My Exotic Wife

My Exotic Wife
Apartemen Ana


__ADS_3

Bhumi terbangun dari tidur nya, memutar bola mata ke segala arah. Sadar kalau kamar ini bukanlah kamar nya. Bhumi merubah posisi nya kini dia mencoba duduk sambil memegangi kepala yang masih terasa pusing.


"Dimana aku sekarang." Bhumi bergumam sendiri. Mencoba mengaktifkan memorinya, tapi tadi malam sepertinya terlalu mabuk jadi tidak mengingat apapun.


Bhumi kembali mengarahkan pandangan nya ke berbagai sudut ruangan itu mencoba menemukan seseorang. Namun tidak ada seorang pun yang ada di sana kecuali diri nya. Bhumi beranjak dari sofa mencoba berdiri sambil tetap memegangi kepala nya. Dia meninggalkan ruangan itu tanpa tau siapa yang bersama nya tadi malam.


Ana termenung memandang ke arah jendela pesawat, melihat langit biru dari ketinggian 10.600 mdpl. Terlihat sangat indah karena cuaca hari ini begitu cerah. Tapi sepertinya Ana tidak fokus menikmati pemandangan itu. Mata nya pun sangat sulit di pejamkan padahal tadi malam dia sama sekali tidak tidur.


Ana terus mencoba melupakan tapi semakin di lupakan semakin tidak mau pergi dari pikiran. Selama bertahun-tahun terpisah tapi hati memang tidak bisa di bohongi. Ingin melupakan tetapi perasaan sudah terlalu dalam. Masing sama-sama menginginkan tapi malu untuk mengucapkan. Begitulah kira-kira antara Bhumi dan Ana.


***


Sabtu sore di pinggir jalan, Ana berdiri di atas trotoar mambawa seikat bunga. Ana kemudian duduk di pondasi tiang lampu penerangan jalan. Dia mengingat kejadian 4 tahun lalu saat diri nya mengalami kecelakan. Hingga menyebabkan kehilangan setengah dari jiwa nya.


4 tahun lalu Ana berjuang antara hidup dan mati di tempat ini. Penghianatan yang Bhumi lakukan saat itu sampai sekarang Ana belum tau kebenaran yang terjadi. Yang Ana tau Bhumi bersama wanita lain dan berselingkuh di belakang nya.


"Nak maafkan mommy baru bisa datang, apa kamu baik-baik saja di sana bersama Tuhan?. Mommy sangat mencintai mu nak walaupun saat ini kita tidak bisa bersama." Ana meneteskan air mata nya, setelah cukup lama dia berada di sana, Ana meletakan bunga itu di pinggir jalan.


Ana beranjak dari tempat duduk nya, namun dia melihat Bhumi sedang berjalan mendekat ke arah nya. Ana sedikit penasaran apa yang Bhumi lakukan di tempat ini. Apa jangan-jangan Bhumi juga datang untuk bayi mereka.


"Mau apa kau kesini?" Ana bertanya pada Bhumi yang berpapasan dengan nya.


"Sudah ku katakan, kamu tidak perlu mengingat apapun tentang aku dan bayi ku." Ana melanjutkan kata-katanya dengan nada sedikit meninggi.


Bhumi hanya tersenyum menanggapi Ana, karena Bhumi tau Ana pasti masih sangat kecewa dengan nya.


"Maaf nona Ana, bukankah aku adalah ayah dari bayi kita?"

__ADS_1


"Bayi ku, bukan bayi kita!!! Ana kembali kesal.


"Sebaiknya kamu lupakan saja dan mulailah hidup dengan bahagia bersama calon istri mu yang baru!!!" Ana sedikit kesal dan meinggalkan Bhumi. Bhumi hanya tersenyum melihat Ana seperti itu.


Bhumi kemudian duduk di atas trotoar, pakaian yang rapi tidak membuat nya enggan melakukan hal itu. Bhumi menaruh seikat bunga di pinggir jalan, tepat di samping bunga yang Ana letakan. Setiap tahun Bhumi selalu datang ke tempat ini. Tidak pernah melewatkan sekalipun walapun sesibuk apapun.


"Apa mommy mu sedang marah sayang? Daddy rasa dia sedang cemburu. Sayang kalau kamu merestui kami bersatu kembali. Tolonglah biarkan daddy mendekati mommy mu lagi. Sudah cukup 4 tahun kami berpisah, daddy tidak bisa hidup tanpa mommy mu lagi." Bhumi seakan curhat bersama bayi nya.


Setelah puas berada di sana, Bhumi kemudian bangun akan pergi. Pandangan Bhumi beralih ke sebuah benda coklat di depan nya. Sebuah dompet tergeletak tak bertuan. Bhumi kemudian mengambil dompet itu ingin melihat identitas di dalam nya.


Senyum Bhumi mengembang ketika melihat identitas yang ada didalam nya. Tertulis nama di beberapa kartu, dan KTP Andriana Maharani. Bhumi seperti mendapat secercah harapan bisa datang menemui Ana kembali.


Ana mengeluarkan isi tas nya, namun dompet yang di cari tidak ada. Beruntung bensin di mobil nya cukup sampai di apartement kalau tidak bisa-bisa mobil yang di bawanya mogok di tengah jalan.


"Kemana pergi nya dompet itu." Ana bergumam sambil masih mencari keberbagai sudut. Tapi hasil nya nihil, Ana kemudian duduk di sofa mencoba mengingat-ingat kembali.


Ana sedikit berlari menuju pintu, namun apa yang dilihatnya.


"Bhumi."


"Apa kamu kehilangan sesuatu?" Bhumi berdiri di depan pintu bertanya pada Ana.


"Ada perlu apa datang kesini? apa kamu memata-matai ku sampai tau dimana aku tinggal saat ini." Ana dengan nada ketus bertanya pada Bhumi.


"Kamu tidak perlu marah seperti itu, aku tau alamat mu dari identitas di dalam dompet ini." Bhumi menyerahkan dompet coklat milik Ana.


"Apa begini cara nya memperlakukan seorang tamu?" Bhumi kembali melanjutkan ucapan nya.

__ADS_1


"Tamu? ya tamu tak di undang! Ayo masuk." Ana membuka lebar pintu nya untuk Bhumi.


Ana mempersilakan Bhumi masuk ke dalam apartemen nya. Bhumi melihat sekeliling, apartemen mewah yang di tempati Ana cukup membuat nya penasaran tapi tidak berani bertanya. Bhumi takut saat ini membuat Ana salah paham padanya.


"Sialakan di minum." Ana datang membawa secangkir kopi untuk Bhumi.


"Apa di dalam nya ada racun?" Bhumi menyuruput kopi yang kini sudah di tangan nya.


Aku sangat merindukan rasa kopi ini.


"Seharusnya dari dulu aku meracuni mu." Kata-kata Ana membuat Bhumi menelan ludah nya.


"Aku hanya bercanda, tidak perlu seserius itu." Bhumi terkekeh melirik Ana.


"Aku serius jadi kamu tidak perlu bercanda seperti itu, sudah cukup kamu memepermainkan hidup ku." Ana kembali terbawa perasaan. Bhumi hanya diam tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Aku hanya bisa meminta maaf pada mu." Hanya itu yang keluar dari mulut Bhumi.


"Apa kamu sudah selesai? aku akan beristirahat, terimakasih sudah mengembalikan dompet ku." Ana mengusir Bhumi secara halus. Bhumi yang menyadari situasi seperti ini akan membuat hubungan mereka bertambah rumit. Bhumi kemudian pergi dari apartemen Ana.


"Hari ini belum berhasil, aku akan terus mencoba nya sayang." Bhumi bergumam sambil melangkah meninggalkan gedung apartemen Ana.


"Kenapa aku selalu tidak bisa mengendalikan diri ku saat berada dekat dengan nya. Kenapa kemarahan ini masih ada? Kenapa aku tidak bisa tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Harusnya aku sudah iklas melepasmu tapi ..." Ana mengusap wajah nya kasar di atas tempat tidur tidak ingin melanjutkan fikiran yang membuat nya bingung.


Bersambung....


Jangan lupa pencet like nya setelah membaca, biar tambah semangat lagi nulis nya ^_^

__ADS_1


__ADS_2