My Exotic Wife

My Exotic Wife
Pergi


__ADS_3

Pagi ini di awali dengan ke marahan Bhumi pada staf nya di ruang rapat. Proyek yang di biayai ratusan milyar gagal karena ulah satu orang, ya dia adalah salah satu kerabat jauh dari ibu Bhumi yang saat ini menjabat sebagai direktur anak perusahaan di bidang property.


"Perbaiki semuanya saya tidak mau tau, minggu depan harus rampung, kalau tidak semua yang ikut campur tangan di proyek ini akan saya pecat." Bhumi berteriak di ruang rapat dan meninggal kan orang-orang di sana begitu saja.


"Roby coba kamu selidiki apa yang terjadi dengan proyek itu, apa om Amir bermain dengan dana perusahaan." Bhumi memberi perintah pada Roby sambil berjalan menuju ruangan nya.


"Baik pak." Roby menjawab singkat.


Bhumi menghempaskan tubuh nya di kursi putar nan empuk. Bhumi mengurut alisnya menandakan terlalu banyak pikiran.


"Bikin pusing aja." Bhumi bergumam sendiri sambil memejamkan mata nya.


Seorang wanita muncul dari balik pintu, mengendap-endap menghampiri Bhumi.


Mencium bibir Bhumi tanpa ijin, seketika Bhumi sadar dan membuka mata nya. Bhumi mendapati Angel sudah naik ke pangkuan nya dengan manja.


"Sayang, sepertinya kamu sibuk banget dari tadi kamu gak jawab telpon ku." Angel melingkarkan tangan nya ke leher Bhumi.


"Aku lagi banyak kerjaan sayang." Sambil merapikan rambut Angel.


Ana yang tak tau kalau ada Angel di ruangan Bhumi masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu. Dan untuk kesekian kali nya Ana melihat kemesraan antara Angel dan Bhumi. Bhumi langsung menurunkan Angel dari pangkuan nya melihat Ana datang, membuat Angel sangat kesal padahal Angel ingin membuat Ana marah.


"Maaf pak saya tadi di suruh Oma nganterin dokumen ini untuk bapak." Ana menyerahkan sebuat amplop coklat pada Bhumi.


"Saya permisi dulu pak," Ana langsung berpamitan dan tidak mempedulikan mereka lagi. Bhumi yang melihat Ana seperti ada perasaan bersalah.


Dada ini terasa sangat sesak. Haruskah aku menyerah dengan semua ini?


Ana melangkah menuju pintu sambil menyeka air mata nya. Dada nya terasa begitu sakit sampai tidak bisa mengatakan apa-apa dan memilih untuk pergi.


"Nona kenapa?" Roby yang melihat Ana menangis menghentikan langkah nya sementara.


"Aku gak apa-apa," Ana tidak mampu berkata lebih banyak lagi.


"Apa perlu saya antarkan pulang nona?"


"Gak usah, aku pulang dengan sopir saja. Jangan buat Bhumi curiga." Ana masuk ke dalam lift meninggalkan Roby.

__ADS_1


Pasti ada nenek sihir itu di ruangan pak Bhumi. Aku harus melakukan sesuatu. Roby kesal melihat Ana sampai menangis.


Angel keluar dari ruangan Bhumi dengan senyum mengembang. Berjalan sangat anggun bak model di catwalk. Tiba-tiba seseorang menarik nya dengan kuat sampai dia terperosok di sudut pintu.


"Harus berapa kali aku ingatkan pada mu, jangan pernah membuat keributan atau membuat nona Ana sedih." Roby mencengkram bahu Angel.


"Apa kamu takut terjadi sesuatu dengan nona mu?" Angel menaikan dagu nya seraya menantang Roby.


"Aku akan membuat mu menyesal, tunggu saja samapai semua bukti aku dapatkan." Roby tersenyum licik menghempaskan tubuh Angel sampai membentur dinding.


"Apa maksudmu?" Angel berteriak pada Roby yang sudah berjalan menjauh dari nya.


Langit sudah begitu gelap bintangpun menghiasi sangat indah, tapi berbanding terbalik dengan Ana. Pandangan nya begitu kosong memandang jauh ke atas sana.


Ana membuka aplikasi musik di ponsel nya, mungkin kalau mendengarkan lagu bisa melupakan kejadian yang dia lihat tadi siang.


No one love you like I love ya


Never cheat, never lie


Never put no one above ya


And now you're telling me you miss it


And I'm still on your mind


We were one in a million


And love is hard to find


Do you stay up late, just so you don't dream?


Every time your lips touch another


I want you to feel me


I want you to feel me

__ADS_1


Every time you dance with somebody


I want you to feel me


I want you to feel me


Sepenggal lirik lagu dari selena bisa mewakili perasaan nya saat ini. Ternyata musik yang Ana putar menarik perhatian Bhumi. Bhumi keluar dari kamarnya menuju balkon melihat Ana yang sedang berdiri sambil termenung.


Ana yang melihat Bhumi malah memilih kembali masuk ke kamar tanpa mempedulikan Bhumi yang melihat nya dengan mata memburu.


"Ada apa dengan nya, udah kayak ngeliat setan main pergi begitu saja." Bhumi bergumam sendiri.


Sudah jam 10.00 malam, Ana harus mengantarkan obat ke kamar Bhumi. Ana menyeret kaki nya dengan sangat malas. Ya malas melihat wajah Bhumi yang masih teringat akan senyuman nya pada Angel.


Tok..tok..tok


"Maaf pak saatnya anda minum obat." Ana menyerahkan obat dan segelas air untuk Bhumi.


"Saya permisi dulu pak." Ana berbalik akan pergi dari kamar Bhumi.


"Tunggu, sepertinya aku sudah tidak ada keluhan lagi. Dan kalaupun kamu ikut ke kantor juga tidak ada pengaruh nya untuk ku. Jadi mulai besok kamu gak usah muncul di kantor ku lagi."


Seketika air mata Ana jatuh tanpa permisi. Dada nya terasa begitu sesak sampai susah untuk benafas. Ana menundukan wajah nya agar tidak terlihat oleh Bhumi.


"Baik pak, saya permisi dulu."


Ana meninggalkan kamar Bhumi dengan deraian air mata.


Semalaman Ana tidak bisa memejamkan mata nya. Ana sangat kecewa dengan keputusan Bhumi. Mungkin Bhumi sudah tidak nyaman lagi berada dekat dengan nya. Akhirnya dengan berpikir panjang Ana memutuskan untuk pergi dari rumah itu, sedikit menangkan diri nya. Memberi sedikit ruang untuk hati nya, dan untuk Bhumi. Oma pun sudah menginjinkan karena Ana bilang akan menginap di apartement Mia.


Pagi-pagi sekali Ana pergi dari rumah sebelum Bhumi bangun tidur. Tak lupa Ana berpesan pada Bu Marni agar menyiapkan segala kebutuhan Bhumi.


"Nyonya saya harap anda cepat pulang." Bu Marni dengan wajah sedih mengantarkan Ana sampai depan pintu.


"Cuma seminggu kok bu, jangan sedih gitu deh." Ana menggoda Bu Marni dan segera masuk ke dalam mobil tak lupa melambaikan tangan ke arah Bu Marni.


Anak itu selalu berusaha terlihat baik-baik saja walaupun suasana hati nya sedang kacau. Bu Marni bergumam dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2