My Exotic Wife

My Exotic Wife
Senyuman Itu


__ADS_3

"Maaf nyonya, apa anda mendengar saya?"


Suara Rina membuyarkan lamunan Tiara, akhir-akhir ini pikiran nya sering terganggu. Tiara kembali memfokuskan mata nya ke arah Rina. Sambil berusaha mencerna kata-kata Rina yang tadi dia lewatkan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tiara menajamkan pandangan nya pada wanita berperawakan langsing di depan nya.


"Hari ini anda ada pertemuan dengan pak Bhumi." Rina menggeser layar tab dengan jari jemari nya.


"Ah anak itu lagi." Tiara bergumam.


Tiara bangun dari tempat duduk nya melangkah keluar di ikuti oleh Rina asisten pribadi yang sangat setia menemani nya sudah belasan tahun. Rina terlalu setia sampai-sampai tidak menikah, waktu nya di habiskan untuk bekerja melayani keluarga Tiara.


***


"Apa kamu sibuk?" Suara yang tak asing terdengar semakin mendekat.


"Tumben kamu datang bahkan kita baru bertemu 3 jam yang lalu, apa kamu sangat merindukan ku?" Bhumi melirik ke arah Ana sambil tersenyum.


"Omong kosong, aku hanya kebetulan lewat, tapi ada sesuatu yang membuatku ingin datang ke tempat ini. Atau mungkin kamu menyembunyikan wanita lain sampai-sampai firasatku membawa ku datang kesini." Ana melangkah mendekati meja Bhumi.


Bhumi menaikan satu alisnya merasa sedikit kesal, kemudian menarik tangan Ana sampai terjatuh di pangkuan nya.


"Jangan bicara yang macam-macam atau aku akan." Kata-kata Bhumi terhenti.


"Akan apa?" Ana mendongakan kepala nya.


"Apa kamu menantang ku?" Bhumi terkekeh mengeratkan pelukan nya di pinggang Ana.

__ADS_1


"Bhumi ini di kantor, nanti kalau Roby masuk gimana?" Ana menggerak-gerakan tubuh nya berusaha melepaskan pelukan Bhumi.


"Ini kantor ku, jadi terserah aku mau melakukan apa, dan kamu adalah istriku." Bhumi kembali tertawa menggoda Ana.


Dan benar saja tidak berselang lama Roby masuk ke ruangan Bhumi tanpa mengetuk pintu. Ana reflek ingin bangun dari pangkuan Bhumi namun Bhumi menahan nya.


"Maaf pak saya tidak tahu kalau nona ada di sini." Roby menundukan kepala nya.


Sial kenapa aku ceroboh seperti ini, mata suci ku harus melihat adegan di atas 17th.


"Ada apa? Sudah seperti di kejar setan saja." Bhumi bertanya pada Roby yang masih mematung.


"Maaf pak, nyonya Tiara akan segera tiba di Loby."


"Ya ya kamu boleh keluar, aku akan segera ke ruang meeting." Bhumi mengusir Roby.


"Aku akan pergi, lagi pula aku masih ada urusan di klinik."


"Dasar mesum." Ana memalingkan wajahnya. "Lepaskan aku," Ana sedikit memekik.


"Tidak akan." Bhumi melototkan mata nya pada Ana.


"Muachhh, apa aku sudah boleh pergi?" Ana memasang wajah sangat manis membuat Bhumi tidak bisa mengedipkan mata nya.


Ana meninggalkan ruangan Bhumi melangkan keluar melewati Loby. Namun di Loby langkah Ana terhenti ketika dia mendengar suara seorang wanita memanggil nama nya. Ana menoleh ternyata Tiara melihat nya melewati Loby. Ana kemudian menghampiri Tiara yang tak jauh berada dari tempatnya berdiri.


"Nyonya Tiara, senang bertemu dengan anda." Ana mengulurkan tangan nya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nona Ana, kebetulan kita bisa bertemu disini. Sudah lama ya setelah terakhir kita bertemu saat itu." Tiara dengan ramah berbincang dengan Ana.


"Iya nyonya kebetulan sekali, saya sangat senang bisa bertemu sengan Anda." Senyum Ana mengembang di wajah manis nya.


Kenapa senyum gadis ini sangat mengangguku. Batin Tiara.


"Nyonya anda sudah di tunggu di ruang meeting." Roby muncul dari belakang menyambut Tiara.


Roby melihat ke arah Ana, Ana dengan segera mengedipkan mata nya seraya memberi isyarat pada Roby agar tidak menyapa nya.


"Baiklah nona Ana saya masih ada urusan, semoga kita bisa bertemu di lain waktu."


"Baik nyonya, senang bertemu dengan anda." Ana melambikan tangan nya pada Tiara.


"Wah ternyata nyonya Tiara yang sering di ceritakan Bhumi, seorang wanita yang sangat hebat bisa memimpin perusahaan besar seperti itu." Gumam Ana sambil berlalu meninggal kantor Bhumi.


Di ruang meeting kadua perushaan besar sedang membahas kerja sama mereka. Kedua perusahaan masing-masing memberikan presentasi yang sangat sempurna.


"Nyonya apa yang sedang anda pikirkan." Rina berbisik di samping Tiara yang tampak termenung.


"Bukan apa-apa." Tiara kembali berusaha memfokuskan pikiran nya, sampai meeting selesai.


"Nyonya senang bisa bekerja sama dengan anda." Bhumi menjabat tangan Tiara.


"Senang bisa bekerja sama dengan Anda." Tiara membalas ucapan Bhumi dengan wajah kaku nya.


Rina memeperhatikan Tiara yang kembali termenung memandang kaca jendela yang bahkan hanya memperlihatkan deretan kendaraan berlawan arah. Namun Rina tidak berani bertanya apa yang sedang di pikirkan Tiara.

__ADS_1


Sudah terlalu lama, kenapa senyum anak itu mengingatkan ku dengan seseorang. Tapi tidak mungkin, rasanya sangat mustahil.


Bersambung...


__ADS_2