
Plaakkk.... tangan Ana mendarat di pipi Bhumi.
"Saya tidak menyangka seorang pimpinan perusahaan yang sangat besar seperti anda bisa berpikiran saperti itu, sungguh sangat picik. Asalkan anda tahu saya tidak pernah tidur dengan sipapun kecuali dengan anda."
"Maaf maksud saya tidak seperti itu," Bhumi memberikan penjelasan.
"Rasanya saya memang salah datang mencari anda, lebih tepatnya meminta pertanggung jawaban anda. Maaf apabila saya menganggu kesibukan anda."
Ana berlari keluar ruangan Bhumi dengan menahan tangis nya.
Bhumi tampak masih bingung dengan pernyataan Ana tadi. Bahkan dia pun masih samar mengingat nama gadis itu. Bhumi mengurut pelipis nya, kejadian ini sungguh mendadak dan di luar dugaan Bhumi.
Bhumi belum siap seandinya dia harus menikah dengan Ana, karena Bhumi masih menunggu seseorang yang ia cintai.
Ana yang sudah berada di kos masih berusaha menerima kenyataan bahwa ini akan baik-baik saja, Ana masih terngiang perkataan Bhumi yang menyuruh nya untuk aborsi.
"Huhhh....," Ana hanya menghela nafas.
Ana mengelus perut nya, "kenapa kamu hadir di saat yang tidak tepat."
Ana semakin frustasi, dia takut apa yang akan dia jelaskan pada ibu nya. Semakin dipikirkan semakin kalut. Ana sama sekali tidak ingin melalukan aborsi, itu adalah tindakan melanggar hukum dan Ana tidak mau melakukan perbuatan dosa.
Bhumi masih kepikiran dengan Ana, ingin rasanya dia menghungi Ana tapi Bhumi sama sekali tidak memiliki contact Ana.
"Sial, dimana aku harus mencari gadis itu, bahkah tadi siang aku belum sempat meminta nomer Hp nya."
Bhumi masih berpikir apakah benar itu anaknya, rasa tak percayanya lebih menguasai pikiran di bandingan dengan rasa tanggung jawab nya.
Seminggu telah berlalu, Ana tidak pernah mencari Bhumi lagi, dia bertekad akan mengurus anak nya sendirian, walaupun berat tapi Ana tidak mungkin melakukan hal yang tidak benar apa lagi melanggar hukum.
Ana sudah bisa menerima dengan keadaan nya, dia sudah kembali menjadi gadis yang ceria, di dampingi oleh Mia yang selalu memberi semangat pada sahabat nya.
Suara ambulace semakin mendekat, Ana berlari ke lobby dengan beberapa perawat, Ana menunggu pasien kecelakaan rujukan Rumah sakit lain. Ketika akan di pindahkan ke bed pasien, tiba-tiba pasien itu mengalami henti nafas dan henti jantung, reflek Ana naik ke atas bed pasien dan melakukan CPR, di bantu perawat yang mendorong bed pasien. Ana melewati lorong di antara kerumunan orang berdasi dan berjas rapi, tapi Ana tidak mempedulikan mereka. Keadaan ini teralalu darurat.
Di balik kerumunan itu ada seseorang yang memperhatikan Ana, ternyata pemilik Rumah sakit sedang melakukan kunjungan, orang itu tak lain adalah Bhumi.
Akhinya Bhumi mendapat sedikit informasi tentang Ana, melalui direktur Rumah sakit.
Ternyata gadis itu seorang dokter, pantas saja dia menolak saat aku mengajukan pilihan untuk aborsi. Setidaknya aku tau dimana keberadaan mu sekarang.
Ana merasa lega karena pasien itu bisa di selamatkan dan sudah berada di ruang operasi, dengan jas dan baju ana yang terkena darah, Ana meminta ijin untuk pulang duluan.
__ADS_1
Bhumi melihat Ana naik ojek online, dan meminta Roby mengikutinya.
"Rob ikutin motor itu?"
"Baik pak, tapi kenapa bapak ngikutin ojek? bapak mau jdi driver ojek online?"
"Apa aku menyuruh mu untuk bertanya?" Bhumi mencoba memberi alasan, agar dia tidak ketauan mengikuti Ana.
Ana berhenti di sebuah rumah kos, dan masuk ke dalam.
Jadi dia tinggal disini, gadis yang sangat sederhana, ketika aku menawarkan uang yang cukup banyak tapi dia tidak tergoda.
Bhumi semakin penasaran pada Ana.
"Rob coba kamu cari tau tentang gadis ini?" Bhumi memberikan sebuah foto pada Roby, entah dari mana dia dapatkan.
Bukankah gadis ini yang tempo hari datang ke kantor? ada hubungan apa dengan bos?
Tanpa bertanya lagi Roby mengiyakan permitaan dari bos nya karena apabila dia bertanya mungkin ada suatu benda yang akan melayang ke kepalanya.
"Maaf pak ini yang bapak minta," Roby menyerahkan amplop coklat berisi semua informasi tentang Ana.
"Cepat juga kamu Rob, memang gak pernah memgecewakan."
"Ya kamu boleh keluar, sambil meraih amplop coklat di atas meja Bhumi menyuruh Roby untuk keluar ruangannya.
Tumben si bos main rahasia gitu, siapakah gadis itu sebenarnya? Roby masih bingung.
Bhumi tampak serius membaca satu persatu informasi tentang Ana termasuk mantan pacar Ana. Ya mungkin Bhumi masih penasaran anak yang di kandung Ana bukan anaknya. Tapi itu semua di patahkan, ada beberapa informasi yang menyatakan bahwa Ana tidak pernah melakukan hal yang tidak pantas dengan mantan sebelum nya. Bhumi semakin bingung dibuatnya.
"Huhhh haruskan aku menemui gadis itu?"
gumam Bhumi sambil memegang kepalanya.
Hp Ana terdengar berdering berkali-kali tapi Ana tidak sempat menjawab karena sedang memeriksa pasien. Akhirnya Ana melihat beberapa panggilan tidak terjawab dengan nomor yang tidak di kenal. Ana mencoba menghubungi kembali nomor tersebut.
"Halo , maaf apa anda tadi menelepon ke nomor ini?
"Oh ia nona saya tadi beberapa kali menelepon anda," terdengar suara laki laki di seberang.
"Maaf anda siapa ya? dan mencari siapa?" sambung Ana.
__ADS_1
"Oh ya hampir lupa, saya Roby sekertaris pak Bhumi saya di perintahkan untuk membuat janji dengan anda,"
"Ok, baiklah saya akan datang." Ana menyudahi pembicaraan tersebut.
Ana masih terdiam terlalu banyak yang dipikirkan dan terlalu banyak pertanyaan yang ada di kepala nya.
Ah sudahlah mungkin aku harus menemui nya, agar masalah ini cepat selesai.
Ana mengambil tas dan jas nya, dengan langkah lemas menuju arah parkir. Taxi yang di pesan Ana sudah menunggu, untuk mengantat Ana ke tmpat yang di intruksikan oleh Roby.
Ana terlihat di sambut oleh seorang pelayan laki-laki.
"Maaf apakah anda nona Ana?" belum sempat Ana menjawab dia di persilakan masuk ke ruang VVIP sudah terlihat 2 orang laki-laki menunggu nya, yang satu berdiri yang satu nya duduk.
Duh males banget sebenarnya ketemu sama nie orek tempe, masih sakit hati sama kata-kata tempo hari yang dia ucapkan.
"Silakan duduk nona," pelayan itu menarik kursi untuk Ana.
"Oh iia makasih."
Ana melihat smua sudah ada di meja, gak perlu pesan lagi yah. Ya wajar lah horang kaya mah bebas.
"Maaf nona Ana, pak Bhumi mau bicara dengan anda."
"Silakan saja," Ana tersenyum.
Yaampun nie orang mau bicara aja pake di wakilin, udah kayak presiden aja punya jubir.
Yaampun senyum gadis ini kenapa begitu manis. Roby sepertinya kepincut dengan senyum Ana.
"Ehem, saya minta maaf atas kejadian tempo hari. Saya akan bertanggung jawab atas kehamilan mu. Jadi kita akan menikah."
Hahh hamil? kapan si bos menghamili anak gadis orang? tertnyata jago juga ya, pikir Roby.
"Roby akan mengatur semua nya termasuk kontrak dan perjanjian pra nikah kita, nanti kamu akan saya kenalkan pada keluarga saya."
"Jangan coba coba menolak atau kabur kemanapun kamu akan saya temukan."
"Ini menyakut anak yang ada di dalam perut mu."
Begitu tegas perkataan laki-laki itu, seperti memang hanya ada keterpaksaan di balik smua ini, tapi Ana tidak bisa melakukan apa pun selain mengiyakan permintaan Bhumi.
__ADS_1
"Baik pak," Ana tersenyum kembali tanpa ada keraguan di hati nya. Walaupun dalam hati Ana sangat sakit tapi sudah dikahin saja Ana sudah bersyukur, setidaknya dia tidak mengecewakan ibu nya.
Bersambung...