My Exotic Wife

My Exotic Wife
Terlalu Berat


__ADS_3

Sirine ambulance berbunyi sangat menyayat hati, Juna berada dalam ambulan memegang erat jari jemari Ana. Bhumi yang tidak di ijinkan ikut dalam ambulance memacu mobil nya sangat cepat menuju rumah sakit.


Mia sudah berada di lobby rumah sakit menunggu kedatangan ambulance yang membawa Ana. Raut wajah Mia tampak sangat khawatir dia mondar mandir tanpa henti.


Mia segera berlari menghampiri ambulance di depan nya, membuka pintu ambulance dan membawa Ana ke IGD. Juna tetap mendampingi, dia tidak peduli walaupun baju nya berlumuran darah.


"Mi tolong selamatkan Ana." Juna terlihat kalut.


"Mi Ana dimana? apa dia baik-baik saja? tolong selamatkan dia," Bhumi yang datang dari belakang memburu Mia dengan pertanyaan.


Juna mendorong tubuh Bhumi, sampai terhempas ke tembok. Mia menahan lengan Juna supaya tidak terjadi keributan di tempat ini.


"Gak ada guna nya kalian berantem disini, semua sudah terjadi." Mia meninggalkan mereka masuk ke dalam menangani keadaan Ana.


Selang beberapa saat Mia kembali membawa berkas persetujuan tindakan yang harus di lakukan pada Ana.


"Bhumi aku mau minta persetujuan mu, Ana mengalami perdarahan hebat, bayi nya sudah tidak bisa tertolong lagi, kami harus melakukan kuretase segera." Mia menyerahkan berkas pada Bhumi.


Seperti tersambar petir, Bhumi tidak bisa menahan lagi air mata nya jatuh begitu saja. Bhumi mengabil berkas yang di bawa mia, dan segera menanda tangani nya.


"Lakukan yang terbaik, aku mau Ana selamat." Tangan Bhumi gemetar.

__ADS_1


Bhumi terduduk lemas, mengusap wajah nya beberapa kali. Dipikiran nya saat ini hanya ada Ana. Bhumi merasa sangat bersalah pada Ana, seharusnya dia tidak mengikuti permintaan Angel tadi sore. Ini semua tidak akan terjadi kalau Bhumi tidak sebodoh itu.


Beberapa jam berlalu akhirnya Mia datang membawa kabar. Kalau Ana sudah sadar dan bisa di pindahakan ke ruang perawatan.


Mia mendekati Bhumi dan menyampaikan pesan Ana. "Bhumi maaf kamu gak bisa masuk ke ruangan Ana. Dia saat ini tidak mau bertemu dengan mu."


"Penyesalan memang selalu datang terlambat." Juna menghampiri Bhumi kemudian melangkah pergi menuju ruang perawatan Ana.


Juna masuk ke ruangan Ana, melihat Ana yang msih lemas di atas tempat tidur. Air mata Ana tak bisa berhenti mengalir. Juna memegang tangan Ana, ingin menenangkan Ana tapi rasanya percuma Ana sangat terpukul atas kehilangan bayi nya.


"Aku kehilangan Anaku, ini semua salah ku Juna, aku tidak bisa menjaga diri ku sendiri. Sampai aku membiarkan dia pergi, aku hanya memilikinya tapi aku dengan egois membunuh nya. Juna tadi sore aku masih merasakan gerakan nya tapi sekarang kenapa dia menghilang?" Ana menangis sesenggukan.


"Tenang Ana, bayi mu sudah bahagia di atas bersama Tuhan. Iklaskan ya, kamu harus bisa melewati semua ini." Juna terus berusaha menenangkan Ana.


"Ana," Juna yang melihat Ana begitu depresi ikut meneteskan air mata nya.


Entah karena efek obat atau psikisnya yang sangat lelah, Ana tertidur dengan air mata yang masih mengalir. Juna menghapus air mata Ana dengan tissu. Juna memandang wajah Ana lekat, merasa sangat prihatin dengan nasib Ana.


Begitu berat kenyataan yang harus kamu hadapi.


Bhumi masih berdiri di depan ruangan Ana, dia ingin masuk menemui Ana tapi takut kondisi Ana tambah buruk karena melihat nya. Bhumi memberanikan diri masuk ke ruangan Ana, meminta kesempatan pada Juna agar bisa melihat Ana.

__ADS_1


"Ngapain kamu kesini? belum puas juga berkali kali nyakitin dia?" Juna sedikit memelankan suaranya tapi terdengar sangat emosi.


"Kasi aku kesempatan ngeliat Ana, aku tau aku salah tapi tolong biarkan aku masuk melihatnya sebentar saja." Bhumi memohon pada Juna.


Juna yang tidak tega melihat Bhumi seperti itu akhirnya memberi kesempatan Bhumi melihat keadaan Ana. Bhumi mendekati Ana yang sedang tertidur. Bhumi memegang tangan Ana mencium nya beberapa kali. Meminta maaf walaupun Ana tidak mendengarnya.


"Maafkan aku sayang, seharusnya aku tidak mengikuti kemauan Angel. Ini semua salahku kalau aku sedikit lebih tegas padanya ini tidak akan terjadi." Bhumi menangis dalam penyesalan.


Angel merasa sangat puas bisa membuat Ana celaka, ternyata jebakan nya berhasil. Bhumi tidak akan terikat lagi dengan Ana karena anak yang di kandung Ana sudah tidak ada lagi.


Angel berdiri di balkon apartemen nya, manikmani segelas anggur merah. Dia seperti menari di atas penderitaan orang lain. Angel sudah membayangkan dia akan menjadi nyonya dari pengusaha sukses menggantikan Ana.


"Sudah saatnya aku mempersiapkan diri ku menjadi wanita terkaya di negeri ini."


Angel bergumam sambil tertawa keras.


"Hanya aku wanita yang bisa mencintai mu sepenuh hati Bhumi." Angel melanjutkan kata-katanya.


Ponsel Angel berdering, dia menjawab dengan sedikit tersenyum.


"Tenang saja, segera akan aku lunasi, uang mu tidak berarti apa-apa ketika aku menikah dengan Bhumi." Setelah beberapa saat Angel menutup telpon nya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2