
Ana mempercepat langkah nya masuk ke dalam rumah sedikit mengangkat gaun nya. Dengan terpaksa Ana kembali ke rumah ini yang bahkan belum genap seminggu dia pergi. Bu Marni sudah berdiri di ruang tamu untuk menyambut kedatangan Ana dan Bhumi.
"Selamat malam nyonya." Bu Marni menyapa Ana.
"Selamat malam bu Marni." Ana langsung naik ke kamarnya karena sudah larut malam.
Bhumi berjalan santai dari belakang, menyunggingkan senyum nya. Mungkin dia merasa puas sudah bisa membawa Ana pulang.
"Selamat malam tuan." Bu Marni kembali menyapa Bhumi.
"Apa Roby sudah membawa koper Ana?" Bhumi menghentikan langkah nya bertanya pada bu Marni.
"Sudah Tuan." Bu Marni menjawab dengan sanngat sopan.
Bhumi menaiki anak tangga menuju kamar nya. Di depan kamar Bhumi melirik ke pintu kamar Ana. Dia sedikit mendekatkan telinga nya, tapi tak ada suara apapun dari kamar Ana.
"Mau ngapain?" Ana tiba-tiba membuka pintu sambil berteriak melihat Bhumi berada di depan pintu kamar nya.
"Gak ngapa-ngapain." Bhumi salah tingkah karena ketauan ingin menguping, dan dengan segera berjalan menuju kamar nya.
Makin hari makin aneh aja!!
Pagi hari di kediaman keluarga Wijaya, seperti biasa para pelayan sibuk menyiapkan sarapan. Ana hari ini bangun lebih pagi, karena dari tadi malam tidurnya sangat tidak nyenyak. Ana melirik jam besar yang berdiri kokoh di ruang tamu. Sudah 08.00 pagi, tapi Bhumi belum juga turun untuk sarapan.
"Nyonya saya akan membangunkan Tuan," Bu Marni meminta ijin naik ke kamar Bhumi.
"Tidak usah Bu biar saya aja." Ana melangkah kan kaki nya menuju kamar Bhumi.
Beberapa kali Ana mengetuk pintu kamar nya tapi tidak ada jawaban dari dalam. Ana membuka kamar Bhumi, pintu terbuka ternyata tidak di kunci. Ana masuk lebih dalam, tapi dia tidak menemukan Bhumi. Ana berdiri memutar bola mata nya, tapi sosok Bhumi tidak juga terlihat.
"Kamu mencariku?" Suara Bhumi mengagetkan Ana.
"Sarapan sudah siap pak." Ana memasang tampang yang sangat manis.
__ADS_1
"Harus berapa kali aku bilang jangan panggil aku bapak." Bhumi mendekat ke arah Ana.
Ana sedikit demi sedikit memundurkan langkah nya. Tapi Bhumi semakin mendekat. Sampai pergelangan kaki Ana membentur ujung tempat tidur. Bhumi mendekatkan wajah nya ke wajah Ana, entah apa yang akan di lakukan Bhumi. Ana segera memejamkan matanya, seperti ketakutan.
"Pasangkan dasi ku," Bhumi menyerahkan dasi nya pada Ana, yang masih memejamkan mata.
"Buka mata mu,"
"Ba-aaik pak, eh Bhumi." Ana mengambil dasi dari tangan Bhumi, segera memasangkan nya. Hembusan nafas Bhumi terasa hangat membuat leher Ana jadi merinding.
"Apa masih sakit?" Bhumi memegang tangan Ana yang masih kemerahan akibat cengkraman nya tadi malam.
Haruskah aku genit pada mu? Tapi aku masih belum bisa melupakan ciuman mu dengan Angel.
"Sedikit lagi selesai." Ana menepis tangan Bhumi dan melanjutkan kegiatan nya. Bhumi sedikit kesal Ana mengabaikan nya.
Ponsel Bhumi berbunyi beberapa kali, terlihat ada panggilan masuk dan itu dari Angel. Ana melirik ponsel yang tergeletak di kasur. Semakin menambah kekesalan Ana pada Bhumi.
"Sarapan sudah siap, saya tunggu anda di bawah." Ana pergi meninggalkan Bhumi dengan wajah kesal.
"Apa dia cemburu? haha." Bhumi tertawa sendiri di kamar nya.
Bhumi mulai sarapan nya, di temani Ana. Ekspresi wajah Ana masih sama judes seperti di kamar Bhumi tadi, Bhumi sesekali melirik ke arah Ana memperhatikan Ana yang sedang sibuk menyantap sarapan nya.
"Bu Marni nanti siang siapkan makanan untuk saya, suruh dokter Ana yang membawakan nya ke kantor." Bhumi menyuruh seenak nya saja.
Ana mendengar perintah Bhumi membuat kegiatan makan nya terhenti. Ana menaruh sendok nya kesal, sampai manimbulkan suara yang keras karena membentur piring.
Emang dasar nie orang cari gara-gara.
"Baik Tuan." Seperti biasa Bu Marni menjawab dengan kata-kata itu saja, sekali-kali lawan kek gitu hehe.
Bhumi meninggalkan rumah dengan senyum penuh kemenangan setelah mengerjai Ana dari tadi pagi.
__ADS_1
Bhumi terus melirik jam tangan nya dari tadi, sudah tidak sabar menunggu jam makan siang. Ya pasti dia berencana akan mengerjai Ana lagi.
"Pak saya akan pesankan tempat untuk anda makan siang nanti." Roby berencana akan memesankan restoran untuk Bhumi.
"Tidak perlu repot-repot sudah ada yang delivery kesini." Bhumi terkekeh dengan ucapan nya. Mambuat Roby bingun karena Bhumi tidak pernah makan makanan semabarangan.
Tidak lama kemudian Ana datang dengan 2 tas penuh makanan. Dengan bantuan dari sopir membawa makanan itu keruangan Bhumi. Muka kesal Ana sudah terlihat dari dia baru membuka pintu.
"Ini dia makanan kita sudah datang." Bhumi dengan gembira menyambut Ana.
Ana membuka satu demi satu kotak yang di susun oleh bu Marni.
"Silakan makanan sudah siap." Ana sudah selesai menyiapkan makanan untuk Bhumi.
"Oh ya ini untuk kamu Roby." Ana menyerahkan satu paperbag untuk Roby.
"Makasi nona." Roby dengan bahagia menerima pemberian dari Ana. Bhumi melihat Roby dengan pandangan tidak suka, dan Roby buru-buru keluar dari ruangan itu sebelum bos nya mengambil makanan nya paksa.
"Aku mau makan yang itu." Bhumi menunjuk makanan di depan nya.
Ana mengambilkan setiap lauk yang Bhumi minta, tapi tak makanan itu tak kunjung masuk ke dalam mulut nya.
"Suapin." Bhumi menyuruh Ana menyuapi nya.
Apa lagi yang dia rencanakan. Ana melirik Bhumi sambil tersenyum tidak iklas.
Ana mulai menyuapi Bhumi suap demi suap, sampai makanan nya habis. Ana membereskan tempat makanan dan membersihkan sisa-sisa makanan yang jatuh di meja. Setelah selesai Ana beniat akan kembali ke rumah.
"Saya permisi pulang dulu." Ana meminta ijin pada Bhumi.
"Siapa bilang kamu bisa pulang? Temani aku di sini." Bhumi menyunggingkan senyum nya.
Ana menghela nafasnya beberapa kali. Dengan pasrah Ana mengikuti permintaan Bhumi menemaninya di kantor.
__ADS_1
Bersambung...