My Exotic Wife

My Exotic Wife
Mulai Penasaran


__ADS_3

Ana berdiri di balkon kamar nya sambil memainkan ponsel, dia mulai tertawa membaca pesan dari Mia. Tawa nya yang begitu lepas terdengar sampai ke telinga Bhumi yang saat itu juga sedang duduk di di sofa menikmati secangkir teh hangat.


Bhumi diam-diam melangkah ke luar memperhatikan Ana di balik kaca, mengintip gerak gerik Ana. Bhumi terus memperhatikan Ana, pandangan nya terhenti ketika melihat perut Ana yang sedikit membuncit di balik piyama berwarna cream.


"Suami macam apa sampai-sampai membiarkan istrinya bekerja di rumah orang lain." Bhumi bergumam sendiri.


Ana melihat ke layar ponsel nya sudah menunjukan jam 10 malam, dia bergegas masuk ke dalam kamar. Bhumi yang sedari tadi mengintip sedikit kebingungan melihat Ana tiba-tiba masuk ke dalam.


"Sial sudah jam 10.00," Ana mengganti baju nya dan segera berlari keluar.


Bhumi yang sedari tadi masih betah berdiri di balkon mendengar pintu kamar nya ada yang mengetuk, membuatnya sedikit terganggu.


"Masuk aja gak di kunci." Bhumi sedikit berteriak yang mungkin saja tidak akan di dengar karena jarak nya terlalu jauh.


"Maaf pak saatnya anda minum obat." Ana membawa nampan dengan segelas air di tangan nya.


Oh ternyata tadi dia berlari untuk ini. Bhumi hanya melihat Ana tanpa merubah posisi nya.


Ana mengambil obat di laci meja, tanpa perlu bertanya pada pemilik kamar itu. Seperti sudah fasih dan tau setiap sudut kamar itu. Ana melangkah mendekati Bhumi, memberikan 3 jenis obat dan segelas air.


"Cepet juga kamu ganti baju nya."


Bhumi mengambil air dari tangan Ana dan menelan obatnya sekaligus.


"Maaf pak?" Ana nampak kebingungan dengan kata-kata Bhumi.


Ganti baju apaan coba? makin hari makin aneh aja. Batin Ana.


"Maaf pak Bhumi, besok pagi saya mau ijin, besok sebelum saya pergi akan saya siapkan semua keperluan bapak."


"Kalau kamu ijin, gaji mu akan ku potong." Bhumi menjawab dengan asal.


Gaji aja gak dapet apanya yang mau di potong coba? Ana nyipitkan mata nya sambil melirik Bhumi.

__ADS_1


"Kamu boleh pergi," Bhumi mengusir Ana, memang kadang gak ada sopan santun nya.


Ana pergi meninggalkan kamar Bhumi, tapi langkah nya terhenti ketika Bhumi kembali memanggilnya.


"Tunggu, besok aku akan pergi dengan Angel, aku sudah sehat jadi aku gak mau denger alasan apapun untuk diem di rumah."


"Baik pak Bhumi." Ana hanya menjawab tanpa menoleh kemudian berjalan kembali menuju pintu.


"Ada apa dengan nya, di ajak ngomong malah pergi," Bhumi bergumam sendiri.


Ke esokan paginya, Ana bangun lebih pagi untuk mempesiapkan keperluan Bhumi hari ini, walapun Ana hanya pergi beberapa jam saja tapi statusnya di mata Bhumi saat ini hanya dokter pribadi jadi sebisa mungkin Ana harus profesional.


"Selamat pagi Bu Marni." Ana menyapa Bu Marni di meja makan yang sedang sibuk menata meja dengan peralatan yang sangat banyak.


"Maaf nyonya sarapan belum siap, tolong tunggu 15 menit lagi." Bu marni sedikit kaget melihat Ana yang sudah rapi sepagi ini.


"Gak apa-apa Bu, tolong ambilkan saya roti saja, saya buru-buru sudah janji dengan dokter kandungan jam 7."


"Oh ya Bu nanti minta tolong ingetin Bhumi minum obat jam 8, maaf ya saya sedikit merepotkan Bu Marni." Ana melanjutkan kata-katanya.


Dengan cepat Ana mengambil roti di piring nya dengan sedikit berlari ke luar sambil melambaikan tangan ke arah Bu Marni.


"Anak itu," Bu Marni menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tak lama berselang Bhumi turun dari kamarnya. Entah kenapa dia juga bangun sepagi ini, untung saja Bu Marni sudah selesai menyiapkam sarapan untuk nya.


"Selamat pagi Tuan," Bu Marni menyapa Bhumi.


"Dokter cerewet itu pergi kemana Bu?" Bhumi sedikit penasaran dengan Ana, karena kemarin Ana tidak menyebutkan akan pergi kemana.


"Maaf Tuan, tadi nyonya, maksud saya tadi dokter Ana bilang akan pergi ke dokter kandungan." Bu Marni keceplosan menyebut Ana dengan sebutan nyonya.


Bhumi tampak manaikan satu alisnya, merasa ada yang aneh, apalagi tadi Bu Marni menyebut Ana dengan sebutan nyonya.

__ADS_1


Tapi Bhumi kembali tidak perduli, dia hanya ingat dengan janji nya dengan Angel hari ini. Ponsel Bhumi berdering dan benat saja, Angel sudah menelepon nya sepagi ini. Senyum Bhumi seketika mengembang di bibirnya.


Di rumah sakit dengan langkah gontai Ana keluar dari ruangan dokter Winda yang memeriksanya tadi, Ana masih kepikiran dengan kata-kata dokter Winda kalau janinnya bulan ini tidak berkembang dengan baik. Dan Ana tidak mengalami kenaikan berat badan seperti ibu hamil pada umum nya.


Ana merasa bersalah dengan bayi nya. Belakangan ini dia terlalu fokus dengan Bhumi sampai lupa ada bayi di dalam perutnya yang harus dia jaga. Ana menghela nafasnya, memikirkan sampai di rumah akan mengahadapi orang yang sangat menyebalkan seperti Bhumi.


Ana meminta sopir berhenti di sebuah restoran yang sering ia datangi dulu dengan Bhumi. Saat ini Ana ingin makan enak untuk memgembalikan mood nya, mumpung lagi ada di luar rumah.


Ana di sambut oleh pramusaji dan memilih duduk di pojok saja, berbeda kalau datang bersama Bhumi pasti Roby memesan tempat vip untuk nya. Ana sedang sibuk memilih menu sambil mebolak balikan daftar menu yang ada di tanga nya.


"Ternyata ada gadis cantik lagi duduk sendirian aja," Seperti ada sinyal yang terhubung antara Juna dan Ana.


"Ternyata ada orang gila hahaha," Ana mengejek Juna, sambil tertawa.


"Jangan-jangan kamu ngikutin aku ya?" Ana melirik Juna penuh curiga.


"Apa aku terlihat seperti penguntit hahaha." sekarang giliran Juna yang tertawa.


Pada saat yang bersamaan Bhumi juga berada di restoran itu dan melihat Ana dan Juna sedang duduk bersama. Tapi Bhumi hanya mengamati dari jauh karena dia sedang bersama Angel.


Kenapa mereka selalu bersama? apa jangan-jangan Juna adalah suami dari dokter cerewet itu.


"Sayang,"


"Sayang,"


Beberaa kali Angel memanggil Bhumi tapi fokus Bhumi masih tertuju ke arah Ana.


"Sayang,"


Angel sedikit berteriak, membuat Bhumi kaget dan dengan cepat kembali meladeni Angel.


"Kamu liat apaan sih, sampe bengong gitu?" Angel merasa penasaran, dan melihat-lihat sekitarnya tapi tidak menemukan sesuatu.

__ADS_1


"Ayo kita masuk ke dalam," Bhumi menarik tangan Angel agar tidak melihat Ana dan Juna.


Bersambung...


__ADS_2