My Exotic Wife

My Exotic Wife
Orang Asing


__ADS_3

Ana merasa kepala nya sangat pusing, dia memegang kepalanya dan hendak bangun tapi Ana merasa ada yang menindihnya.


Ana melihat tangan putih bersih kontras dengan warna tangan Ana, Ana menyusuri tangan itu dia melihat wajah seorang pria tampan, bukan tampan lagi tapi sangat tampan.


Apa aku masih mimpi? kenapa ada artis korea di sebelahku, ahhh mnkin aq kebanyakan nonton drakor smpe kabawa mimpi, akibat maniak drakor nih.


Ana berkata dalam hati.


Laki-laki itu melepas pelukan, tangan nya mengenai kepala ada,


"aduh sakit," Ana nyeletuk merasa kesakitan.


Tunggu dulu, sakit? kalau sakit berarti bukan mimpi donk, lah terus ini apa?


Ana meyakinkan diri nya.


Ana pelan tapi pasti menoleh ke belakang, tepat di belakang kepala nya, dia melihat orang asing itu dan berteriak.


"Kamu siapaaaaaa????" teriakan Ana membuat laki-laki itu tersadar dari tidur nya, penglihatan nya masih samar, dan ketika melihat Ana laki-laki itu juga berteriak tak kalah kencang nya.


"Aaaaaaaaaa, kamu siapa?" ngapain tidur di kamar aku, dan kenapa kita gak pake baju?"


bertanya pada Ana.


Ana tak kalah berteriak, "ini kamar ku, bukan kamar mu, harusnya aq yang bertanya kamu ngapain sembarangan masuk kamar orang?"


Ana terlihat panik dan melihat diri nya yang tak memakai pakaian sehelai pun, badan nya hanya di tutupi selimut.


"Tunggu, sepertinya ada kesalahan," orang asing itu mencoba mengingat2 apa yang terjadi tadi malam, "ini kamar nomer berapa?" bertanya pada Ana.


"Kamar nomer 101," Ana menjawab kesal.


"Ya ampun aku salah masuk kamar," seharusnya kamar 102, tadi malam aq masuk dan kamar ini gak di kunci."


Hening beberapa saat, terdengar ana mulai menangis, kenapa dia bisa tidur dengan orang asing yang bahkan dia impikan akan melepas keperawanan bersama suami nya malah di ambil oleh orang yang tak di kenal nya.


"Maafkan aku, ini suatu yang tidak di sengaja, ini kesalahan kita berdua," laki-laki itu bicara dengan nada lemas,

__ADS_1


enak aja, situ bilang ini kesalahan kita, kita?


jelas- jelas dia yang salah masih bisa- bisa nya bilang kesalahan kita, yang salah masuk kamar siapa?


Ana berlari ke kamar mandi membawa selimut yang mebalut tubuh nya meninggal kan orang asing itu.


"Ehh mau kemana, selimutnya," berteriak pada Ana, reflek tangan nya mengambil batal untuk menutupi badan nya yang polos, dia melihan ada bercak darah di sprei putih itu.


"Apa gadis itu masih perawan?" dengan langkah gontai dia memunguti baju nya dan segera memakai satu persatu. Kemudian memghempaskan badan nya ke sofa, terduduk lemas sambil menunduk.


Apa yang telah aku lakukan, kenapa bisa salah masuk kamar, apa aku begitu mabuk tadi malam, dan bagaiman dengan gadis ini sekarang? ngebatin.


Dua jam berlalu akhirnya Ana keluar dari kamar mandi dengan mata sembab, orang asing itu masih menunggu Ana. Setidaknya mereka harus bicara tentang kejadian ini,


"hai," sapa laki-laki tersebut dengan kaku


"sepertinya kita perlu bicara."


Ana yang masih mematung di pinggir kasur berjalan menuju sofa tak berkata apappun. Ana duduk agak jauh, udah kayak social disntancing aja.


"Kenalin nama ku Bhumi, nama kamu siapa?" mengulurkan tangan nya ke arah Ana, yang bahkan gak nyampe karena jarak mereka yang terlalu jauh.


Tapi ini tentu jauh dari tipe wanita seorang Bhumi Anggara yang memiliki kriteria kalo cantik itu harus putih, kalau putih pasti bersih. Ya udah sih situ mandi aja pake baiklin kali, biar awet putih nya.


"Baiklah, apa mau mu?"


Ana membuyarkan lamunan Bhumi,


"nama kamu siapa? dari tadi belum di jawab,"


"aku Ana," jawab Ana ketus.


Bhumi kembali meminta maaf pada Ana agar kesalahan nya di maafkan, Ana menerima permohonan maaf Bhumi dengan pertimbangan memang ini suatu hal yang sangat tidak di sengaja walapun Ana harus kehilangan keperawanan nya.


Mereka sepakat untuk melupakan hal ini, karena sungguh sangat memalukan. Sebelum meninggalkan Ana, Bhumi memberikan kartu nama kepada Ana, kalau kau perlu sesuatu jangan sungkan menghubungiku. Bhumi berpesan pada Ana dan pergi keluar dari kamar itu.


Ana yang masih mematung tidak tau harus melakukan apa, dia bingung kenapa kesialan ini tak ada habis nya.

__ADS_1


Apa aku perlu bertapa di gunung mencari wangsit biar sial ini hilang? atau berendam di air kembang tujuh rupa di tengah malam? akhhhh bikin gila aja semakin dipikirkan.


Bhumi tiba di kamar, menjatuhkan badan nya di atas kasur yang empuk, berusaha mengingat kejadian semalam, tapi sial dia sama sekali tak ingat.


Tanpa sadar Bhumi kembali tertidur karena kepala nya masih terlalu pusing.


Ana hari ini akan balik ke kota J, dia menyudahi liburan nya karena takut akan kesialan berikutnya yang akan menimpa nya. Perjalanan begitu panjang dan membosankan akhirnya Ana sampai juga di kos nya. Mia yang sedari Ana berangkat berlibur tidak ada menghubungi sama sekali mungkin ia ingin agar sabahatnya menikmati liburan dengan tenang.


Ana meraih hp nya, mengetik pesan melaluin WA mengabari Mia kalau dia sudah tiba di Kota J. Ana yang masih sangat lelah merembahkan badan nya di atas kasur, masih terbayang wajah Bhumi di pikiran nya. Bukan karena ganteng nya tapi karena kesalahan tadi malam.


Hp Ana terdengar berdering,


"halo mi,"


"kamu kok udah balik An, kn masih ada waktu sehari lagi, ahh km pasti kangen sama aku yah, gak bisa jauh dari aku," Mia menggoda Ana.


"Sialan, memangnya aku penyuka sesama jenis apa."


"Besok aq cerita ya, sekarang terlalu lelah, aku mau tidur," Ana menyudahi telepon Mia.


Masih di hotel yang sama Bhumi yang baru keluar dari pintu kamar nya melirik pintu kamar Ana. Enatahlah apa yang di pikirkan pandangan nya merasa bersalah tapi tetap terlihat dingin.


"Sudah siap pak?" Roby datang membuat Bhumi gelagapan.


"Km ini bikin kaget aja,"


heh siapa juga yang ngagetin, baiklah anggap saja begitu, nanti kalo di lawan salah lagi.


"Mari pak mobil sudah menunggu di loby,"


Roby mengikuti langkah bos nya.


Bhumi akan balik ke kota J karena urusan nya di kota ini sudah selesai. Berangkat menggunakan jet pribadi mebuat Bhumi gak harus terburu-buru takut ketinggalan pesawat. Apalah kita yang hanya rakyat jelata 3 jam sebelum berangkat kita udah nongol di sana harap harap cemas.


Sampai di rumah pun Bhumi masih kepikiran dengan gadis itu, Bhumi hanya tau nama nya Ana, informasi lain tentang Ana dia sama sekali tidak tau.


Ingin rasanya Bhumi mencari tau tentang gadis itu dengan menyuruh Roby tapi Bhumi belum siap bercerita pada Roby tentang apa yang telah terjadi, walaupun Roby orang kepercayaan Bhumi tapi Bhumi masih ada urat malu nya sedikit.

__ADS_1


"Semoga gadis itu bisa melupakan smua nya," gumam Bhumi!


Bersambung...


__ADS_2