My Exotic Wife

My Exotic Wife
Hampir Saja


__ADS_3

Sudah hampir 1 bulan Ana kembali dari Amerika, namun wajah nya masih telihat sedih. Bhumi dengan setia selalu berada di samping nya dan memilih untuk pindah ke apartemen agar bisa selalu menghibur Ana.


Namun kotak kayu yang Ana bawa belum juga dia buka sampai sekarang, entah karena masih bersedih atau Ana sudah tidak ingin tau lagi apa yang ada di dalam nya. Kotak itu hanya tergeletak tanpa terjamah oleh nya.


"Apa kamu sudah membuka kotak yang di berikan ibu?" Bhumi yang sedang duduk di tempat tidur menunjuk kotak yang Ana letakan di meja.


"Entahlah, aku tidak ingin membuka nya." Ana menghempaskan tubuh nya di atas kasur.


"Oh ya sampai kapan kau akan tinggal di sini? huh merepotkan saja setiap pagi harus membuatkan mu sarapan." Ana melirik kesal ke arah Bhumi.


"Bukankah kamu senang kalau aku selalu ada di sampingmu? bahkan kamu tidak menolak berbagi tempat tidur dengan ku." Bhumi terkekeh melihat wajah Ana yang memerah.


"Kalau begitu kamu pindah sana, ayo cepat pergi." Ana mendorong tubuh Bhumi dari atas kasur.


Namun bukanya pergi Bhumi malah menarik tubuh Ana ke pangkuan nya. Ana berusaha menggerakan tubuhnya namun pelukan Bhumi begitu erat. Mereka saling menatap, merasakan hembusan nafas satu sama lain hanyut dalam suasana yang begitu hangat. Bhumi semakin mendekatkan bibir nya, namun belum sempat mendarat Ana segera memalingkan wajah nya.


"Maaf," Ana masih memalingkan wajah nya.


"Aku akan menunggu mu." Bhumi menyentuh pipi Ana kemudian mengecup kening nya.


"Ayo kita tidur, jangan buat aku panas lagi." Bhumi menarik selimut memeluk Ana dari belakang.


Ana hanya diam tidak melakukan apa, berusaha memejamkan mata nya namun tidak bisa. Ana mengubah posisi nya kini menghadap ke arah Bhumi. Memperhati kan setiap jengkal wajah laki-laki yang sedang tertidur lelap di hadapan nya.


Maafkan aku. Ana mengelus pipi mulus Bhumi. Sampai akhirnya dia ikut terlelap.


***


Bhumi terbangun dari tidur nya mencium aroma masakan dari dapur. Ana yang setiap pagi memang selalu menyiapkan sarapan untuk Bhumi, tapi kali ini seperti nya spesial, tidak seperti biasanya yang hanya sekedar roti lapis. Bhumi berdiri memperhatikan Ana, wanita di di depan nya terlihat sangat cantik. Rambut di ikat seperti ekor kuda, memakai celemek dan sibuk menggoyang-goyang kan wajan nya.


"Apa kita perlu pindah ke rumah, agar kamu tidak melakukan hal seperti ini lagi setiap pagi, atau apa aku harus mencarikan mu asisten?" Bhumi memeluk Ana dari belakan.


"Kau mengagetkan ku saja." Ana kembali fokus dengan nasi goreng nya.


"Lepaskan aku atau makanan ini tidak akan matang kalau kamu terus menggodaku." Ana melirik Bhumi kesal yang dari tadi terus mengganggu nya.


"Kamu sangat cantik." Bhumi menempelkan wajah nya di kepala Ana.

__ADS_1


"Aku bahkan belum sempat mandi." Ana terkekeh mendengar kata-kata Bhumi.


"Oh ya bagaimana kalau kita kembali ke rumah, Oma pasti sangat bahagia kita bisa bersama-sama lagi seperti dulu." Bhumi kini duduk di meja makan terlihat lebih serius.


"Aku masih belum siap dengan banyak aturan di rumah, hemmmm saat ini aku ingin menikmati kebersamaan ku berdua dengan mu." Ana memelankan suara nya.


"Apa kamu bilang? coba ulangi sekali lagi." Bhumi pura-pura tidak mendengarnya.


"Ayo cepat dimakan." Ana menyuguhkan 2 piring nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya.


"Apa yang kamu katakan tadi, coba ulang aku ingin mendengarnya." Bhumi tersenyum memegang tangan Ana.


"Tidak akan." Ana menyungginkan senyum nya seraya mengejek Bhumi.


Obrolan pagi mereka begitu hangat seperti pasangan lain nya. Saling melempar canda tawa bahkan kadang Ana yang selalu kesal dengan tingkah laku Bhumi.


"Hari ini aku akan menemani mu syuting." Bhumi merapikan dasi nya melirik Ana yang sedang duduk di samping.


Ada apa dengan nya? apa dia tidak memiliki kesibukan lain, kenapa tiba-tiba dia jadi penguntit haha.


"Apa kamu hari ini tidak sibuk?" Ana bertanya pada Bhumi memastikan agar Bhumi tidak ikut turun.


"Tidak pak." Seakan sudah mengerti dengan isyarat bos nya, Roby dengan sigap menjawab tidak.


"Ya sudah." Ana menaikan bola mata kemudian menghela nafas dalam.


Ana memasuki studio tempat syuting akan di mulai, seperti biasa ada belasan kru dan beberapa orang lain nya. Tetapi kali ini berbeda mata mereka tertuju pada seseorang yang mengikuti Ana dari belakang. Apa lagi dengan para wanita, mata mereka seperti melihat malaikat.


Juna yang juga berada di sana melihat kedatangan Ana bersama Bhumi. Juna kemudian menghampiri Bhumi dan memeluknya. Terlihat akrab, sudah tidak ada ketegangan lagi di antara mereka seperti dulu.


"Wah wah ternyata kamu di temenin bodyguard ya An." Juna terkekeh melihat Bhumi.


"Sialan lo, gue gak mau lo deket-deket sama istri gue." Bhumi menepuk pundak Juna.


"Ana gak akan mungkin berpaling dari lo, buktinya sudah bertahun-tahun akhirnya dia balik lagi sama lo." Juna tersenyum melihat ke arah Ana.


"Apaam sih." Ana mencubit lengan Juna menbuat nya tertawa.

__ADS_1


"Ini lah Juna yang sesungguhnya." Bhumi terkekeh beberapa tahun ini mereka sering berselisih karena cinta segitiga.


"Maaf dokter Ana, syuting akan segera di mulai silakan bersiap-siap." Seorang kru menghampiri Ana.


"Aku kesana dulu ya, Juna temenin ya aku takut dia tergoda wanita lain." Ana tersenyum kemudian menjauh dari kedua sahabat itu.


Di tengah-tengah syuting, Bhumi yang duduk bersama Juna di kagetkan dengan kedatangan Elisa. Gadis yang terkenal angkuh dan menyebalkan datang ke kantor Juna.


"Elisa." Juna terlihat kaget melihat Elisa.


"Aku mencoba menelepon mu tapi tidak ada jawaban." Elisa langsung duduk di sebelah Juna.


"Apa jangan-jangan kalian?" Bhumi sadar terlihat berbeda dengan sahabat nya itu.


"Kami hanya rekan bisnis." Elisa menjawab singkat.


"Haha baiklah." Bhumi tertawa melihat juna dengan wajah kebingungan.


"Ada apa ini? kenapa wajah mu pucat?" Ana menghampiri ke tiga orang di depan nya.


"Ini nih si Juna sepertinya mau kencan." Bhumi kembali terkekeh.


"Diam lo." Juna menaikan salah satu alisnya melihat ke arah Bhumi.


"Hai aku Ana, sepertinya kita belum saling kenal." Ana mengulurkan tangan ke arah Elisa.


"Hai aku Elisa, akhirnya aku bisa bertemu dengan mu." Elisa tersenyum ramah, berbeda dengan sebelumnya.


"Apa kalian mau ikut dengan kita?" Juna mengajak Ana dan Bhumi untuk bergabung.


"Ayo kita pergi." Dengan sigap Ana menyikut lengan Bhumi.


"Eemmm tidak usah, lagian aku sama Bhumi masih ada urusan." Ana segera meralat kata-kata Bhumi tadi.


"Kenapa Juna tidak pernah bilang kalau dia dekat dengan seorang gadis? oh ya bukan kah gadis itu yang menemani mu di pesta beberapa bula lalu." Ana terlihat penasaran.


"Sudah jangan di pikirkan, kita harus segera pulang." Bhumi merangkul bahu Ana yang masih terlihat bingung memaksanya berjalan keluar studio.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2