
"Nona."
"Nona."
Suara merdu seorang perempuan memanggil Ana berkali-kali. Selama dipesawat dia benar-benar tidak sadarkan diri.
"Emmmm." Ana membuka mata nya, mengusap dengan jari telunjuk.
"Nona anda sudah sampai di tempat tujuan." Pramugari dengan sopan berdiri di samping Ana.
"Hahh sudah landing?" Ana segera mengubah posisi nya kemudian meraih tas kecil di sebelahnya.
"Aduh maaf ya mbak, sepertinya saya tadi salah minum obat." Ana sedikit beralasan karena malu.
Ana keluar dari bandara mencari orang suruhan Juna yang sudah menjemputnya. Ana kemudian di bawa ke hotel untuk beristirahat, karena nanti malam dia harus menghadiri pesta bersama Juna.
Ana melangkah menuju kamar nya, Ana berdiri mematung di depan kamar 101. Ana teringat sesuatu dengan nomor kamar ini. Ana kemudian masuk ke dalam mengehempaskan tubuh nya di atas tempat tidur. Kembali melanjutkan tidurnya yang tetunda tadi di pesawat.
Roby melangkah ke arah Bhumi yang sedang menunggu nya untuk cek in. Roby kemudian menyerahkan kartu pada Bhumi agar bisa masuk ke dalam kamar hotel. Bhumi mencari kamar yang di pesankan Roby tadi, nomor 102. Bhumi diam sejenak, mencoba mengingat sesuatu tapi tampak nya dia memilih untuk tidak terlalu memikirkan nya. Kemudian masuk ke dalam kamar.
Bhumi menaruh jas nya di atas sofa, kemudian berjalan menuju balkon. Memandang hamparan laut biru nan indah beserta kapal- kapal yang terlihat kecil dari atas. Bhumi merebahkan kepala nya di sandaran kursi memejamkan mata menikmati hembusan angin.
Ana terbangun mendengar deringan beberapa kali dari ponsel nya. Dengan mata masih terpejam Ana meraba-raba mancari sumber suara itu. Namun sebelum Ana sampat menjawab suara telpon itu sudah menghilang.
"Siapa yang menelpon, ah jam berapa ini." Ana memusatkan penglihatan nya pada layar ponsel. Terlihat beberapa pesan masuk ke ponsel nya dari Juna.
Ana berlari ke kamar mandi sebentar lagi Juna akan menjemput nya. Ana berusaha berdandan secepat mungkin, memulas wajah nya dengan make up. Juna sudah memberi tahu nya kalau hari ini dia akan di ajak ke jamuan makan malam para pebisnis besar. Benar saja beberapa saat kemudian Juna datang menjemput Ana.
"Apa kamu sudah siap?" Juna mengajak Ana masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tentu." Ana tersenyum melirik Juna.
Juna mengajak Ana masuk ke dalam gedung, Ana terlihat sangat cantik. Memakai gaun berwarna hitam bermotif terlihat sangat anggun. Di padukan dengan heels warna senada. Juna dengan bangga menggandeng tangan Ana, dan memeperkenalkan kepada rekan bisnis nya.
"Selamat malam tuan Arjuna, apa kabar?" Seoranga laki-laki bule menyapa Juna.
"Selamat malam tuan Paul." Mereka saling berjabat tangan, saling menyakan kabar dan mengobrol tentang urusan bisnis. Ana yang tidak mengerti hanya diam sambil melihat-lihat ke sekeliling nya.
Pandangan nya berhenti ketika dia melihat Bhumi mengobrol dengan seorang wanita. Ana mengerutkan alisnya, seperti pernah melihat wanita itu. Tapi Ana lupa dimana pernah melihat nya.
Kenapa dunia ini begitu sempit, jauh-jauh ke luar negeri malah bertemu dengan nya. Ana berusaha mengalihkan pandangan nya.
Juna menyadari gelagat Ana, dia menyudahi obrolan nya dengan tuan Paul. Dan mengajak Ana menyapa orang-orang yang berada di sana.
"Juna kita mau kemana." Ana berbisik pada Juna.
"Kamu tenang saja, ini akan berguna untuk karir mu ke depan nya." Juna tersenyum melangkah mendekati tuan Lee yang saat itu sedang mengobrol bersama Bhumi dan Elisa.
"Ah Juna kamu tidak perlu se formal itu." Tuan Lee kemudian memeluk Juna dengan penuh tawa.
"Bukankah kalian saling mengenal? Pebisnis muda sedang berkumpul di sini." Tuan Lee melanjutkan kata-katanya.
Juna hanya tersenyum, berbeda dengan Bhumi yang terlihat memasang wajah tidak suka melihat Ana datang bersama Juna.
"Siapa gadis cantik ini? apa dia calon istrimu?" Tuan Lee menanyakan pertanyaan yang semakin membuat Bhumi kesal.
"Kenalin om ini Ana, dia adalah dokter spesialis bedah plastik terbaik saat ini." Ana hanya tersenyum mengulurkan tangan nya pada tuan Lee yang di sebuk juna dengan sebutan om.
"Hai Bhumi, hai nona Elisa." Juna menyapa 2 orang yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
"Apa kalian pacaran?" Tuan Lee kembali menanyakan hal-hal tidak penting.
Juna hanya membalas dengan senyuman sambil memeluk pinggang Ana erat.
"Kenapa dia harus datang bersama Juna, apa dia sengaja ingin membuatku kesal." Gumam Bhumi dalam hati.
"Tuan Lee saya akan ke toilet sebentar." Bhumi berpamitan meninggalkan mereka.
"Lama-lama aku bisa hilang kedali berada di sana bersama Juna." Bhumi bergumam meluapkan kekesalan nya.
Ana melihat Bhumi berlalu begitu saja, Ana sedikit memperhatikan Elisa. Gadis yang cantik tapi telihat sangat sombong dan arogan. Gaya bicara nya yang selalu berusaha mendominasi dan kadang merendahkan orang lain, membuatnya berfikir apa gadis ini adalah pacar Bhumi.
Setelah kepergian Bhumi tadi, Ana tidak melihatnya lagi sampai pesta selesai. Juna berhasil membuat nya marah, sampai tidak ingin berada di antara mereka lagi. Ana kembali hotel, menghapus riasan di wajah nya. Mengganti gaun dengan piyama berwarna peach dan bersiap untuk tidur.
"Ceklek, ceklek"
Gagang pintu kamar Ana seperti ada yang memainkan, kemudian terdengar suara meracau dari luar. Meminta agar pintu itu di bukakan.
"Kenapa kamar ku tidak bisa di buka, cepat buka." Bhumi berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar Ana.
Ana seperti nya mengenal suara itu, tapi dia hanya membiarkan saja. Tapi suara itu terus mengganggu nya. Ana kemudian melangkah mendekati pintu dan membuka nya. Bhumi berdiri dalam keadaan mabuk berat, sambil tersenyum pada Ana. Kemudian ambruk tidak sadarkan diri.
Ana memandang wajah Bhumi yang tertidur di sofa. Bhumi masih memegang kartu dengan nomor 102, kamar yang tepat berada di depan kamar Ana. Kejadian beberapa tahun lalu sepertinya terulang saat ini.
Kenapa kamu mengingatkan ku dengan kajadian beberapa tahun lalu? Apa kita memang di takdirkan seperti ini? Bhumi aku....
Ana mencoba menyentuh wajah Bhumi tapi dia mengurungkan niat nya. Ana terjaga semalaman, mata nya tidak bisa terpejam sedikitpun. Ana melangkahkan kaki menuju balkon, dia hanya memandangi langit gelap sambil menikmati dingin nya malam.
Bersambung...
__ADS_1
Halo halo maaf up nya lama, karena harus fokus kerja juga jadi kalau libur baru bisa fokus nulis nya. Terimakasi yang masih setia nungguin kelanjutan nya.