
Sebenarnya bulan madu ini tidak perlu mereka lakukan, tapi karena mengingat mereka adalah pasangan yang pura-pura saling mencintai maka mereka tidak boleh membuat orang di sekitar curiga, termasuk Oma.
Pagi-pagi mereka berdua sudah berangkat menggunakan jet pribadi. Ana tampak menyeret kopernya di air port dengan muka kesal. Bhumi yang dengan santai nya berjalan di depan tidak mempedulikan Ana. Entah apa yang di pikirkan laki-laki itu padahal Ana sedang hamil tapi Bhumi seperti tidak begitu perduli dengan hal itu.
"Kemana perginya wanita itu," ternyata Ana yang dari tadi berada di belakang nya hilang entah kemana.
Bhumi meraih Hp nya, mencari nomer Ana tapi ternyata dia sama sekali tidak menyimpan nomer Hp Ana.
"Ahh sial, bikin pusing aja," Bhumi mulai kesal.
Ana yang sedari tadi memperhatikan ekpresi wajah Bhumi, membuat nya tertawa sambil menyantap es krim di tangan nya.
"Kenapa pak? nyariin saya ya?" Ana yang muncul dari belakang membuat Bhumi kaget.
"Siapa yang nyariin, saya cuma lagi capek aja makanya istirahat bentar."
"Bapak mau es krim??"
"Gak, makan aja sendiri," Bhumi meninggalkan Ana yang masih sibuk dengan es krim nya.
Tiba di hotel dengan semua serba privat, fasilitas sultan. Ana yang sedari tadi lelah dengan barang bawaan nya, menghempaskan badan nya di sofa.
"Ahhh capek banget," teriak Ana.
Bhumi tampak masih sibuk merapikan barang nya, dia memang tipe orang yang perfectionist tidak suka melihat apapun berantakan.
"Kamu mau makan apa? tanya Bhumi pada Ana."
Ana seketika melirik Bhumi karena perut nya dari tadi memang sudah lapar.
"Saya mau makan rujak mangga pak,"
"Kok makan rujak? emangnya kamu gak lapar?"
"Mana ada di sini rujak mangga," Bhumi menahan tawa.
Ana mulai kesal melihat Bhumi yang meledek nya.
"Sabarrr .... Sabarrr...." Ana mengelus dada nya.
Akhirnya makanan pesanan Bhumi datang, Ana yang sudah tidak sabar segera duduk di meja makan ingin segera menyantap makanannya.
Tapi tiba-tiba Ana mual melihat pasta di depan nya, Ana lari ke kamar mandi.
"Maaf pak, saya tiba-tiba mual melihat pasta, mungkin bawaan orang ngidam."
Bhumi yang mendengar ucapan Ana bengong. Karena Bhumi selama ini tidak pernah memberi perhatian pada Ana.
"Kamu mau makan apa biar gak mual
lg?" Bhumi bertanya dengan nada yang lebih halus.
Kok tiba-tiba perhatian? "Gak usah pak saya mau istrahat saja. Ana memberi alasan dan meninggalkan Bhumi makan sendirian, Ana takut dia tambah mual dan membuat Bhumi tidak selera makan.
Ana yang sedang tertidur lelap merasakan tubuh nya tergoncang membuat nya tidak nyaman.
__ADS_1
"Hey exotic bangunnnn cepetan," Bhumi membangunkan Ana.
"Iiiaa pak kenapa, Ana mengusap wajah nya."
"Kita harus pulang?"
"Pulang kemana pak,"
"Ya pulang lah, Oma di bawa ke Rumah sakit,"
"Apa?" ya udah pak saya mau beresin barang dulu.
Yaampun ini kayak bolak-balik beli sayur di depang gang aja. Mabok yang tadi aja belum ilang sekarang harus balik lagi.
Mereka yang baru mendarat langsung berangkat ke Rumah sakit tempat Oma dirawat.
Ana yang masih mabok udara, rasanya jiwa nya masih melayang di tambah di ajak lari-larian sama Bhumi semakin tambah mual.
Bhumi dengan nafas terengah-engah langsung menghampiri Oma yang sedang terbaring di tempat tidur.
"Oma apa yang terjadi apa baik-baik saja?" dengan nafas yang tidak beraturan.
"Kok kamu pulang? kan sudah Oma bilang gak perlu kesini, Oma baik-baik saja sayang."
"Aku takut Oma kenapa-napa," Bhumi tampak sangat khawatir.
Ana muncul membuka pintu nafasnya yang hampir saja putus akhirnya sampai ke kamar Oma.
"Oo ma baik-baik saja kan?"Ana yang sedang memegang perut nya mendekati Oma.
"Bhumi kamu tau kan istri mu lagi hamil tapi kamu ajak lari-larian," Oma sangat marah dengan Bhumi.
Bhumi hanya memandang Ana dengan tatapan aneh.
"Selamat siang," seorang dokter masuk ke kamar Oma. Menanyakan keluhan Oma, tapi Oma yang merasa sudah baik-baik saja memaksa untuk pulang.
"Dok saya mau pulang, sudah tidak betah di sini, ayolah dok kasihanilah wanita tua ini."
Dokter tampak tersenyum melihat Oma merengek,
"Baiklah bu, sepertinya ibu juga tidak ada keluhan lagi, jadi hari ini bisa pulang."
Oma sangat kegirangan karena di rumah dia akan di temenin Ana.
Bhumi memegangi tangan Oma keluar dari mobil. Ana hanya mengikuti dari belakang. Tiga orang pelayan sudah ada di depan pintu di antaranya ibu muka judes yang dulu pernah Ana lihat waktu pertama dia datang kerumah ini. Sampai sekarang pun Ana belum tau nama nya.
"Apa Oma mau ke kamar?" tanya Bhumi pada Oma.
"Tidak nak, Oma mau duduk di ruang keluarga saja, Oma mau memberitahu Ana tentang sesuatu."
"Kan masih bisa besok Oma, istirahat aja dulu," Bhumi membujuk Oma, tapi Oma tetap saja tidak mau.
Bhumi yang sedari tadi sudah beberapa kali di telpon Roby akhirnya dia memutuskan pergi ke kantor.
Ana menemani oma duduk sambil menonton tv.
__ADS_1
Sekitar 15 orang pelayan dengan cepat sudah berdiri berjejer di depan Oma dan Ana termasuk ibu yang muka nya judes tadi.
"Ana semua pelayan ini bekerja di rumah ini, masing-masing punya tugas,kalau kamu perlu bantuan bisa minta tolong sama mereka. Itu ibu Marni dia kepala pelayan di rumah ini, kamu bisa menyakan apapun dengan nya, bisa minta tolong di antar keliling rumah ini."
"Baik Oma,"
Benar- benar luar biasa, pikir Ana.
"Oh ya Marni sekarang panggil Ana nyonya muda ya."
Apa nyonya muda, ini kenapa panggilan nya horor banget, yaampun Ana mengernyitkan alis nya.
"Baik nyonya besar," Bu Marni menjawab perintah Oma.
"Ya sudah kalian boleh kembali ke tempat masing-masing," Oma membubarkan barisan pelayan di rumah ini.
Ana mengantar Oma kekamarnya untuk istirahat.
Ana celingak celinguk mencari bu Marni, akan menanyakan kamar nya dimana dan koper-koper nya di bawa kemana.
"Nyonya apa anda perlu sesuatu," Ana dengan cepat menoleh mendengar suara bu Marni.
"Maaf bu, koper saya dibawa kemana ya? dan kamar saya dimana?"
"Silakan ikut saya nyonya." suara bu Marni begitu tegas.
Ana tiba di kamar yang luas bernuansa klasik minimalis, terdapat lukisan kuda di atas ranjang. Sangat rapi dan bersih rasanya debu pun enggan nempel di atas perabotan kamar ini.
Bu Marni menunjukan ruangan tempat menyimpan pakaian Bhumi, dan baju-baju Ana sudah tertata rapi di sana sesui warna. Ana melihat pakaian Bhumi yang tertata rapi. Sudah ada meja rias yang indah beserta make up lengkap dengan brand ternama.
"Maaf Bu Marni, ini make up milik siapa ya?"
"Itu semua di siapkan untuk nyonya,"
Ana tampak tercengang
Ini sih bukan lemari tapi butik pindah ke rumah. Batin Ana
Selanjutnya Bu Marni menunjukan kamar mandi. Kamar mandi ini begitu luas di lengkapi bathtub yang besar mungkin bisa menampung 5 orang.
Alat mandi untuk Ana pun sudah di siapkan dengan apik.
Ana yang masih melongo melihat ini semua.
"Maaf nyonya saya permisi dulu, silakan anda istirahat, kalau anda perlu bantuan bisa telepon saya."
"Terimakasi Bu," Ana melambaikan tangan nya yang bahkan tidak di balas.
Ana kembali menyusuri kamar ini, ada beberapa foto diantara nya foto Bhumi yang masi kecil.
"Wahh ternyata dia manis juga waktu kecil, kenapa sekarang jadi galak gitu yah," gumam Ana.
Ada foto 3 orang Ana kecil yang di antara nya seorang gadis kecil yang cantik.
"Apa ini juna dan jasmine ya? wah cantik sekali."
__ADS_1
Ana kembali meletakan foto-foto itu.
Bersambung...