My Exotic Wife

My Exotic Wife
Hampir Saja Tertipu


__ADS_3

Keesokan harinya, Justin datang ke rumah sakit untuk menjemput Ana. Belakangan ini Justin memang sering menjemput Ana. Karena apartemen mereka juga berada di unit yang sama.


"Sudah lama menunggu?" Ana masuk ke dalam mobil Justin.


"Gak juga, sekitar 1 jam." Justin sangat sabar selalu menunggu Ana walaupun kadang bisa 2 jam berada di parkiran.


"Hmmmmm so sweet." Ana melihat Justin sambil tersenyum manja.Justin gemas melihat Ana, kemudian mengelus rambut Ana.


Justin melajukan mobil nya memecah langit yang sudah berubah jingga. Ana hari ini memilih pulang ke apartemen, badan nya serasa remuk seharian bergelut di ruang operasi.


"Justin ada yang mau aku katakan." Ana memulai obrolan dengan Justin.


"Katakan saja, kamu tidak perlu canggung seperti itu." Justin melirik Ana sambil menyetir.


"Nanti sampai di rumah aku akan mengatakan nya pada mu." Ana tersenyum melihat ke arah Justin.


Mereka berdua keluar dari lift, sambil melempar candaan. Terlihat wajah Ana yang sangat gembira tanpa beban. Justin mulai berani menggandeng tangan Ana. Ana hanya menurut saja karena memang dia akan menyatakan perasaan nya kepada Justin.


"Justin." Teriakan seorang perempuan membuyarkan tawa mereka.


"Jessy." Justin tampak terkejut melihat wanita berambut pirang itu. Ana yang melihat itu semua melepaskan tangan nya dari Justin.


Gadis itu berlari menghampiri Justin dan berhambur di pelukan nya. Ana hanya diam meliahat mereka berdua. Masih tetap bediri dan menunggu Justin mengatakan sesuatu. Justin mencoba melepaskan pelukan Jessy dari nya.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan mu, aku mencari mu di mension tapi mereka bilang kamu sementara tinggal di apartemen ini." Jessy sedikit manja sambil menatap Justin.


"Siapa dia?" Jessy melanjutkan kata-kata nya melihat ke arah Ana.


"Ana, kenalkan ini Jessy dia tunangan ku." Suara Justin terbata-bata menjelaskan pada Ana.


"Aku Ana, aku dan Justin tinggal bersebelahan di unit ini. Senang bertemu dengan mu." Ana menjabat tangan Jessy sambil tersenyum.


"Justin aku duluan ya." Ana melambaikan tangan nya pada Justin tak lupa dia tetap memasang senyum di bibirnya.


Justin hanya diam melihat Ana seperti itu, dia tidak tau harus bagaimana.


Ana menutup pintu apartemen nya, rasanya dia terlalu cepat ingin menerima perasaan Justin. Ternyata Justin telah membohongi nya selama ini. Beruntung Ana belum menyatakan perasaan nya. Ana sedikit merasa kecewa pada Justin, karena tidak mengatakan yang sebenarnya dari awal.


"Dasar playboy cap kadal loreng, bisa-bisanya dia bohong pada ku." Ana sedikit kesal dengan Justin.


Ponsel Ana berdering beberapa kali, terlihat panggilan dari Justin tapi Ana mengabaikan nya. Ana tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka.Ana melangkah kan kaki nya kebalkon, menatap langit pekat di atas sana.


"Ana, aku akan jelaskan semuanya." Suara Justin membuyarkan lamunan nya.


"Sudahlah Justin, aku tidak mau jadi orang ketiga di antara kalian." Ana melirik Justin.


"Tapi aku tidak mencintainya, kami hanya di jodohkan. Aku selama ini diam karena aku berusaha menerima nya tapi tidak bisa. Aku mencitai mu Ana." Justin berusaha menjelaskan pada Ana.

__ADS_1


"Bertahun-tahun kamu masih bilang tidak mencintainya, rasanya tidak adil bagi Jessy. Dan jangan bilang saat kamu tidur dengan nya itu hanya terpaksa." Ana tersenyum santai.


"Ana tadi kamu bilang akan mengatakan sesuatu pada ku?" Justin ingat dengan percakapan mereka di jalan tadi.


"Bukan apa-apa, lupakan saja. Justin aku penah berada di posisi Jessy, rasanya sangat sakit. Aku tidak mau menyakiti perempuan lain karena ke egoisan ku. Maafkan aku Justin aku tidak bisa menerima perasaan mu." Ana masuk ke dalam meninggalkan Justin.


Malam berganti pagi, Ana bersiap melakukan aktifitasnya. Ana membuka pintu, dia melihat Justin sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Ana hanya mengabaikan Justin dan melangkah kan kaki nya dengan cepat menuju lift.


"Ana aku mohon dengarkan penjelasan ku." Justin memegang tangan Ana erat.


"Justin sudah tidak ada yang perlu di jelaskan lagi. Aku sudah paham semua nya, jadi tolong jangan ganggu aku lagi." Ana menghempaskan tangan Justin kemudian meninggalkan nya masuk ke dalam lift. Justin hanya bisa memandang Ana sampai wajah nya hilang terhalang pintu lift.


Ana sampai di rumah sakit, dia menghempaskan tubuh nya di tempat duduk. Melewati pagi yang begitu menjengkelkan membuat nya sedikit haus. Ana menegak segelas air di hadapan nya.


"Bisa-bisa nya dia mendekati ku lagi, beruntung perasaan ku tak mudah menyukai orang lain. Kalau tidak bisa gawat." Ana bergumam di meja kerja nya sambil tertawa.


Seharian Ana berfikir, rasanya otaknya sangat sesak. Di satu sisi memikirkan peristiwa kemarin bersama Justin, di sisi lain memikirkan pekerjaan nya. Akhirnya Ana memutuskan pindah dari apartemen itu, agar tidak bertemu lagi dengan Justin.


Ana minta bantuan seorang teman untuk mencarikan nya tempat tinggal baru. Secepatnya dia ingin pindah dari tempat itu. Ana sudah tidak ingin berurusan dengan Justin lagi dan ingin menangkan diri tidak mau pusing memikirkan urusan percintaan payah lagi.


Ana memulai tinggal di tempat baru, tidak ada yang mengusiknya. Hari berganti begitu cepat, sebentar lagi Ana akan menyelesaikan pendidikan nya. Dia memutuskan akan kembali ke indonesia. Rasanya sudah sangat rindu dengan suasana macet di ibu kota. Rindu dengan makanan nya, rindu denga Mia dan pasti nya ingin menemui keponakan nya.


"Oma aku juga merindukan mu." Gumam Ana.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa di like ya, biar tambah semangat up nya. Terimakasi ^_^


__ADS_2