
Ana turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah sapaan beberapa pelayan pun biasanya dia balas tapi hari ini tumben dia abaikan. Ana menaiki tangga satu persatu, sambil menjinjing tas mewah pemberian Oma.
"Huhh..." Ana menghela nafas dan membuka kaca mata hitam memperlihatkan mata sembab nya setelah semalaman menangis.
Kenapa aku jadi secengeng ini, kalau Angel samapai tau dia pasti sangat bahagia melihat keadaan ku seperti ini.
Pandangan Ana menerawang jauh melihat lampu kristal yang menggantung indah di kamar itu.
"Tok...Tok... Tok..." Suara ketukan pintu membuat Ana tersadar dari lamunan nya.
"Maaf nyonya, saya akan membantu anda memindahkan barang-barang anda." Suara Bu Marni dari balik pintu agak sedikit berteriak.
"Gak usah bu, biar saya sendiri saja," Ana takut kalau sampai bu Marni melihat mata sembab nya.
"Maaf nyonya, saya tidak mau kena masalah karena penolakan anda."
Mereka berdua saling berteriak karena terpisan oleh sebuah pintu.
Mulai deh ngancem lagi, terus aja gitu.
Ana beranjak dari tempat tidur nya, memakai kembali kaca mata hitam sudah seperti tukang pijat refleksi.
Tiga orang sudah berdiri di depan pintu kamar Ana, Bu Marni dan 2 orang pelayan lain nya. Bu Marni tampak menahan tawa nya melihat penampilan Ana saat ini, berbeda dengan 2 pelayan lain nya yang hanya saling melirik satu sama lain.
Apa mereka tidak pernah melihat orang memakai kaca mata sebelumnya.
"Nyonya anda duduk saja, biar kami yang memindahkan semuanya." Bu marni sudah tau seluk beluk kamar Ana, bahkan pakaian dalam Ana saja dia tau dimana tempatnya.
__ADS_1
"Bu saya pindah ke kamar yang mana?"
Ana merapikan foto-foto yang berjejer rapi di atas meja. Mata nya tertuju pada foto pernikahan nya yang saat itu mareka berdua masih sangat canggung, bahkan saat mereka membuat foto itu tidak ada senyum kebahagiaan seperti pasangan lainnya walaupun hanya pura-pura.
"Anda pindah ke kamar sebelah nyonya."
Bu marni masih sibuk memasukkan barang-barang Ana.
Yaelah kalau cuma kamar sebelah mah gk perlu pake kardus sampe di lakban pula kali. Ana memang kadang tidak habis pikir dengan kelakuan orang di rumah ini.
Ana menghela nafasnya melihat kesekitar kamar ini, dari awal sampai di rumah Bhumi hanya kamar ini yang tau bagaimana perjuangan Ana bertahan di rumah ini. Menangis, tertawa, marah, kadang berbicara sendiri hanya di kamar ini.
"Bu Marni tolong ambilkan saya air," Ana merasa perutnya sedikit kram di bagian bawah, sambil memegang perut nya dia berjalan menuju tempat tidur dan mencari posisi nyaman. Dan akhirnya dia melepas kaca mata nya.
"Nyonya apa anda baik-baik saja?" Wajah Bu Marni berubah sangat cemas sambil menyodorkan gelas berisi air yang di minta Ana.
Ana hanya tiduran dan melihat mereka bekerja, karena Bu Marni sudah memperingati Ana untuk tidak turun dari tempat tidur. Entah karena lelah fisik juga psikis tanpa sadar mata nya terpejam dan tertidur sangat pulas.
Nyonya sepertinya anda lelah sekali, Bu Marni memandangi wajah polos Ana dan mata sembabnya.
Bhumi sudah siap akan meninggalkan rumah sakit, di dampingi oleh Roby dan yang pasti di samping nya selalu ada Angel. Pengawal setia Bhumi dengan sigap membukakan pintu mobil mempersilakan Bhumi dan Angel masuk ke dalam.
"Sayang aku laper, kita makan dulu ya?" Rengek Angel pada Bhumi.
"Pak Bhumi sesuai perintah nyonya besar hari ini anda harus pulang, kondisi anda saat ini baru pulih." Roby langsung memotong pembicaraan Angel
takut Bhumi terpengaruh.
__ADS_1
"Baik lah, kamu itu cerewet sekali," Bhumi menggerutu pada Roby.
"Lain kali saja kita pergi nya ya sayang, aku takut Oma marah." Bhumi memegang tangan Angel seraya menenangkan gadis yang sangat dicintainya.
Bhumi masuk ke dalam rumah menggandeng tangan Angel, Ana yang melihat kemesraan mereka merasa hati nya sangat terbakar.
Cih, hari ini kamu beruntung bisa masuk kerumah ini, kalau ada Oma menyentuh pintu gerbang di depan pun kamu jangan pernah bermimpi. Ana terlihat sangat kesal.
"Kamu ada di rumah ku?" Bhumi heran melihat Ana yang mengikutinya sampai di rumah.
"Maaf pak sesuai perintah nyonya besar dokter Ana akan mengawasi kesehatan anda di rumah." Roby langsung memberikan penjelasan takut Ana tidak konsentrasi dan salah bicara.
"Kenapa Oma selalu berlebihan."
"Silakan tuan muda anda harus istirahat." Bu marni mengantarkan Bhumi ke kamarnya. Bhumi masih menggandeng tangan Angel dengan erat.
"Maaf nona anda tidak bisa ikut ke kamar tuan muda." Bu Marni menghentikan langkah Angel yang ingin mengikuti Bhumi.
Ana menahan tawa nya sambil melirik Angel yang terlihat sangat marah. Bhumi melepas tangan Angel dan meninggalkannya naik ke kamar.
"Mau ikut ke kamar? yuk ke kamar ku aja haha," Ana mengejek Angel melewatinya begitu saja menaiki anak tangga menuju kamar nya.
"Maaf nona, sepertinya anda harus pulang akan saya pesankan taxi." Roby memang tidak memfasilitasi Angel karena Angel bukanlah anggota keluarga Wijaya.
"Dasar kacung sialan," Angel mengumpat pada Roby dengan wajah yang merah padam. Dan dia pergi begitu saja keluar dari rumah itu tanpa satupun orang yang perduli dengan nya.
Bersambung...
__ADS_1