My Exotic Wife

My Exotic Wife
Selamat Tinggal


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu, Ana sekarang sudah merasa lebih baik dan sudah sehat. Ini semua berkat dukungan dari orang-orang yang selalu ada disisi Ana. Selalu menghibur nya setiap hari sampai Ana bisa sedikit mengurangi beban di pikiran nya.


"Selamat ulang tahun," Teriakan Juna di balik sebuah buket bunga yang sangat besar.


Disusul oleh 2 orang di belakang nya.


Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dari band lawas yang terkenal pada jaman nya. Mia menghampiri Ana yang berdiri dengan wajah sangat terharu. Mata Ana berkaca-kaca mendapat kejutan seperti ini.


"Ana tiup lilin nya, eh bentar-bentar make a wish dulu dong." Mia memaksa Ana menuruti ucapan nya.


Ana memejamkan mata nya beberapa saat, entah apa yang dia harapkan di hari ulang tahun nya kali ini. Ana meniup lilin dengan sekali tiupan. Keheningan seketika berubah menjadi riuh karena tepuk tangan mereka.


"Makasi ya semua nya, aku gak tau gimana jadi nya tanpa kalian." Ana meneteskan air matanya.


"Udah dong jangan nangis." Mia memeluk Ana.


"Selamat ulang tahun ya kaka ipar." Drake memberi Ana sebuah kotak kecil.


"Makasi ya Drake, tolong jaga Mia baik-baik. Dia itu orang nya bawel banget hehe." Ana memeluk Drake sambil melirik Mia.


"Apa kamu udah siap?" Juna bertanya pada Ana sambil membawa buket bunga di tangan nya."


"Udah dong," Ana melirik beberapa kopernya yang berjejer rapi.


Walaupun dengan senyum yang sangat ceria tapi Juna bisa melihat kalau ada sesuatu yang berbeda di mata Ana. Seperti ada sesuatu yang hilang.

__ADS_1


"An kamu baik-baik di sana ya, semoga bisa melupakan semua kenangan buruk yang pernah kamu alami." Mia memeluk Ana erat.


"Jangan sedih gitu dong, lo kan banyak uang Mi, bisa dateng kesana kapan aja, apalagi sebentar lagi mau jadi istri pengusaha haha." Ana menyindir Mia sambil tertawa. Mia menepuk pundak Ana kasar.


"Ayo kita berangkat," Juna mengajak Ana segera keluar dari kamar rumah sakit yang seminggu ini dia tinggali.


Ana menganggukan kepala nya, mereka semua keluar dari sana. Mia kembali memeluk Ana untuk salam perpisahan. Tidak ada yang membahas Bhumi, karena tidak ada yang ingin melukai Ana lagi. Biarkan Ana pergi dengan tenang, memulai lembaran baru dengan kehidupan nya sendiri.


Ana terlihat mengetik sesuatu di ponsel nya. Dia mengirim pesan untuk Roby, berterimakasi pada Roby selama ini telah menjaga nya dan selalu menuruti permintaan nya walaupun kadang memaksa. Setelah mengirim pesan Ana menonaktifkan ponsel nya. Entah apa tujuan nya.


Roby yang mendapat pesan dari Ana, langsung panik. Roby yang biasanya tau segalanya, dia sama sekali tidak tau tentang rencana keberangkatan Ana ke luar negeri. Roby segera ke ruangan Bhumi dan mengabari kalau Ana sudah dalam perjalanan menuju bandara.


"Apa kau bilang???" Bhumi nampak panik.


"Iya pak maaf saya tidak mengetahui tentang ini." Roby sedikit memelankan suara nya.


Ana dan Juna sedang menunggu di ruang tunggu, Ana merasa sangat berat meninggalkan tempat ini. Ana menoleh ke belakang seperti ada yang memanggil nama nya tapi Ana tidak mengenal orang-orang yang ada di belakang nya.


"Kamu kenapa?" Juna yang melihat Ana sedikit gelisah.


"Tidak apa-apa aku hanya gugup." Ana memberi penjelasan.


Juna memegang tangan Ana, seraya menenangkan nya. Beberapa saat kemudian sudah terdengar panggilan untuk masuk ke pesawat. Juna menggandeng tangan Ana masuk ke dalam pesawat. Bhumi yang masih bingung mencari Ana, melihat sekilas orang yang mirip Ana. Tapi saat dia dekati ternyata salah orang.


Bhumi mulai frustasi, dia mencoba menelpon Ana berkali kali tapi sayang ponsel Ana tidak aktif. Bhumi berlaru menuju ruang tunggu, mencoba mencari Ana tapi di cegat oleh beberapa petugas bandara tidak di ijinkan masuk.

__ADS_1


Bhumi sedikit memohon dan akhirnya di ijinkan tapi sayang Ana sudah tidak ada disana. Bhumi memutar bola matanya melihat sekeliling mencoba mencari Ana tapi hasilnya masih sama, Ana tidak terlihat berada di sana. Dengan langkah gontai Bhumi keluar dari ruangan itu dengan raut wajah yang sangat kecewa.


"Haruskah kita berpisah seperti ini?" Bhumi bergumam dan meneteskan air mata.


"Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun untuk mu." Bhumi melanjutkan kata-katanya.


Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi Bhumi bertemu dengan Ana. Ana akan benar-benar pergi dari kehidupan Bhumi. Tapi di antara mereka tidak ada perceraian, tidak ada pemutusan kontrak. Ana pergi begitu saja hanya untuk mengobati luka hati nya.


Bhumi maafkan aku...


Aku terlalu menginginkan sesuatu yang tak bisa aku dapatkan.


Aku sadar ini tidak mungkin tapi tetap aku paksakan.


Aku ingin menjadi istri yang baik untuk mu, yang setiap pagi memasangkan dasi untuk mu, menemani sarapan, mewarnai hari-hari mu dan saat tidur bersandar di dada mu mengucapkan selamat malam.


Tentu sangat menyenangkan jika kita di takdirkan hidup bersama.


Mungkin kalau kita bertemu secara baik-baik perpisahan tidak akan sesakit ini.


Bhumi bila suatu saat nanti kita tidak sengaja bertemu kembali, berpura-puralah tidak saling mengenal.


Bhumi selamat tinggal,jaga dirimu baik-baik.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf baru bisa up, belakangan ini sangat sibuk jadi gak sempet nulis lanjutan nya.


Habis baca inget pencet like nya ya, terimakasi ^-^


__ADS_2