
Ketukan pintu terdengar 3 kali, Roby masuk ke ruangan Bhumi dengan langkah terburu-buru membawa dokumen dalam amplop berwarna coklat. Roby mendekat ke meja kerja Bhumi.
"Pak ini dokumen yang anda minta, nanti siang anda akan menandatangani perjanjian dengan Mahaabadi group."
"Apa pemilik nya akan hadir? dari awal kita mengadakan kerjasama dengan mereka, yang mewakili hanya sekertarisnya." Bhumi melirik ke arah Roby.
"Sekertarisnya mengatakan beliau akan hadir nanti pak."
"Oke kamu boleh pergi, persiapkan semua nya." Bhumi memberi perintah pada Roby.
Bhumi duduk di meja paling depan di dampingi Roby, beserta beberapa petinggi perusahaan baik dari pihak Bhumi maupun pihak yang akan bekerjasama dengan nya.
Acara sudah di mulai namun pemimpin Mahaabadi Group belum juga terlihat kedatangan nya. Bhumi sangat penasaran perusahaan besar dan sudah memiliki banyak cabang di berbagai negara sampai sekarangpun dia tidak tau wajah dari pemimpin perusahaan itu.
Mahaabadi Group awalnya perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik kemudian berkembang begitu pesat. Dengan cepat merambah di bidang lain, saat ini Mahaabadi Group tercatat sebagai perusahaan pengembang di sektor properti terbesar di negara ini.
Seketika seisi gedung hening, beberapa hentakan kaki terdengar saling bersautan. Diantara barisan laki-laki berjas hitam, terlihat seorang wanita paruh baya berjalan di depan mereka. Tiara Mahaputra adalah pemimpin perusahaan Mahaabadi Group. Perusahaan yang dulu nya di pimpin oleh ayah nya kemudian di ambil alih sekarang menjadi sangat sukses berkat tangan dingin nya.
"Selamat siang nyonya," Bhumi mengulurkan tangan nya pada Tiara.
"Selamat siang." Tiara menjawab singkat kemudian duduk di meja yang sama.
Perjanjian kerjasama mulai di bahas, Bhumi dengan senyum sumringah bisa mendapatkan kesemptan bekerjasama dengan perusahaan yang sudah sangat mendunia. Tidak pernah ada senyum di wajah nyonya Tiara. Perempuan ini telihat begitu dingin, dan sangat hati-hati, usianya sudah tidak muda lagi namum terlihat masih sangat cantik.
Mereka berjabat tangan mengakhiri perjanjian yang telah di sepakati.
"Saya harap kesepakatan ini menguntungkan untuk kita bersama." Nyonya Tiara melihat tajam ke arah Bhumi.
"Tentu saja nyonya, saya tidak akan mengecewakan anda." Bhumi dengan senyum merona membalas kata-kata Tiara.
***
Ana mengehmpaskan tubuh nya di atas sofa, hari ini begitu melelahkan. Ana kemudian memejamkan mata nya, mungkin bersantai beberapa menit bisa mengurangi lelah nya. Namun selalu saja ada yang menggangu, Ana beranjak dari posisi nya kemudian melangkah menuju arah pintu entah siapa yang bertamu tengah malam seperti ini.
Seorang laki-laki tersenyum ketika Ana membuka pintu untuk nya. "Apa aku boleh masuk?"
"Kamu tau ini jam berapa? Waktu untuk bertamu sudah habis." Ana masih berdiri di tengah-tengah pintu tidak mempersilakan Bhumi untuk masuk kedalam.
"Apa ada aturan, kalau ingin melihat istri sendiri harus sesuai waktu yang sudah di tentukan?" Bhumi menaikkan sebelah alisnya.
"Istri? oh aku lupa masih memiliki suami." Ana memalingkan wajah nya kesal.
"Aku datang hanya ingin melihat mu, tolong jangan tolak aku." Bhumi merendahkan intonasi suaranya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah makan? aku membawa beberapa makanan untuk kita berdua." Bhumi menunjukan beberapa paper bag yang dia bawa.
Membawa makanan? apa pelayan nya di rumah sudah tidak bekerja lagi? sampai-sampai dia datang kesini hanya untuk makan. Ana terdiam sejenak.
"Masuklah." Bhumi tersenyum mengikuti Ana dari belakang.
"Apa seorang pemimpin perusahaan besar seperti mu harus lupa waktu makan seperti ini?" Ana membuka bungkus makanan yang di bawa Bhumi kemudian menghidangkan nya.
"Sepertinya aku butuh seseorang yang selalu menemaniku." Bhumi melihat ke arah Ana sambil menyantap makana nya.
"Carilah istri agar kamu tidak menyedihkan seperti ini." Ana memandang mata Bhumi tajam.
"Aku sudah memiliki istri yang sangat aku cintai, buat apa harus mencari lagi."
"Omong kosong." Padahal dalam hati Ana sangat senang namum masih jual mahal di depan Bhumi.
"Beri aku kesempatan sekali lagi." Bhumi menggemgam tangan Ana erat. Mata mereka saling terpaut satu sama lain. Kini Bhumi sudah beranjak dari tempat duduk nya mendekat ke arah Ana.
"Aku aku akan memikirkan nya." Ana memalingkan wajahnya yang merah merona.
"Aku akan mencuci piring."
Bhumi tersenyum melihat Ana yang salah tingkah karena nya.
"Ana kemarilah." Bhumi memanggil Ana yang masih sibuk merapikan dapur.
"Kenapa? apa kamu mau pulang? ya sudah pulang saja sana, aku juga sudah mau tidur." Ana menyuruh Bhumi cepat-cepat pergi.
"Duduk sebentar disini." Bhumi menarik tangan Ana sampai jatuh teduduk di sampingnya.
"Ini untuk mu, bukalah." Bhumi menyerahkan amplop coklat pada Ana.
"Apa ini? Surat gugatan? oh tak ku sangka ternyata secepat itu kamu berubah fikiran." Ana melihat Bhumi sambil menaikan salah satu alisnya. Ana kemudian membuka amplop coklat di tangan nya.
"Apa ini?" Ana mengeluarkan isi amplop, telihat bingung.
"Itu adalah sertifikat apartement yang kamu tempati saat ini, aku sudah membeli nya dari Juna. Jadi apartemen ini sekarang sah menjadi milik mu. Aku tidak mau istriku bekerja sepanjang hidup nya untuk melunasi apartemen ini." Bhumi terkekeh menggoda Ana.
"Maaf aku tidak bisa menerima nya." Ana mengembalikan amplop coklat itu pada Bhumi kemudian bangun dari tampat duduk nya.
"Jangan menolak, atau aku." Bhumi menarik tangan Ana sampai terjatuh di pangkuan nya.
"Atau apa?" Ana menggerak-gerakan tubuh agar terlepas dari cengkraman tangan Bhumi.
__ADS_1
"Aku akan mencium mu haha." Bhumi terkekeh kembali menggoda Ana.
"Jangan macam-macam." Ana memberi peringatan sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Bhumi.
"Lepaskan aku." Ana memekik sambil melototkan mata nya.
"Kalau kamu menerima sertifikat ini, aku akan melepaskanmu." Bhumi tersenyum genit menggoda Ana kembali.
"Huh dosa apa yang aku lakukan di kehidupan terdahulu samapi bertemu dengan laki-laki aneh sepertimu." Ana memalingkan wajah nya kesal.
"Baiklah aku akan menerima nya, tapi ada satu syarat."
"Syarat nya apa?" Bhumi dengan segera menyambar kata-kata Ana.
"Kamu tidak boleh datang seenaknya tanpa persetujuan ku." Ana mendengus kesal.
"Aku bahkan tidak boleh datang ke apartemen yang sudah ku beli? apa kamu akan membawa laki-laki lain kesini haha. Ternyata kamu licik juga nyonya Ana Wijaya." Bhumi mengeratkan pelukan nya di pinggang Ana.
"Ya aku akan mencari laki-laki yang lebih kaya dari mu."
"Aku lah pria tampan terkaya di negara ini versi majalan forbes." Bhumi dari tadi seakan tidak berhenti menggoda Ana.
"Lepaskan aku sekarang." Ana kembali meneriaki Bhumi.
"Baiklah Nyonya Wijaya." Bhumi melepaskan pelukan nya, dan dengan segera Ana melompat dari pangkuan Bhumi.
"Kamu boleh pergi sekarang." Ana mengusir Bhumi dari apartemen nya.
"Aku akan menginap disini, kita ini pasangan suami istri apa salah nya aku tidur di apartemen ku sendiri." Bhumi memasang wajah memelas.
"Ya sudah terserah kamu saja, jangan coba-coba masuk ke kamar ku. Terserah kamu mau tidur dimana." Ana pergi meninggalkan Bhumi yang tengah duduk di sofa.
Jantung Ana rasanya mau melompat dari rongga dada nya. Perasaan yang dulu hilang kini timbul kembali, rasa deg-degan kala melihat orang yang sangat ia cintai. Perlahan Ana kembali membuka hati nya untuk Bhumi.
Aku akan memberikan mu kesempatan satu kali lagi. Ana tersenyum di balik selimut yang membenamkan wajah nya.
Bersambung.
Maaf baru bisa up, semoga kalian gak pernah bosen nungguin karen up nya lama. Saya pasti up kalau sudah ada kesempatan, akhir-akhir ini di tempat kerja sangat padat, bahkan untuk istrhat makan saja tidak bisa karena harus memakai apd level 3.
Maaf curhat sedikit haha.
Selamat membaca semoga gak lupa sama cerita sebelumnya karena kelamaan up nya haha.
__ADS_1
Terimakasih ^_^