengan langkah gontai Elisa keluar dari toko barang antik itu. Tidak ingin mencari barang yang lain, dia hanya tertarik dengan patung kuda itu saja. Juna lewat di depan nya dengan wajah merona berusaha membuat Elisa terpancing.
"Hey tunggu." Elisa memekik menyuruh Juna berhenti.
"Kembalikan patung itu, aku akan membayar berapapun yang kamu minta." Elisa sedikit memohon.
"Apa kamu lupa aku ini siapa? Uang bukan masalah bagi ku." Juna menyunggingkan senyum nya.
"Oke baiklah." Elisa menghela nafasnya satu hembusan.
"Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan, tapi berikan patung itu pada ku."
__ADS_1
"Apapun?" Juna tersenyum perangkapnya kini telah mengenai sasaran.
"Iya apapun, cepat berikan!!!" Elisa kembali berteriak.
"Tenang nona Elisa Purnomo, aku akan memberikan patung ini dengan satu syarat." Juna mulai melancarkan aksi nya.
"Oke, cepat katakan." Elisa menggigit bibir bawah nya. Sepersekian detik Juna memandang wajah Elisa yang memang begitu cantik namun karena sifat nya yang khas, sangat arogan membuat nya tidak banyak memiliki teman sesama pebisnis muda.
"Perusahaan ku akan bekerjasama dengan perusahaan paman mu, aku dengar kau adalah orang yang paling berpengaruh dengan keputusan yang di ambil oleh nya. Jadi aku harap kamu mengerti apa yang aku maksud." Juna menaikkan salah satu alisnya.
"Oh jadi kamu mau aku mempengaruhi om Harry." Elisa diam sejenak.
"Itu sangat mudah bagi ku, oke kita deal." Mereka berdua berjabat tangan menyetujui kesepakatan yang mereka buat.
"Bawa sini patung nya, jadi aku tidak perlu membayar ini kan?" Elisa tersenyum simpul. "Berikan nomor ponsel mu, aku akan mantransfer uang nya nanti." Elisa menyerahkan ponsel nya kepada Juna.
Juna meraih ponsel Elisa dan mengetik kan nomor nya. Mereka berdua berpisah setelah terjadi kesepakatan yang Juna inginkan. Juna menyetir mobilnya menuju kantor, sambil tersenyum tidak jelas juna measih memikirkan Elisa. Gadis itu begitu mudah membujuk hanya karena patung. Sebentar lagi stasiun tv milik Juna bisa bergabung dengan stasiun tv terbesar di negara ini.
Juna tiba di kantor, dia memarkir mobil nya kemudian turun. Tapi pandangan beralih ketika melihat Rara sedang bersama seorang laki-laki. Juna berdiri di sisi pilar tepat membelakangi Rara dan laki-laki itu. Terdengar canda tawa yang sangat riang, sesekali mereka berciuman.
"Ah sial ngapain aku ngintipin orang pacaran." Juna melangkah ke arah lift kemudian naik menuju ruangan nya.
Jam makan siang telah usai, Juna memanggil staf sekertarisnya yang terdiri dari 3 orang. Salah satu nya adalah Rara, Juna memerintahkan untuk menyiapkan dokumen tentang kerjasama dengan perusahaan Indomedia corp milik Harry Purnomo.
"Kalau begitu kalian lanjutkan saja, oh ya untuk Rara saya minta waktunya sebentar ya." Rara masih duduk di sofa ruang kerja Juna, dan teman nya yang lain sudah keluar terlebih dahulu.
"Apa kamu sudah punya pacar." Juna memandang ke arah Rara, mengingat saat makan siang terakhir bersama Ana, Ana mencoba menjodohkan mereka berdua.
"Belum pak." Rara tersenyum sambil menunduk merasa Juna memberi perhatian pada nya.
Kenapa pak Juna tiba-tiba bertanya itu padaku, Batin Rara.
__ADS_1
"Kamu boleh kembali ke tempat mu." Juna menyungginkan senyum nya, di balik wajah polos Rara ternyata menyimpan sesuatu.
"Kali ini tebakan mu salah Ana, tidak semua yang terlihat baik di luar, di dalam nya juga baik." Juna bergumam sendiri.
***
Ana bersimpuh di tempat peristirahatan terakhir ibu nya, air mata nya terus mengalir walapun tidak meninmbulkan suara. Bhumi dengan setia duduk menemani Ana di sebelahnya sambil mengelus bahu Ana. Seraya menenangkan wanita yang berada di samping nya.
"Ayo kita kembali ke hotel ini sudah sore." Bhumi memegang tangan Ana erat. Ana masih diam tidak bergeming dari posisinya.
"Ibu sudah tenang, kalau kamu seperti ini kamu bisa sakit." Bhumi kembali meyakinkan Ana.
"Aku ingin menginap di rumah kakak ku, ada sesuatu yang harus aku pastikan." Ana melirik lirih ke arah Bhumi.
"Oke, apapun yang kamu inginkan." Bhumi memeluk istrinya, berusaha agar Ana merasa nyaman.
Langit sudah gelap ketika Ana sampai di rumah kakaknya, Ana melangkah masuk ke dalam menuju kamar ibu nya. Suara ibu nya pun rasanya masih terngiang-ngiang di telinga Ana. Bhumi yang masih segan berada di rumah ini karena memang baru pertama kali datang. Dia memilih hanya menunggu di ruang keluarga menemani keponakan Ana bermain.
Ana menyusuri kamar itu, melihat barang-barang peninggalan ibu nya. Air matanya pu saat ini tidak bisa menetes lagi walaupun masih ingin menangis. Pandangan Ana tertuju pada lemari besar berpintu 6 di depan nya.
"Apa yang ibu katakan itu benar?" Ana bergumam sendiri, membuka lemari di hadapan nya.
Ana mencari sebuah kotak kayu yang ibu nya bilang di saat terakhirnya, ya walapun Ana menganggap saat itu ibu nya sudah mengalami penurunan kesadaran. Ana ingat ibu nya bilang sesuatu yang sangat Ana tidak percaya.
Ana membuka lemari dengan 6 pintu di depan nya, memeriksa setiap bilik yang dia buka. Jantung Ana rasanya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ana harap kata-kata ibu nya di saat terakhir tidak benar adanya.
Ana membuka pintu ke 3 dari pintu pertama yang di bukanya. Terlihat sebuah kotak, dengan ornamen bunga-bunga khas jaman dulu. Ana berdiri hanya memandangi saja. Takut kalau membuka kotak itu akan terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Apa aku harus membuka nya." Ana kembali bergumam sendiri, mayakinkan dirinya.
Bersambung....
__ADS_1