
Ana mengetik pesan di ponsel nya untuk Roby.Ternyata Ana lupa masih meninggalkan Roby disana, Ana segera menyuruh Roby balik ke kantor sebelum ketauan oleh Bhumi.
"Apa kamu tidak punya keluarga?" Pertanyaan ini keluar lagi dari mulut Bhumi.
"Bapak saya sudah meninggal, ibu saya dan kakak saya tinggal di luar negeri." Ana menjawab sesui kenyataan berharap Bhumi ingat sedikit demi sedikit. Tapi tidak segampang itu pemirsa.
"Ohh, trus suami kamu?" Bhumi melanjutkan pertanyaan nya.
Ana terdiam beberapa saat.
"Emmmm saya.....," Lidah Ana kelu tidak mampu melanjutkan kalimat nya.
Ana menatap jauh ke arah luar, sedikit pura-pura sedih. Biar Bhumi tidak bertanya lebih lanjut lagi. Bhumi yang sambil menyetir sesekali mencuri pandang ke arah Ana. Karena setelah Bhumi bertanya tentang suami, Ana tiba-tiba diam seperti patung.
Apa dia hamil di luar nikah? apa suami nya meninggal? apa seorang dokter bisa hamil di luar nikah? Banyak pertanyaan yang ada di kepala Bhumi. Sedikit demi sedikit dia ingin tau tengang Ana.
Sampai di kantor, Roby sudah berdiri di loby menunggu kedatangan Bhumi. Roby memang asisten yang luar biasa, dia selalu membuat yang tidak mungkin jadi mungkin.
Bhumi berjalan di depan Ana, Ana melirik Roby sambil tersenyum manis, Roby selalu terpesona melihat senyum Ana.
"Selanjutnya apa jadwal hari ini?"
"Tidak ada pak, hari ini anda bisa pulang, nyonya besar juga hari ini akan pulang dari luar negeri. Mulai besok jadwal anda akan mulai padat." Roby menjelaskan pada bos kesayangan nya.
"Kamu bisa pulang duluan," Bhumi menyuruh Ana pulang sementara dia masih di kantor bersama Roby.
"Baik pak, kalau begitu saya pamit pulang." Ana dengan senang hati bisa pulang duluan sudah tidak sabar bertemu Oma.
Sore hari di rumah, Bu Marni hari ini menyiapkan banyak makanan atas perintah Oma sepertinya akan ada jamuan makan malam. Bu Marni masih sibuk menata meja makan di bantu beberapa orang pelayan lain nya.
"Bu Oma mana?" Ana yang baru datang langsung mendatangi Bu Marni menanyakan Oma.
"Beliu masih di kamar nyonya, sebaiknya anda mandi dulu nanti akan saya panggil."
"Oke ashiappp." Ana melenggang naik ke kamarnya dengan penuh semangat.
Bu Marni yang melihat kelakuan Ana sampai tersenyum dibuatnya.
__ADS_1
Obrolan antara Ana dan Oma sepertinya tidak ada habisnya, sudah sedari tadi tapi masih saja seru. Ana menceritakan tentang kejadian tadi siang dengan Angel. Tawa Oma sampai pecah di rumah besar ini mendengar cerita Ana.
"Oma Ana kangen," Sudah berkali kali Ana mengatakan kata-kata ini pada Oma karena saking berat nya hari-hari yang Ana lalui belakangan ini.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi ingatan Bhumi pasti akan pulih." Seperti sudah ada ikatan batin antara mereka berudua, tanpa perlu Ana ngomong Oma sudah tau isi hati Ana ( macam anak dukun saja ).
Oma memeluk Ana dan memgelus lembut rambut nya.
Kenapa mereka sepertinya begitu dekat. Bhumi yang masuk ke dalam rumah mendapati Oma dan Ana yang masih berpelukan.
"Oma,"
Seketika mereka melepas pelukan nya. Dan Oma berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tidak lama berselang Drake dan Mia juga datang karena mendapat undangan dari Oma. Ana yang melihat Mia sangat bahagia.
"Mi." Ana berhamburan di pelukan Mia, terlalu sibuk sampai bertemu sahabatnya saja dia tidak bisa.
"Halo, miss universe," Drake menyerahkan buket bunga pada Oma, tidak lupa mencium pipi Oma. Drake memang selalu bisa membuat Oma tersenyum dengan tingkah laku nya.
Bhumi hanya melihat mereka saling melempar tawa. Bhumi memang tidak suka terlalu basa basi, apalagi di ajak bercanda.
"Ayo kita makan malam." Bhumi mengajak semua orang yang masih sibuk mengobrol dari tadi. Dan semua menoleh ke arah Bhumi dangan pandangan sinis.
"Hai semua, Oma maaf Juna sedikit terlambat," Ternyata Juna juga mendapat undangan dari Oma.
Bhumi yang mendengar suara Juna, langsung menoleh ke arah Juna, Bhumi mengkerutkan alisnya. Merkea memang bersahabat tapi akhir-akhir ini Bhumi agak terganggu Juna sering muncul di hadapan mereka.
Makan malampun di mulai, karena semua sudah datang. Semua orang saling berbincang kecuali Bhumi yang dari tadi seperti sedang sariawan diem aja gak ada suara nya.
"Ana gimana kabarmu? uh tambah cantik deh," Drake menggoda Ana.
"Cantik apanya, liat aja kalau cemberut pasti jelek." Juna menimpali candaan Drake dan semua tertawa di buat nya.
"Sepertinya kalian sangat akrab." Drake melanjutkan kata-katanya.
"Juna itu anak yang baik, wajar kalau Ana nyaman berada di dekat nya." Oma melirik Bhumi yang dari tadi memasang muka masam. Oma memang sengaja membuat Bhumi kesal.
Ana hanya tersenyum mendengar candaan mereka. Juna mengambil beberapa lauk untuk Ana membuat Bhumi kesal melihat nya. Entah apa maksud dari Bhumi dia juga ikut mengambilkan makanan untuk Ana sampai piring Ana penuh karena mereka.
__ADS_1
Acara makan malam hari ini sudah selesai, para tamu pun semua sudah pulang. Juna yang terakhir pulang, Ana mengantarkan Juna sampai ke depan pintu. Bhumi melihat mereka berdua, sedikit memanjangkan lehernya ingin tau apa yang di lakukan mereka. Tapi Bhumi hanya melihat mereka berdua tertawa tanpa mendengar apa yang mereka katakan.
Ana datang ke kamar Bhumi untuk memberikan Bhumi obat. Seperti biasa Ana membawakan segelas air untuk Bhumi.
"Pak Bhumi saatnya anda minum obat." Ana mendekat ke balkon tempat Bhumi berdiri. Bhumi mengabil gelas dan meminum obat nya.
"Saya permisi dulu pak."
Cegah gue kek, ajak ngobrol gitu.
"Ada hubungan apa kamu sama Juna? Sepertinya kalian sangat akrab." Akhirnya Bhumi menanyakan ini.
"Saya sama Juna hanya teman, Juna adalah orang yang sangat baik, dia selalu membantu saya saat saya sedang kesulitan." Ana tidak melebih-lebihkan tapi semoga saja Bhumi kesel mendengar ini.
"Oh," Hanya satu kata saja.
Merasa sudah tidak ada lagi yang di katakan, Ana pergi dari kamar Bhumi dan balik ke kamar nya sebelum dia di usir sperti kemarin.
Ana langkah ke arah balkon di kamarnya. melihat lapangan golf yang di terangi oleh pancaran lampu neon.
"Ehem." Bhumi mendehem,Ana yang tau ada seuara menoleh ke arah balkon kamar Bhumi, ternyata Bhumi masih betah berdiri di sana.
"Kamu belum tidur." Bhumi sedikit berteriak bertanya pada Ana.
"Belum pak, saya tidak bisa tidur."
Ana memang sengaja berada di balkon agar bisa mengobrol dengan Bhumi.
"Rumah mu dimana?" Bhumi masih berusaha mengorek informasi tentang Ana.
"Sebelum saya menjadi dokter bapak saya ngekos, suatu keberuntungan saya terpilih menjadi dokter pribadi bapak dengan bayaran yang banyak dan mendapat fasilitan seperti sekarang."
"Panggil saja aku Bhumi, jangan panggil bapak lagi. Sepetinya kita seumuran ."
"Baik pak, eh Bhumi."
Yes, sedikit demi sekit lama-lama menjadi bukit.
__ADS_1
Ana masuk ke dalam kamarnya menyudahi obrolan nya dengan Bhumi. Dia harus menyusun rencana lagi agar ingatan suami nya cepat pulih dan menajauhkan Bhumi dari Angel.
Bersambung...