My Exotic Wife

My Exotic Wife
Mie Ayam


__ADS_3

Ana memasuki kedai mie ayam yang tepat berada di sebelah kampus nya dulu. Sebuah kedai mie ayam yang tidak begitu besar namun sangat bersih dari dulu tidak perna berubah. Sudah mulai sesak karena di penuhi oleh mahasiswa kampus sebelah. Makanan nya memang terjangkau untung kantong mahasiswa. beruntung Ana masih dapat tempat duduk.


"Haii bang," Ana tersenyum pada laki-laki paruh baya yang sedang sibuk menyiapkan beberapa mangkok mie ayam.


"Wah mbak Ana kan? yampun sudah lama sekali mbak, tumben datang kesini?" abang mie ayam tidak berhenti bertanya.


"Ia nih jauh-jauh datang kesini pengen makan mie ayam abang." Ana membenarkan posisi duduk nya dekat dengan tempat menyajikan mie biar ngobrol sama yang punya lebih leluasa.


"Sama siapa nih mbak? Kirain masih sama mas adit loh? wah kalau ingat dulu gak bakalan nyangka kalian bisa putus."


Yaampun gak usah di jelasin gitu juga kali bambang masa lalu gue. Itu muka si Bhumi sudah berubah tanpa ekspresi.


"Ini suami saya bang, iiaa mungkin gak jodoh sama adit," Ana mencoba tersenyum tapi pandangan Bhumi terus memperhatikan nya.


Munkin kalau bisa Bhumi udah memburu gue dengan pertanyaan, beruntung di sini rame, gue selamat.


Ana aku akan membuat perhitungan nanti dengan mu tentang masalah ini.


"Wah ganteng sekali ya mbak suami nya mirip artis korea," Abang mie ayam memuji Bhumi.


Seketika wajah Bhumi berubah ketika di puji oleh bang bambang penjual mie ayam yang suka nyinyir. Segerombolan gadis-gadis datang memasuki kedai itu, fokus mereka tertuju pada Bhumi. Suara mereka pun sampai kedengaran di telinga Ana, seperti biasa gadis-gadis itu terpesona melihat Bhumi.


Ana melihat Bhumi yang tetap cool sambil terus memegang tangan Ana erat tidak memperdulikan sekitarnya. Akhinya pesanan Ana datang, Bhumi terlihat bingung melihat mie ayam yang isi nya sangat banyak, hampir 1 mangkok penuh.


"Kenapa gak di makan?" Ana bertanya pada Bhumi yang masih terlihat bingung.


"Sayang gimana cara nya makan ini?" Bhumi mencoba mengaduk-aduk nya dengan sendok.


Yampun apa dia memang tidak pernah makan di pinggir jalan seperti ini?


Ana menambahkan saos dan kecap tidak lupa sambal ke mangkok Bhumi, agar rasanya tambah enak.


"Coba dulu?" Ana menyuapi sedikit mie untuk Bhumi takut dia tidak suka.


"Makanan apa ini?" Ana sedikit kaget dengan pertanyaan Bhumi.


"Enak sekali," Bhumi melanjutkan jata-katanya dan segera mengambil mangkok nya memakan mie dengan lahap.


Aku yang pengen makan ini kenapa jadi dia yang kesehetanan.


Sudah mangkok ke 3 yang sedang di santap Bhumi sekarang. Ana 1 mangkok pun masih sangat susah dia habiskan.


"Sayang apa perut mu tidak terlalu kenyang makan mie samapai 3 mangkok?" Ana melihat Bhumi masih sibuk dengan mie nya. Tidak sempat menjawab pertnyaan Ana.


"Kenapa makanan ini enak sekali," Bhumi akhirnya ngomong setelah makanan nya habis.

__ADS_1


"Aku kira kamu masih kerasukan setan dari tadi diam aja sambil makan haha." Ana terkekeh melihat suami nya.


Mereka berdua sudah menghabiskan mie ayam terenak menurut Ana, maksudnya menurut Bhumi karena dia yang paling banyak makan dari tadi.


"Bang berapa?" Ana memanggil abang mie ayam menanyakan tagihan makanan nya.


"80rb mbak?" si abang menunjukan kalkulator nya setelah menghitung.


Bhumi sangat kaget medengar harga mie yang dia makan sangat murah, apa makanan di pinggir jalan seperti ini begitu murah, Bhumi mengambil uang merah 5 lembar dari dompetnya.


"Ini bang," Bhumi menyerahkan uang nya.


"80rb mas, kalau ini kebanyakan," si abang melihat uang yang di sodorkan oleh Bhumi.


"Sisa nya buat traktir anak- anak itu." Bhumi menunjuk ke arah mahasiswi yang


sedari tadi melihat nya kagum.


Ana tersenyum kecut melihat tingkah laku suami nya yang makin hari makin aneh saja.


Ternyata si Tuan Bhumi ini gila pujian jg hemmm.


Bhumi dan Ana meninggalkan kedai mie ayam bang bambang menyusuri kota kenangan Ana waktu kuliah dulu.


"Sekarang kita mau kemana sayang?" Bhumi memegang tangan Ana sambil mencium nya.


"Tidak tau, dari kecil aku sudah di luar negeri, aku baru balik ke sini sekitar 7 tahun yang lalu, kamu pikir aku sempat liburan? di pikiran ku hanya ada bisnis dan bisnis."


Apa waktu mu hanya di habiskan dengan urusan bisnis saja sampai tidak sempat untuk menikmati hidup mu.


"Oke, kita mulai dari mana ya? hari ini aku akan mengajakmu jalan-jalan," Ana tersenyum ceria berharap Bhumi akan melupakan sedikit urusan kantornya.


Mereka memulai perjalanan ke berbagai tempat, diantaranya tempat-tempat favorit Ana dulu saat masih tinggal di kota ini. Tentu sudah banyak yang berubah, sudah begitu lama Ana tidak pernah datang kesini.


Matahari sudah kembali ke peraduan nya, hari pun sudah mulai gelap, tapi mereka malah masih asik duduk di pinggir pantai menikmati angin yang sedikit kencang. Rasanya tidak ada ketakutan akan masuk angin, selama pabrik tolak miskin masih berdiri, ups!!!


Bhumi tiba-tiba bersin berkali-kali, mungkin angin sudah masuk dan bersarang di badan nya. Ana mengajak Bhumi masuk ke mobil dan menyudahi petualangan mereka hari ini. Sampai di mobil malah tambah parah, bukanya keluhan nya makin berkurang.


Mereka memutuskan untuk menginap saja karen tidak mungkin Bhumi menyetir dengan keadaan seperti itu. Mereka meninggalkan pantai menuju sebuah hotel bintang 5. Di mobil Bhumi menghubungi sesorang, pembicaraan merekapun tidak begitu lama, Ana hanya mendengar ya ya saja.


Tiba di Lobby Hotel beberapa orang berdiri berjejer, salah satu nya seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan setelan jas lengkap. Seorang pelayan dengan sigap segera mambukakan pintu mobil, memepersilahkan Ana keluar sama hal nya seperti Bhumi.


Laki-laki itu mendekati Bhumi dan memberikan salam pada Bhumi dengan sangat hormat dan sopan.


"Selamat datang Pak Bhumi, saya akan menyiapkan kamar untuk anda."

__ADS_1


Ana hanya melihat tidak berkomentar apa-apa. Tau situasi ini dia tidak harus bertanya.


"Terimakasih pak Indra." Bhumi menjawab singkat.


Siapa sebenarnya suamiku ini?


Bhumi menggandeng tangan Ana mengikuti bapak tadi dan di ikuti beberapa orang pelayan di belakang nya. Sampai lah di lantai paling atas bangunan ini. Mereka berdua di persilakan masuk ke kamar yang begitu luas, sepertinya ini kamar yang paling mahal di hotel ini.


"Kalau ada yang bapak perlukan bisa langsung menghubungi saya,"


"Tolong hubungi Roby besok pagi suruh dia bawakan saya dan istri saya baju ganti," Bhumi seperti sudah familiar dengan bapak itu.


"Baik, sialakan istirahat pak."


"Ooh ya tolong siapkan makanan untuk istri saya karena sewaktu-waktu dia bisa lapar." Bhumi sudah sangat tau kebisaan Ana sekarang, sampai berpesan untuk menyiapkan makanan. Pak Indra pun segera meninggalkan kamar mereka.


Ana yang melihat pemandangan jauh di luar sangat kagum, ada hotel sebagus ini, padahal dulu semasih dia tinggal di sini hotel ini sepertinya belum di bangun.


"Apa yang kamu lihat sayang?" Bhumi memeluk Ana dari belakang.


"Kota ini terlihat indah sekali di lihat dari tempat ini."


"Apa kamu suka?" Bhumi mencium ujung kepala Ana.


"Baiklah Tuan Bhumi, kenapa kamu sangat istimewa di tempat ini? apa kamu seorang pelanggan tetap?" Ana membalikan badan nya memandang wajah Bhumi.


"Haha buat apa aku jadi pelanggan kalau aku pemiliknya." Bhumi terkekeh melihat Ana yang curiga pada nya.


"Oke, oke, ternyata suami ku memang kaya raya, oh betapa beruntung nya diriku ini." Ana melirik Bhumi kesal.


Ana meninggalkan Bhumi ke kamar mandi, tapi sebelum Ana menutup pintu. Bhumi memaksa ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"Kamu mau mandi duluan? kalau begitu aku keluar dulu." Ana ingin melangkah keluar tapi Bhumi menarik tangan nya sampai jatuh ke pelukan Bhumi.


"Aku akan memberikan hukuman untuk mu," Bhumi memandang lekat mata coklat Ana.


"Hukuman?" Ana terlihat bingung, merasa tidak pernah melakukan kesalahan.


"Apa kamu lupa di kedai mie ayam tadi, kamu terus menyebut-nyebut nama dokter itu." Bhumi mulai merajuk.


Hanya mencari alasan biar aku yang telihat salah, haruskan aku racun manusia ini? setelah iti aku akan jadi janda kaya haha.


"Aku min...," kata-kata Ana terputus ketika bibir Bhumi melekat di bibir Ana.


Bhumi mulai melancarkan aksinya dan Ana pun menikmati setiap jengkal sentuhan Bhumi di tubuh nya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2