
Ana merapikan tas nya sudah bersiap untuk pulang, tiba-tiba Kiara memanggilnya agak sedikit memaksa.
"Ana sini, jangan pulang dulu! Dokter spesialis bedah yang baru sudah datang."
Ana sedikit malas mengikuti langkah Kiara, Ana berdiri di belakang Kiara yang sedikit menutupi badannya yang lebih pendek dari Kiara. Ana mendengar suara yang tak asing, dia memusatkan pandangan nya pada dokter yang sedang berkenalan pada seluruh staff IGD.
"Adit..."
Ana sedikit bergumam, tidak percaya yang dia lihat di depan nya.
Dari sekian banyak Rumah sakit di negeri ini kenapa dia harus bekerja di sini?
Ana mencoba bersembunyi di belakang Kiara agar tidak terlihat oleh adit, sampai mereka bubar pun Ana mencoba menyelinap di kerumunan antara para staff. Ana berdiri di Lobby menunggu jemputan sopir, di sisi lain ada seorang laki-laki yang memperhatikan Ana, ya dia adalah Adit.
"Sekarang Ana lebih cantik," gumam Adit.
Ana naik ke sebuah mobil berwarna putih sama seperti mobil yang di pakai para artis ibu kota, Adit masih memeperhatikan Ana sampai bayangan mobil itu hilang.
Hp ana bergetar, sebuah pesan masuk dari Juna, Ana sedikit tersenyum.
Juna:
An km ada waktu gak? kita nonton yuk ada film baru hari ini.
Ana mengiyakan ajakan Juna, akhirnya Ana bisa pergi ke bioskop setelah sekian lama. Ana mengarahkan sopir ke sebuah mall yang sudah mereka sepakati.
"Haii," Ana melambaikan tangan ke arah Juna.
Juna membalas lambaian Ana dengan senyum yang sangat hangat. Mereka berdua pergi ke tempat yang di tuju, Ana bingung kenapa kursi yang lain masih kosong padahal film nya akan segera di putar.
"Juna kok cuma kita berdua, apa gak ada pengunjung lain?" Ana terlihat heran.
"Ini khusus untuk kamu An," Juna tersenyum lembut pada Ana.
Ini salah satu usaha Juna untuk mendekati Ana. Juna berjanji pada diri nya sendiri akan melakukan apapun untuk bisa memenangkan hati Ana walaupun harus menunggu Ana bercerai dari Bhumi.
__ADS_1
Ana sangat serius menikmati adegan demi adegan film yang sedang di putar. Berbeda dengan Juna yang dari tadi tidak ada bosan nya memandang wajah Ana, bukanya menonton film dia malah menonton wajah Ana.
"Sudah cukup lo ngeliatin istri gue," suara Bhumi menggema dari kursi belakang.
Konsentrasi Ana jadi buyar, dia melihat ke arah belakang, dan benar saja Bhumi sedang duduk di belakang, dan ada 3 orang lain nya sedang berdiri termasuk Roby. Juna yang mendengar suara Bhumi jadi kesal.
Kenapa orang ini selalu gangguin gue pas lagi berduaan sma Ana. Sial!!!
Ana masih diam di tempat duduk nya tidak melakukan apa-apa.
Kenapa Bhumi selalu mengganggu ku, dia mau apa sebenernya, tidak bisa liat orang senang sedikit saja apa!!!
"Ayo cepat bangun, kenapa masih diam saja,"
Bhumi berteriak pada Ana, tapi Juna memegang tangan Ana mencoba menahan Ana agar tidak beranjak dari tempat itu. Ana melepaskan tangan Juna dia takut kejadian di mall beberapa waktu lalu terulang kembali.
"Juna aku sebaiknya mengikuti perintah Bhumi, aku janji lain kali kita kesini lagi,"
Ana mencoba menenangkan hati Juna. Ana melambaikan tangan ke Juna berjalan menuju ke arah Bhumi. Mereka pergi meninggalkan studio yang film nya pun belum habis. Juna hanya bisa mengepalkan tangan nya kesal.
Bhumi bertanya pada Ana sambil berjalan menuju lobby mall, Ana yang berjalan di sebelah nya menjawab dengan semangat, ya kali aja si Bhumi cemburu.
"Seandainya kamu tidak datang mungkin dia sudah melamar ku," Ana melirik Bhumi kesal.
Bhumi hanya menatap Ana sambil menahan tawa.
"Kamu pulang saja duluan, aku mau balik ke kantor,"
Bhumi menyuruh Ana pulang di temani 2 pengawal. Bhumi tidak ingin Ana dekat dengan Juna, Bhumi selalu berusaha menghindari perasannya. Tapi dia juga tidak bisa melihat Ana dekat dengan laki-laki lain.
Trus dia tadi datang untuk apa???
Pengen rasanya aku mencekik mu Bhumi.
Ana masuk ke mobil di ikuti dengan mobil pengawal di belakang sudah seperti rombongan pejabat.
__ADS_1
Bhumi yang sedang menunggu Roby di parkiran melihat Angel bergandengan tangan bersama seorang laki-laki. Awal nya Bhumi tidak yakin itu Angel tapi Bhumi yang berada di dalam mobil dengan kaca riben yang gelap bisa membuat nya tidak terlihat. Bhumi terlihat emosi tapi dia berusaha menahan nya.
Berani-beraninya dia main di belakang ku.
Roby yang baru masuk ke dalam mobil langsung di bentak oleh bos nya.
"Apa saja kerjaan mu? mengawasi Angel saja kau tak bisa."
"Maaf pak, saya sudah mengumpulkan semua bukti nya, tapi saya masih menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkan pada bapak." Roby memberi alasan.
Sebenarnya Roby sudah tau dari dulu Angel sering menghianati Bhumi tapi Roby tidak berani memberitahu Bhumi karena pasti wanita ular itu akan membela diri dan membahayakan pekerjaan Roby. Bisa-bisa Roby di pecat karena pengaruh Angel. Sekarang Bhumi sudah melihat dengan mata kepala nya, jadi Roby tinggal mengeluarkan bukti-bukti lain yang tidak pernah Bhumi bayangkan.
"Bapak jadi balik ke kantor?" Roby tau bos nya itu sedang marah.
"Aku mau pulang saja."
Roby mengarahkan mobil menuju ke rumah. Bhumi tiba di rumah dengan muka sangat emosi. Bu Marni yang menyambut nya pun tidak di lihat. Roby pun pergi meninggalkan kediaman Bhumi, dia sudah mengantarkan bos nya dengan selamat sampai di rumah.
Bhumi membanting tas kantor nya, suara nya lumayan keras sampai menarik perhatian Ana yang berada di ruang ganti. Ana keluar dan melihat barang-barang Bhumi berserakan, hp nya pun tak luput dari amarah, casing entah dimana, batre terbang kemana, dan serpihan layar nya bertebaran dimana2.
Ana hanya melihat Bhumi, kemudian dia mengambil satu persatu barang yang telah Bhumi lemparkan tadi.
"Baru datang sudah marah-marah." Ana melirik Bhumi kesal.
Ana merapikan barang-barang Bhumi di meja, Ana melihat ke arah Bhumi tampak sangat frustasi, sedikit mengurut dahi nya.
"Bruk," Ana terjatuh di pangkuan Bhumi.
Bhumi memeluk pinggang Ana erat, Ana sedikit memberontak berusaha melepaskan diri. Tapi Bhumi memeluknya semakin erat.
"Sebentar saja, biarkan seperti ini." Bhumi meminta dengan suara pelan.
Kenapa lagi yang mulia yang angkuh ini? Apa perusahaan nya bangkrut sampai dia frustasi seperti ini??
Kenapa perasaan ini muncul lagi?
__ADS_1
Bersambung...