
Ana berlari di lorong Rumah Sakit air mata nya terus mengalir deras, bahkan dia tidak sempat mengganti piyama tadi. Yang ada di pikiran Ana hanya ingin sesegera mungkin melihat suami nya.
Ana terus berlari tidak mempedulikan siapapun. Kenapa lorong ini begitu panjang padahal kemarin-kemarin Ana selalu melewati lorong ini, kenapa saat ini begitu asing bagi nya.
Ana tiba di depan ruang operasi, disana sudah ada Roby, Oma, Drake, dan 2 orang bodyguard yang biasanya sering menemani Bhumi kemana pun dia pergi. Tapi kenapa semua lengkap disini, dan hanya Bhumi yang menjadi korban kecelakaan naas itu.
Ana segera menghampiri Oma dan jatuh di pelukan nya.
"Oma kenapa ini? katakan kalau Bhumi baik-baik saja? Ana tidak mau kehilangan Bhumi, dia belum menepati janji nya untuk pulang lebih awal hari ini, kenapa dia pulang dengan keadaan seperti ini?" Ana menangis tak henti di pelukan Oma.
Oma berusaha menenangkan Ana, Oma juga tidak bisa berkata apa-apa, cucu kesayangan nya sedang berjuang di meja operasi.
"Sayang kamu tenang ya, kasian bayi kamu nak, jangan seperti ini, kendalikan diri mu Ana," Oma mengingatkan Ana akan bayi yang di kandung nya.
Sesaat Ana lupa akan keadaan nya yang sedang hamil karena pikiran nya terlalu fokus pada suami nya.
Oma memapah Ana menuju tempat duduk, Ana menyandarkan kepala nya di bahu Oma. Terlalu berat bagi Ana menerima kenyataan ini, dia takut kalau sampai terjadi sesuatu pada Bhumi.
"Nona silakan," Roby memberi Ana satu botol air mineral.
"Roby kenapa kamu meninggalkan Bhumi, kenapa kamu tidak bersamanya?" Ana memburu Roby dengan pertanyaan sambil terus menangis.
Roby hanya diam tidak mampu berkata apa-apa hanya bisa meminta maaf.
"Maaf nona."
Flashback on
__ADS_1
Bhumi yang baru turun dari pesawat meminta Roby menghubungi anak buah nya untuk membawakan mobil sport nya, enatah apa yang dipikirnya nya, dia hanya ingin agar sampai di rumah dengan cepat.
"Maaf pak, ini sudah malam saya akan mengantar bapak pulang." Roby meyakinkan Bhumi seraya menolak perintah dari atasan nya.
"Kalau aku pulang bersamamu mungkin besok pagi baru sampai di rumah." Bhumi menolak sambil menyindir Roby.
"Biarkan aku pulang sendiri, aku ingin segera sampai di rumah." Bhumi tidak mau mendengar kata-kata Roby lagi dan langsung masuk ke dalam mobil.
Dasar keras kepala, kalau saja bisa akan saya ikat bapak di bagasi!!!
Roby naik ke mobil dengan 2 orang bodyguard dan kembali ke kantor membawa berkas yang besok harus Bhumi tandatangani.
Di dalam mobil ponsel Roby bedering, nomor yang tidak di kenal nya. Roby dengan segera menjawab nya.
"Maaf apa anda keluarga dari Bapak Bhumi Anggara Wijaya? saya dari kepolisian, Bapak Bhumi mengalami kecelakaan dan sudah dalam perjalanan ke Rumah Sakit."
Flashback off
Nona seadainya anda tau kalau pak Bhumi ingin sesegera mungkin menemui anda, maafkan saya nona tidak bisa menjaga pak Bhumi dengan baik.
3 jam sudah berlalu tapi dokter belum juga keluar dari ruang operasi. Ana dengan mata yang sudah bengkak karena tidak berhenti menangis masih setia menunggu kabar dari Bhumi.
Mia yang mendapat kabar dari Drake langsung datang, setidaknya dia bisa menenangkan sahabat nya saat ini dalam situasi sulit.
"Seharusnya lo gak usah datang Mi, ini bahkan sudah hampir pagi." Mia masih bisa merasa tidak enak dengan sahabatnya.
"An semua ini pasti berat banget bagi lo, lo yang sabar ya An." Ana kembali menangis di pelukan Mia.
__ADS_1
Akhirnya dokter keluar dari ruang operasi, dan mengatakan masa kritis Bhumi sudah bisa di lewati dan operasinya berjalan lancar. Bhumi sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan.
Semua yang mendengar itu mengucap syukur, dan bisa sedikit tenang. Hanya Ana yang masih terisak, semua ini masih seperti mimpi bagi Ana.
Mia dan Drake pamit pulang karena kondisi Bhumi saat ini sudah stabil dan Ana sudah bisa mengendalikan diri nya. Oma msih setia mendampingi Ana, Oma yang kasihan dengan kondisi Ana menyuruh Ana pulang agar bisa istirahat. Tapi Ana menolak karena dia ingin selalu berada di samping suaminya.
"Sayang, kamu sebaiknya pulang saja. Oma akan menemani Bhumi di sini." Oma mengelus kepala Ana menyuruh nya pulan.
"Tidak Oma, Ana mau menemani Bhumi disini sampai dia membuka mata nya." Ana tidak ingin meninggalkan suami nya satu detik pun.
Roby mengetuk pintu dan membuka nya, menghampiri Ana yang sedang duduk di samping tempat tidur Bhumi.
"Maaf nona, ini barang-barang yang ada di mobil pak Bhumi saat kecelakaan." Roby menyerahkan kotak hadiah yang masih terbungkus rapi.
"Apa ini Roby?" Ana bertanya pada Roby yang masih mematung di samping nya.
"Buka saja nona, pak Bhumi membawa itu untuk anda." Tangan Ana gemetar menerima kotak itu.
Roby berpamitan pergi meninggalkan ruangan itu begitu juga Oma yang memberi Ana ruang agar lebih tenang. Ana duduk di samping tempat tidur Bhumi memegang tangan nya erat,Ana membuka kotak dan menemukan sebuah pesan yang Bhumi tulis untuk nya. Tak sadar air mata Ana mengalir kembali membaca kata demi kata yang tertulis di kertas itu.
Kalung yang sangat cantik sayang, aku sudah menerima nya. Tapi sayang aku menerima nya bukan dari mu, seharusnya kalung ini kau pasangkan di leher ku saat ini.
"Bhumi bangunlah, aku sudah menunggu mu. Bukankah kamu berjanji akan segera pulang menemui ku?" Ana berbicara sambil mengelus rambut Bhumi yang masih tak sadarkan diri.
Sampai akhirnya Ana tertidur di samping Bhumi dan masih memegang tangan Bhumi erat.
Bersambung...
__ADS_1