
Hp Ana berdering membuatnya terbangun dari tidur. Ternyata dari tadi Mia yang menelepon nya.
"Astaga jam berapa ini," Ana melirik jam dinding di depan yang menunjukan di angka 10.
Ana menghubungi Mia balik, Ana hari ini ijin karena sedang tidak enak badan. Ana membuat alasan yang lumayan logis dari pada dia bilang kalau bangun kesiangan.
Ana melihat Bhumi yang masih tertidur pulas, dia mendekati Bhumi dan meraba dahi nya. Sudah tidak demam lagi.
Ana melangkah menuju kamar mandi ingin menyegarkan badan nya , bangun sesiang ini membuat nya jadi lemas dan pusing. Tapi karena efek begadang tadi malam juga sih.
Ana yang sudah keluar dari kamar mandi masih mandapati Bhumi yang tertidur pulas.
Ana turun ke bawah ingin membuatkan Bhumi bubur, tapi sampai dapur jangankan membuat bubur, pegang sendok aja gak di kasi.
"Bu Marni saya mau buat bubur, saya biasa kok dulu masak."
"Maaf nyonya jangan membuat saya susah,"
Siapa yang bikin susah coba orang mau bantu.
"Yasudah kalau begitu, Bu Marni buatin saya bubur 1 mangkok," Bu Marni menyuruh 2 orang pelayan membuat bubur pesanan Ana.
Ana menunggu sambil melahap sarapan nya.
"Nyonya bubur nya sudah siap," seorang pelayan menghampiri Ana.
"Oke, terimakasih ya," Ana mengambil nampan meletakan bubur dan segelas air hangat. Baru juga mau mengangkat nampan Bu Marni sudah mencegah Ana.
"Nyonya letakan nampan itu, biar pelayan yang membawanya ke atas."
Sampai kapan harus akting jadi tuan putri seperti ini.
Ana hanya mengiyakan saja, Ana sudah malas berdebat dengan Bu Marni karena pasti Ana akan kalah menghadapi Bu Marni yang bekerja sesui SOP haha.
Ana mencoba membangunkan Bhumi dengan panggilan yang sangat lembut.
"Pak Bhumi bangun sarapan dulu yuk."
Bhumi membuka mata nya pelan.
"Pak sarapan dulu ya," Ana kembali menawarkan bubur yang ada di tangan nya.
"Aku gak mau makan, aku mau tidur saja." Bhumi kembali memejamkan mata nya.
"Jangannnnnn, sarapan dulu baru tidur lagi biar ada tenaga."
Bhumi menuruti kemauan Ana dan posisi nya sekarang sudan duduk. Tapi bubur di tangan Ana malah di plototin begitu saja.
Ana:
Ngapain dia malah bengong, apa dia minta di suapin?
Bhumi:
Nie orang ngapain malah diem, bukanya nyuapin.
Ana memberanikan diri bertanya pada Bhumi.
__ADS_1
"Pak Bhumi saya suapin ya?"
"Terserah kamu saja," Bhumi pura-pura tidak peduli, padahal memang pengen di suapin.
Sesuap demi sesuap Ana dengan sabar menunggu Bhumi menelan bubur itu sudah seperti seorang ibu menyuapi anak nya.
Bhumi memperhatikan Ana yang sangat lembut beda dengan kemarin-kemarin yang sedikit jail, suka melawan, dan sering bikin kesel.
"Pak Bhumi silaka istirahat lagi, saya mau bawa mangkok ini ke bawah,"
"Telpon pelayan saja, kamu gak usah turun."
Padahal kan aku sengaja mau turun biar gak berada di kamar ini bersamanya.
"Baiklah,"
"Ana kesini sebentar, Bhumi memanggil Ana.
"Ia ada apa pak?"
"Duduk di sini, Bhumi menyuruh Ana duduk di dekat nya.
Ada apa dengan mu pak Bhumi, apa demam tadi malam membuat anda berubah? Ana merasa ada sesuatu yang aneh.
"Mulai sekarang jangan panggil aku Pak Bhumi lagi, emangnya kamu pegawai ku manggil nya pake sebutan pak segala."
Lahh emang iya kan, aku kan kerja di Rumah sakit milik nya hemmmm atau aku harus memanggil nya dengan sebutan jeonha haha. Ana malah senyum-senyum
sendiri.
"Panggil saya Bhumi saja gak pake Pak,"
"Ehemmm," Bhumi mendehem.
Hari ini Ana hanya di rumah menemani Bhumi tapi mereka punya kesibukan masing-masing. Bhumi yang dari tadi siang di ruang kerjanya gak kaluar-keluar.
Ana yang sibuk nonton drakor yang lagi hits minggu ini tentang pelakor.
"Nie pelakor pengen gue jambak aja," Ana terbawa emosi.
"Siapa yang pengen kamu jambak," Bhumi yang nyaut entah dari arah mana datang nya."
"Ini aku lagi nontom drakor,"
Sebenernanya sih pengen jambak kamu kalau bisa.
"Drakor?" Bhumi tampak bingung.
"Drama korea disingkat jadi drakor,"
Yaampun gitu aja gak ngerti, makanya jangan bergaul sama kertas dan pulpen mulu kudet kan lu.
"Oh," sahut Bhumi.
"Kalau kamu mau tidur di kasur tidur aja, nanti biar aku tidur disini," menunjukan sofa yang tengah ia duduki.
Bhumi merebahkan badan nya tanpa berbicara apapun.
__ADS_1
Pagi ini Ana sudah siap dengan pakaian rapi dan make up yang tipis. Bhumi juga sudah siap dengan setelan jas hitam.
Tidak bisa di pungkiri wajah nya memang tampan seperti mailkat. Ana sedikit terpesona.
Ana turun ke bawah untuk sarapan di susul dengan Bhumi melangkah di belakang nya.
"Kamu ke rumah sakit bareng aku hari ini,"Bhumi memberikan perintah.
Maksudnya dia apaan sih sejak kapan jadi sok baik kayak gini. Ana diam tidak menjawab perkataan Bhumi.
Bhumi yang sedikit berubah membuat Ana salah tingkah. Ana yang biasa di perlakukan tidak baik sekarang sudah sedikit merasa nyaman walapun Bhumi yang sebenarnya meminta tapi terlihat seperti memberi perintah.
Bhumi sampai di kantor malah senyum-senyum gak jelas.
"Pak jadwal anda hari ini." Roby menyodorkan sebuah note book kepada Bhumi.
Tumben senyum setelah beberapa tahun lalu, biasanya juga muka nya selalu kaku kayak kanebo kering. Roby menyadari kelakuan bos nya yang aneh.
"Baiklah, ayo kita meeting."
"Meeting nya mulai jam 11 pak, ini baru jam 9," Roby kembali menjelaskan.
Bhumi memandang Roby kesal.
"Maaf pak Bhumi, ada tamu yang mencari anda," seorang staf sekertaris memberi tahu Bhumi.
"Siapa?" Bhumi tanya balik.
Seorang wanita blasteran tiba-tiba masuk. Roby kaget dan Bhumi tambah kaget lagi.
"Angel," Bhumi menyebut nama wanita itu.
Angelina seorang wanita yang dulu sangat dicintai oleh Bhumi, sampe sekarang pun Bhumi masih gagal move on. Rasa cinta nya telalu besar untuk Angel.
"Maaf pak saya permisi dulu," Roby mengerti dia harus pergi dalam situasi ini.
Angel mendekati Bhumi, dan brug Angel memeluk Bhumi dengan erat. Tapi Bhumi yang masih bengong tidak merespon apa-apa.
"Bhumi apa kamu gak kangen sama aku,"
Bhumi tidak bisa menolak angel, dia begitu mencintai wanita ini.
"Kamu sudah kambali?" Bhumi mulai bertanya.
"Ya aku akan menetap dan memulai semua nya dari awal lagi. Maafkan aku?"
Bhumi berusaha melepaskan pelukan Angel.
"Bhumi maafkan aku, kita mulai lagi dari awal ya?" Angel berusaha meyakinkan Bhumi.
"Angel keadaan nya sudah berbeda sekarang."
"Apa karena kamu sudah menikah? Tapi apa kamu benar-benar mencintai gadis itu?" Angel merasa tidak terima.
"Kita duduk saja dulu ya," Bhumi berusaha menenangkan Angel yang sudah terbawa emosi.
"Bhumi aku akan selalu ada disisimu mulai saat ini, percayalah pada ku." Angel sepertinya tau bagaiman cara membuat Bhumi bingung.
__ADS_1
"Baiklah, kita mulai dari awal." Bhumi menyetujui permintaan angel.
Bersambung