My Exotic Wife

My Exotic Wife
Sakit Hati


__ADS_3

"Jangan sentuh barang-barang ku." Teriakan Bhumi yang tiba-tiba muncul mengagetkan Ana.


"Maaf saya hanya melihat foto saja," suara Ana bergetar karena takut. Ana duduk di pinggir kasur dan diam tidak mengatakan satu patah katapun.


"Tok...tok... nyonya makan malam sudah siap." Seorang pelayan memanggil untuk makam malam.


Di meja makan Oma sudah menunggu,


Ana duduk di samping Oma, kemudian di susul oleh Bhumi.


"Ana kenapa kamu terlihat sedih?"


"Gak apa-apa Oma cuma inget sama Ibu saja,"Ana memberi alasan.


Bhumi melirik Ana, mungkin dia sadar kesalahan nya tadi.


Makan malam telah selesai, di ruang keluarga Ana dan Oma menonton tv.


"Oma mulai besok Ana sudah mulai bekerja lagi."


"Apa sebaiknya kamu berhenti saja, kamu kan sedang hamil jadi Oma takut kalau kamu sampai kecapean."


"Oma percaya sama Ana, Ana pasti jaga diri, Oma gak usah terlalu khawatir ya." Ana mencium pipi Oma.


"Yah sayang, Oma percaya sama kamu nak."Obrolan meraka pun berakhir.


Ana masuk ke kamar tak ada seorangpun terlihat.


"Kemana perginya orang itu, ah sudahlah aku tidur saja," gumamnya.


Wahhh kasur ini empuk banget yahh, bisa-bisa lupa bangun nih kalo kayak gini haha.


Terdengar suara pintu terbuka, Ana memejamkan matanya pura-pura tidur.


Benar saja yang datang adalah Bhumi. Bhumi melihat Ana yang sudah tertidur,


"sial dia menguasai tempat tidur ku," Bhumi tampak kesal.


Ana yang pura-pura tidur mendengar kata-kata Bhumi.


Dalam hati Ana sangat sakit.


"Apa sebaiknya aku balik ke kos aja ya, untuk tidur saja rasanya di sini susah atau aku minta kamar lain saja, tapi itu sungguh tidak mungkin."


Ana menarik dalam nafasnya, dan mencoba untuk tidur.


Gimana coba cara nya aku bisa tidur di sofa seperti ini? bisa-bisa pegel semua ini badan. Harus sampai kapan seperti ini. Bhumi menggerutu pada diri nya sendiri.


Bhumi yang masih belum bisa tidur dengan posisi seperti itu, dia memainkan ponsel nya. Dengan wajah yang kaget dia melihat foto seorang perempuan di medsos.


"Apa dia sudah kembali?" Bhumi tertegun memandang foto itu.


Pagi sekali Ana sudah bangun dan sudah bersiap berangkat ke Rumah sakit. Wangi parfum perempuan membuat Bhumi membuka mata. Ana terlihat berbeda dari biasanya, baju yang dia pakai pun sekarang sudah menunjukan wanita kelas atas. Pagi ini Ana begitu mempesona, Bhumi yang mencuri-curi pandang melihat Ana takut kalau dia ketauan.


Ana keluar dari kamar tanpa sepatah katapun yang dia katakan pada Bhumi.


Gimana coba ngomong sama orang yang masih tidur.


Oma sudah menunggu di meja makan untuk sarapan.

__ADS_1


"Selamat pagi Oma," Ana mencium pipi Oma.


"Pagi sayang, kamu terlihat cantik sekali."


"Makasi ya Oma, udah buat Ana cantik hari ini," Ana berbisik pada Oma, membuat Oma tertawa.


"Bhumi mana?"


"Tadi waktu Ana keluar kamar dia masih tidur, Ana tidak berani membangunkan nya."


Ana begitu menikmati sarapan nya.


"Selamat pagi Oma," Bhumi menyapa Oma.


"Oma, Ana mau berangkat dulu yah takut kesiangan." Ana seperti menghindari Bhumi.


"Hati2 ya sayang,"


"baik Oma," Ana mencium pipi Oma, dan pergi tanpa berpamitan dengan Bhumi.


Bhumi yang melihat Ana begitu tergesa-gesa membuat nya penasaran.


Ada apa dengan wanita itu biasanya dia selalu ceria. Apa dia tersinggung dengan perkataan ku kemarin?


"Apa kamu bertengkar dengan istri mu,"


"Tidak Oma, ya sudah aku juga mau berangkat kalau begitu." Bhumi berpamitan pada Oma tak lupa mencium pipi Oma.


"Selamat pagi," Ana menyapa teman-teman nya."


"Pagi Ana, Kiara dengan ramah mebalas salam Ana."


Ana menghampiri Mia yang masih sibuk merapikan penampilan nya.


"Halo sayangku Mia, tidakkah dirimu ini kangen dengan diriku?"


"Kamu abis makan apa An? atau jangan-jangan lu ada mau nya ya?"


"Nanti anterin gue USG yah di poli Obgyn,"


"Tuh kan udah ke tebak, seharusnya lu nyari dokter di luar negeri sono, kan itu calon pewaris perusahaan terbesar di negeri ini," Mia mengomel.


"Emang apa beda nya sih, tetep aja USG dimana-mana sama, gak usah berlebihan gue masih Ana yang dulu kok." Ana sedikit kesal karena dia tau dia bukanlah apa-apa di keluarga itu.


Merekapun kembali ke tugas masing-masing, tapi hari ini tidak terlalu sibuk karena Kiara terlihat sangat rajin. Mungkin dia takut sama Ana, takut di adukan ada pegawai yang kerjanya gak ngilang aja.


Lumayan lama Ana menunggu giliran nya di panggil, Mia yang menemaninya sudah mulai mengeluh. Untung saja tak lama kemudian akhirnya dapat giliran, kalau tidak mungkin saja Mia kabur meninggalkan Ana.


Ana menjalani pemeriksaan, terdengar denyut jantung bayi nya. Tanpa sadar Ana meneteskan air mata nya. Dia terlalu bahagia seakan tidak ingin membagi perasaan nya dengan yang lain. Yahh tapi disana kan ada Mia yang menuggui nya otomatis dia harus berbagi dengan Mia.


"An baby nya lucu banget, aku jadi gak sabar menunggu dia lahir." Ana hanya tersenyum menanggapi kehebohan Mia.


Ana kini duduk disamping Mia. Mereka berdua mendengan dengan seksama penjelasan dokter.


Di lorong menuju UGD Ana bertanya pada Mia.


"Mi kalo kamu jadi aku, harus bagaimana?" Ana tampak tidak bisa menyembunyikan perasaan nya.


"Sabar ya An, aku selalu ada buat kamu," Mia memeluk Ana.

__ADS_1


"Mi anterin aku nyari rujak yuk?" Tiba-tiba mood Ana berubah inget rujak.


"Ayokk, biar kamu gak sedih lagi."


Bhumi masih teringat dengan wanita di foto yang dia liat tadi malam. Dia mengambil hp nya, kemudian menghubungi Roby.


"Rob sini sebentar,"


Secepat kilat Roby sudah berada di depan Bhumi saat ini.


"Pak Bhumi ada yang harus saya kerjakan," Roby bertanya.


"Hari ini Ana ngapain aja? km sudah suruh orang mengikuti kemanapun dia pergi kan?"


"Sudah pak, semua sudah sesuai keinginan anda."


"Oke kamu boleh pergi." Bhumi menyudahi pertanyaan nya pada Roby."


Hari sudah gelap ketika Ana tiba di rumah.


Ana masuk ke rumah tapi terlihat sepi, cuma ada bu Marni yang sedang di dapur seperti mengecek sesuatu.


"Bu Marni Oma mana?"


"Nyonya besar tadi siang berangkat ke luar negeri, katanya ada arisan.


Gila arisan aja sampe ke luar negeri, horang kaya mah bebas hihi. Ana tersenyum.


"Nyonya muda mau saya siapkan makan malam?" tanya bu Marni.


"Tidak usah bu, saya mau ke kamar aja."


"Baik nyonya."


Ana meninggalkan bu Marni yang masih sibuk di dapur.


Ana membuka pintu kamarnya, terlihat sesosok laki-laki sedang duduk si sofa.


"Kenapa jam segini baru pulang?" Bhumi bertanya pada Ana.


"Saya tadi ada urusan, bukankah di perjajian kita tidak boleh mencampuri urusan masing-masing," Ana menjawab dengan ketus.


"Tadi kamu melakukan USG kan? kenapa tidak bilang? bukankah aku yang harus mengantarmu ke dokter?"


Kenapa dia bisa tau? apa si freezer ini memata-matai ku?


"Mumpung lagi di rumah sakit jadi saya sekalian melakukan nya." Ana sudah jengkel dengan perlakuan Bhumi.


"Maaf saya mau mandi dulu." Ana meninggalkan Bhumi begitu saja.


Wanita ini berani-beraninya pergi begitu saja.


Bhumi memutar otaknya bagaimana cara nya biar dia bisa tidur di tempat yang nyaman. Ketika dia berbaring di kasur, Ana keluar dari ruang ganti. Bhumi seketika bangun, "gak usah bangun pak, saya tidur di kamar tamu saja, Oma hari ini tidak ada di rumah."


"Jangan membuat ku kesal!!! Jangan mambuat kegaduhan di rumah ini. Bu Marni itu orang kepercayaan nya Oma. Jadi apa kamu mau kalau dia ngomong yang tidak-tidak tentang kita pada Oma. Kamu tidur saja, gak usah banyak omong."


Ana yang tampak menahan air mata nya di depan Bhumi mendapat perlakuan yang sangat tidak pantas.Tanpa sadar air mata nya pun jatuh di balik selimut.


Besok aku harus biacara, jangan sampai aku gila gara-gara menghadapi orang gila seperti dia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2