My Exotic Wife

My Exotic Wife
Ingin mengakhiri


__ADS_3

Keesokan hari nya Oma datang mengunjungi Ana. Ana hanya mengahabiskan waktu nya berjam-jam untuk menangis. Sudah seperti orang gila, Ana mengalami goncangan yang sangat parah pada mental nya.


Oma masuk ke dalam ruangan Ana, melihat Ana duduk menghadap ke arah jendela, tatapan nya kosong. Separuh jiwa nya pergi bersama bayi yang sangat di tunggu-tunggu kehadiran nya.


"Sayang maafkan Oma baru bisa menemui mu." Oma langsung memeluk Ana, Ana menangis sejadi-jadinya di pelukan Oma. Mencurahkan semua kesedihan yang dia rasakan saat ini.


"Oma maafkan Ana, Ana gak bisa menjaga cucu Oma. Maafkan Ana, Ana yang salah." Ana berkali kali meminta maaf pada Oma karena kehilangan bayinya.


Oma sangat sedih melihat kondisi Ana seperti ini. Mata nya sangat sembab mungkin tidak berhenti menangis.


"Sayang kamu harus kuat ya, Oma yakin kamu bisa melewati cobaan ini. Kamu harus iklas." Oma mencoba menasehati Ana, agar tidak terus larut dalam kesedihan.


Tapi percuma, ibu mana yang ingin kehilangan anak nya. Ibu mana yang tidak hancur tiba-tiba anak yang sangat di cintai pergi tanpa sempat melihatnya.


Bhumi membuka sebuah pintu kamar, masuk ke dalam nya. Melihat sekeliling ruangan itu, menyentuh benda-benda yang sudah tertata rapi sesui tempatnya. Baby room yang Bhumi dan Ana dekorasi beberapa hari lalu sekarang akan menjadi ruangan kosong.


Bhumi menyentuh ranjang bayi dengan mainan yang menggantung di atasnya. Terdengar alunan musik twingkle twingkle little star khas nyanyian pengantar tidur untuk anak-anak.


Bhumi mengambil boneka gajah berwarna abu-abu di dalam ranjang bayi. Bhumi menangis memeluk boneka itu mengingat terlalu besar harapan mereka menunggu saat waktunya tiba untuk hadir di dunia. Tidak hanya Ana, Bhumi pun merasakan kehilangan yang sangat besar.

__ADS_1


Bhumi duduk di ayunan yang Ana hias dengan kelambu. Saat membeli ayunan ini, Ana mengatakan pada Bhumi kalau ayunan ini akan di gunakan ketika dia akan begadang semalaman untuk memberi ASI pada bayi nya nanti.


Kenapa aku begitu jahat merampas kebahagiaan seorang Ibu. Apa aku masih pantas berada di sisi Ana.


Bhumi menyandarkan kepala nya di sisi ayunan. Bhumi begitu stres mengahdapi masalah ini. Sampai sekarang Bhumi belum bisa menemui Ana. Karena Ana selalu menolak ketika Bhumi ingin menungjungi nya.


Semua akses untuk menghubungi Ana telah di putus. Bhumi sama sekali tidak bisa menelpon atau mengirim pesan pada Ana. Sampai sekarang Bhumi hanya tau kabar Ana dari Roby.


Bhumi menghela nafasnya kasar, memejamkan mata nya. Berharap semua ini hanya mimpi, dan saat dia bangun Ana menyambut nya dengan senyum yang sangat Bhumi rindukan.


Di lobby rumah sakit, Roby melangkah menuju ruangan tempat Ana di rawat. Roby sangat rindu dengan senyuman yang sering Ana perlihatkan pada Roby.


"Selamat sore nona." Ana menoleh ke arah Roby.


"Apa aku terlihat baik?" Ana menjawabnya dengan datar.


"Maaf nona." Roby meminta maaf karena menyinggung Ana.


"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu seperti itu." Ana sedikit tersenyum melihat Roby seperti itu. Roby memang selalu sopan di depan Ana.

__ADS_1


"Saya harap nona bisa kembali ceria seperti dulu, nona ingatkah anda 20 tahun yang lalu. Anda dengan Ayah anda pernah menolong seorang anak laki-laki di pinggir jalan." Roby mengingatkan Ana tentang masa lalu nya.


"Benarkah? Kenapa aku tidak mengingatnya." Ana mengkerut kan alis nya berusaha mengingat masa lalu.


"Nona saya sangat berterimakasi pada Ayah anda, maafkan saya tidak bisa mencegah hal ini terjadi." Roby terlihat sangat menyesal.


"Sudahlah Roby, aku akan melepaskan hal yang memang tidak bisa aku pertahankan." Ana mengatakan sambil tersenyum.


"Tolong jaga Bhumi, dia pasti bisa lebih bahagia tanpa ada aku sebagai penghalang nya." Ana melanjutkan kata-kata nya.


"Tapi nona." Roby berusaha mencegah tapi rasanya percuma, Roby juga merasa sangat sedih melihat kondisi Ana kalau terus bersama Bhumi.


"Oma sudah setuju dengan keputusan ku, aku tidak mau semua ini menjadi lebih rumit kalau di paksakan." Ana menghela nafasnya.


"Aku harap Bhumi bisa lebih bahagia tanpa aku. Mungkin kalau aku tidak hadir di kehidupan nya, tidak akan jadi sesulit ini." Ana kembali melanjutkan kata-katanya yang terputus.


"Nona anda jangan berbicara seperti itu, anda adalah sumber kebahagiaan bagi pak Bhumi."


"Ah kamu bisa aja." Ana sedikit tersenyum mendengar Roby membela bos nya.

__ADS_1


Lumayan lama Roby menemani Ana, berusaha meringankan beban Ana yang akhir-akhir ini sering murung. Senyum Ana yang dulu rasanya sudah hilang berubah menjadi tatapan kosong. Entah sampai kapan Ana akan seperti ini.


Bersambung...


__ADS_2